.
Belajar dari Para Penulis Produktif
Oleh : Cahyadi Takariawan
“Trollope wrote for three hours every morning from 5am – 8am, and then went to work. He paid a servant £5 extra a year to wake him up with a cup of coffee” –Nicole Bianchi, 2016.
.
Anthony Trollope adalah seorang novelis produktif. Ia dikenal memiliki kemampuan menulis dengan kecepatan yang luar biasa. Novel pertamanya terbit pada tahun 1847. Pada kurun masa 38 tahun berikutnya, ia menerbitkan 47 novel, 18 karya nonfiksi, 12 cerita pendek, 2 drama, dan berbagai artikel.
Pada beberapa postingan sebelumnya, sudah kita bahas tips produktif dari Anthony Trollope. Kali ini saya tambahkan lagi tips produktif menulis dan Trollope. Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.
Pandai Memilih Waktu untuk Menulis Harian
“Trollope had to find several hours of free time that he could devote to writing. Because of the long hours his job demanded, he realized that he would only be able to find time to write before he headed off to work” –Nicole Bianchi, 2016.
Ritme hidup setiap manusia tentu saja berbeda-beda. Demikian pula dengan kegiatan harian, tidak akan sama antara satu orang dengan orang lainnya. Di antara pelajaran penting dari produktivitas menulis Trollope adalah pandai memilih waktu untuk rutinitas menulis harian.
Ia memiliki cara yang unik untuk bisa bangun tepat waktu. Trollope rela membayar tips tambahan kepada seorang pelayan, dengan tugas pokok membangunkannya di waktu pagi dengan secangkir kopi. Cara ini terbukti efektif untuknya. Ia bisa bangun tepat waktu dan mulai menulis.
Nicole Bianchi (2016) menyatakan, Trollope harus menemukan slot waktu beberapa jam yang bisa dia curahkan untuk menulis. “Ia memiliki tuntutan kerja yang memerlukan waktu panjang, sepenuhnya sadar bahwa ia hanya akan memiliki waktu menulis sebelum berangkat kerja”, ujar Bianchi.
The Trollope Society melaporkan, “Trollope menulis selama tiga jam setiap pagi dari pukul 5 hingga 8 pagi, dan kemudian pergi bekerja. Ia membayar £5 ekstra dalam setahun kepada seorang pembantu, untuk membangunkannya di pagi hari dengan secangkir kopi.”
Dalam otobiografinya, Trollope mengamati bahwa pembantu itu “tidak pernah terlambat membuatkan kopi”. Maka Trollope memberikan apresiasi yang tinggi kepadanya. “Saya tidak tahu bahwa saya seharusnya tidak merasa bahwa saya berhutang lebih banyak padanya daripada orang lain, atas kesuksesan yang saya miliki. Mulai jam itu saya bisa menyelesaikan karya sastra saya sebelum saya berpakaian untuk sarapan,” ujar Trollope.
“Many writers swear by waking up early in the morning and getting to their writing first thing before anything else on their schedules. This may not work for everyone, but what Trollope did next is something that any writer can adopt into his or her daily routine” –Nicole Bianchi, 2016.
Bianchi menuturkan, banyak penulis berjanji akan bangun pagi-pagi dan mulai menulis terlebih dahulu sebelum hal lain dalam jadwal mereka. Ini mungkin berhasil untuk sebagian orang, namun tidak bisa berlaku untuk orang lain. Tetapi langkah-langkah Trollope selanjutnya, menurut Bianchi, bisa menjadi sesuatu yang dapat diadopsi oleh penulis manapun ke dalam rutinitas hariannya.
Strategi Penanda Waktu
“Trollope wanted to make sure that none of those three precious hours was wasted. He wanted to ensure that he would be writing continuously so that he wouldn’t be spending time “nibbling his pen, and gazing at the wall before him, till he shall have found the words with which he wants to express his ideas” –Nicole Bianchi, 2016.
Setelah berhasil bangun pagi dengan aroma kopi yang dibuatkan seorang pembantu, Trollope ingin memastikan bahwa tidak satu bagianpun dari tiga jam berharga itu yang terbuang sia-sia. Menurut Bianchi, Trollope ingin memastikan bahwa ia menulis terus menerus sehingga tidak akan menghabiskan waktu untuk “menggigit pena sambil menatap dinding, sampai menemukan kata-kata untuk mengekspresikan ide-idenya.”
Apa solusi yang dipilih Trollope untuk keperluan ini? Ternyata adalah sebuah arloji saku. Ya benar, sebuah penanda waktu yang berbentuk arloji saku. Trollope akan membaca naskah selama setengah jam. Kemudian ia mulai menulis. “Saya menemukan bahwa 250 kata telah datang secara teratur seperti arloji saya”, ujar Trollope.
Ya, tiap limabelas menit, ia mampu menulis 250 kata. Ia sangat cermat dalam hitungan waktu, karena ia harus segera bersiap berangkat ke tempat kerja. Sebuah kecermatan yang luar biasa.
“It had at this time become my custom,—and it still is my custom, though of late I have become a little lenient to myself, —to write with my watch before me, and to require from myself 250 words every quarter of an hour. I have found that the 250 words have been forthcoming as regularly as my watch went” – Anthony Trollope.
Menurut Bianchi, cara menulis Trollope yang tepat waktu adalah kunci untuk produktivitas menulisnya. “Pembagian waktu seperti ini memungkinkan saya untuk menghasilkan lebih dari sepuluh halaman novel biasa sehari, dan jika dipertahankan selama sepuluh bulan, akan menghasilkan tiga novel masing-masing tiga volume dalam setahun”, ungkap Trollope.
Bagaimana dengan Anda? Selamat menulis, selamat menikmati produktivitas harian Anda.
Bahan Bacaan
James Clear, The 15-Minute Routine Anthony Trollope Used to Write 40+ Books, https://jamesclear.com
Maria Popova, Anthony Trollope’s Witty and Wise Advice on How to Be a Successful Writer, https://www.themarginalian.org, 24 April 2014
Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com/
Nicole Bianchi, How to Supercharge Your Writing Productivity: Anthony Trollope’s Strategy for Writing 45+ Books, https://nicolebianchi.com, 26 Februari 2016
Victoria Blake, Writing Tips form a Trollope! https://victoriablakewriter.wordpress.com, 3 November 2014
