19 September 2026

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Trollope’s timed writing strategy was so amazingly effective because he committed to turning off all distractions during that time period. He forced himself to concentrate on only the ticking of the stopwatch” –Nicole Bianchi, 2016.

.

Anthony Trollope adalah seorang novelis produktif. Ia dikenal memiliki kemampuan menulis dengan kecepatan yang luar biasa. Novel pertamanya terbit pada tahun 1847. Pada kurun masa 38 tahun berikutnya, ia menerbitkan 47 novel, 18 karya nonfiksi, 12 cerita pendek, 2 drama, dan berbagai artikel.

Pada beberapa postingan sebelumnya, sudah kita bahas tips produktif dari Anthony Trollope. Kali ini saya tambahkan lagi tips produktif menulis dan Trollope. Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.

“Zona Waktu Menulis” Model Trollope

“Of course, Trollope did not have to contend with social media and cell phones, but no doubt there were similar temptations in his day that could easily distract him from his writing tasks” –Nicole Bianchi, 2016.

Sudah sering saya tuliskan tentang pentingnya “zona waktu menulis” (ZWM) yang menjadi zona eksklusif bagi penulis saat menyelesaikan suatu projek. Salah seorang penulis yang mampu secara konsisten menerapkan ZWM bagi dirinya, adalah Anthony Trollope.

Strategi pengaturan waktu menulis Trollope sangat efektif. Ia benar-benar berkomitmen untuk menghilangkan semua gangguan selama zona waktu itu. Ia memaksa dirinya untuk berkonsentrasi hanya untuk menulis, sesuai detak stopwatch.

Nicole Bianchi (2016) menyatakan, “Ini berarti sama sekali tidak ada multitasking”. Artinya, Trollope bukan menulis sambil mengerjakan hal lain. Ia hanya berkonsentrasi untuk menulis, dalam zona waktu eksklusif yang ditentukannya.

Di era cyber sekarang ini, multitasking telah menjadi bagian kehidupan kita sehari-hari. Seakan telah menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan. “Saat menulis, mungkin kita akan berhenti setiap beberapa menit untuk memeriksa pesan chat di smartphone, memeriksa pesan di Facebook atau Instagram”, ujar Bianchi.

“When we’re multitasking while working on an article or any kind of writing project, that means that our brains only have a matter of seconds to jump back and forth as we check Facebook, then write a few lines, then quickly check our email, write a few more lines, then check our text messages, then return to our writing project” –Nicole Bianchi, 2016.

Namun pada dasarnya otak manusia tidak bisa fokus pada beberapa kegiatan sekaligus, di waktru yang sama. Otak manusia hanya akan fokus pada satu hal pada satu satuan waktu. Maka otak akan berebut untuk mengalihkan fokusnya setiap kali kita mulai melakukan sesuatu yang berbeda.

“Ketika kita mencoba multitasking saat menulis artikel, otak kita hanya memiliki hitungan detik untuk melompat-lompat”, ujar Bianchi, “saat kita memeriksa Facebook, lalu menulis beberapa baris, lalu dengan cepat memeriksa email, menulis lagi beberapa baris, lalu memeriksa pesan chat, lalu kembali ke menulis”, lanjutnya.

Sebuah studi menunjukkan, dibutuhkan lebih dari 25 menit rata-rata untuk melanjutkan aktivitas setelah terganggu. Bahkan lebih buruk lagi, dibutuhkan tambahan 15 menit untuk mendapatkan kembali fokus atau aliran intens yang sama seperti sebelum gangguan. Berarti empat puluh menit penuh, habis untuk mengembalikan konsentrasi. Demikian penjelasan Clifford Nass, seorang peneliti di Stanford, yang melakukan studi tentang efek merugikan dari multitasking.

Di zamannya, Trollope tidak bersaing dengan media sosial dan ponsel, karena memang belum ada. Namun tidak diragukan lagi bahwa pasti ada godaan serupa di zamannya yang dapat dengan mudah mengalihkan perhatian dari aktivitas menulis.

“Dengan meletakkan arloji di hadapannya, ia menantang dirinya sendiri untuk tidak menghentikan aliran intens pekerjaannya”, ujar Bianchi. Benar-benar efektif bagi Trollope, karena ia memiliki komitmen dan kedisplinan.

Teknik “Pomodoro”, Strategi Agar Disiplin dengan Waktu

“Not all of us will have three hours of our day that we can devote to writing, nor will all of us be able to set apart time in the morning to write. However, timed writing is a simple and easy technique that can be used by any writer” –Nicole Bianchi, 2016.

Waktu yang dialokasikan Trollope untuk menulis adalah sekitar tiga jam sehari di waktu pagi. Namun, tidak semua orang memiliki kesempatan tiga jam sehari untuk menulis. Pun tidak semua orang dapat menyisihkan waktu di pagi hari untuk menulis. Namun, penulisan berjangka waktu adalah teknik sederhana dan mudah, yang dapat digunakan oleh penulis manapun.

Bianchi menyatakan ada sebuah teknik pewaktu untuk memacu produktivitas. Teknik ini dikenal sebagai Pomodoro. Seperti apa teknik ini bekerja?

Awalnya, sekitar tahun 1980an, seorang mahasiswa Italia bernama Francesco Cirillo mencari strategi belajar yang tepat untuk dirinya. Ia merasa terus menerus terganggu selama proses belajar, maka ia berusaha menemukan strategi untuk membantu fokus. Cirillo menemukan timer dapur 25 menit dalam bentuk tomat, dari sinilah teknik “Pomodoro” tercipta. “Pomodoro” adalah istilah dalam bahasa Italia untuk tomat.

Cara kerja teknik ini kurang lebihnya sebagai berikut. Saat akan mengerjakan suatu tugas, misalnya menulis, atur timer 25 menit. Ini disebut “satu pomodoro”. Kerjakan tugas menulis sampai timer berbunyi. Istirahat sejenak, antara 3 hingga 5 menit. Setelah istirahat, lakukan menulis lagi selama 25 menit dengan pewaktu.

Setiap empat pomodoro, istirahat lebih lama, sekitar 15 hingga 30 menit. Usai istirahat, menulis lagi, hingga selesai naskah ditulis. Ternyata dengan cara berdisiplin waktu seperti ini, tugas lebih bisa diselesaikan dengan minim gangguan.

Rupanya inilah mengapa Trollope bisa demikian produktif. Karena Trollope membuat “satu pomodoro” bagi dirinya adalah 15 menit. Setiap 15 menit ia harus memeriksa target menulisnya, apakah mampu mencapai 250 kata.

Bagaimana dengan Anda? Selamat berkarya, selamat mengubah dunia.

Bahan Bacaan

James Clear, The 15-Minute Routine Anthony Trollope Used to Write 40+ Books, https://jamesclear.com

Maria Popova, Anthony Trollope’s Witty and Wise Advice on How to Be a Successful Writer, https://www.themarginalian.org, 24 April 2014

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com/

Nicole Bianchi, How to Supercharge Your Writing Productivity: Anthony Trollope’s Strategy for Writing 45+ Books, https://nicolebianchi.com, 26 Februari 2016

Victoria Blake, Writing Tips form a Trollope! https://victoriablakewriter.wordpress.com, 3 November 2014

1 thought on “Agar Selalu Produktif Menulis – 64

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *