.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“Your journey to be a great writer will be a long battle” –Blake Powell, 2017
.
Blake Powell (2017) mengenalkan pada kita, bahwa menulis itu adalah gelanggang peperangan. Sejak sebelum menulis, pada saat menulis, kita semua tengah berhadapan dengan para musuh yang mengajak untuk berhenti menulis.
Untuk itu, Powell menyarankan agar kita mengenali siapakah musuh potensial dalam aktivitas menulis. Setiap penulis memiliki musuh yang khas, berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Mengutip silsafat Sun Tzu, Powell mengajak agar kita mengenali diri dan musuh.
“If you know the enemy and know yourself, you need not fear the result of a hundred battles. If you know yourself but not the enemy, for every victory gained you will also suffer a defeat. If you know neither the enemy nor yourself, you will succumb in every battle” –Sun Tzu.
Sun Tzu menyatakan, “Jika Anda mengenali musuh dan mengenali diri sendiri, Anda tidak perlu takut akan hasil dari ratusan pertempuran. Jika Anda mengenal diri sendiri tetapi tidak mengenali musuh, untuk setiap kemenangan yang diperoleh Anda juga akan menderita kekalahan. Jika Anda tidak mengenal musuh maupun diri sendiri, Anda akan menyerah dalam setiap pertempuran.”
Siapa Musuh Menulis Anda?
Mari mengenali musuh-musuh yang selalu datang di setiap sesi menulis yang sudah Anda rancang. Siapa saja mereka itu? Apakah Anda mengenalinya?
- Sikap Perfeksionis
Anda menghendaki hasil tulisan yang sempurna. Tak ada kekurangannya. Ini musuh yang sangat mudah memadamkan semangat menulis Anda.
Saat duduk menulis dua paragraf, Anda merasa tidak mampu membuat paragraf yang bagus. Anda merasa gagal menjadi penulis handal. Maka Anda menghentikan aktivitas menulis.
In order to do that, you’re going to have to get your thoughts under control to position yourself as the great writer you desire to be –Blake Powell, 2017
- Mengejar LCS (Like, Comment, Share)
Hidup di dunia cyber, sangat mudah tergoda LCS (like, comment, share). Sekali posting tulisan, inginnya mendapat ribuan likers, ratusan comment dan ratusan share. Berorientasi pada meriahnya tepuk tangan pembaca. Mengejar efek viral.
Ketika tulisan yang telah diposting tak ada satupun like, tak ada yang comment, apalagi share, merasa kecewa. Merasa tidak berharga. Merasa gagal sebagai penulis handal.
“If your writing is a war, you need to prepare if you’re going to win. And that means knowing your enemies” –Blake Powell, 2017
- Tidak Percaya Diri
“Saya baru belajar menulis. Apakah tulisan saya layak dipublikasikan? Bagaimana jika ditertawakan pembaca? Sepertinya tulisan saya sangat jelek, sangat jauh dari kualitas tulisan Tere Liye”.
Itulah sederetan musuh yang datang di setiap sesi menulis. Anda ketakutan, tidak percaya diri, merasa malu tulisannya dibaca orang lain.
“They come in many forms: fear, self-doubt, distractions, interruptions from others, from our devices and from the muse seemingly abandoning us at every turn” –Blake Powell, 2017
- Takut Komentar Negatif
Di dunia medsos, setiap orang memiliki likers dan haters. Salah satu musuh besar bagi penulis adalah takut mendapat kritik. Takut mendapatkan komentar negatif.
Kritikan pedas dan komentar negatif, sangat mudah mematikan semangat menulis. Padahal belum tentu akan mendapat kritik atau komentar negatif. Namun ketakutan telah mengalahkan nyali sebagai penulis handal.
“That’s it, and that’s all there ever was stopping you from being the great writer you only dream of being” –Blake Powell, 2017
- Kemalasan
Mager, malas bergerak. Manul, malas menulis. Malas adalah sikap diri yang membuat banyak orang tidak menulis, meskipun memiliki banyak waktu luang.
Seakan ada himpitan beban sangat berat yang menghalangi dirinya menulis. Membuka laptop atau gadget terasa sangat berat. Akhirnya tak pernah memiliki karya tulis, kendati menyatakan ingin menjadi penulis.
“For you’re a writer, and writing is your soul. It’s how you breathe and form your life’s work” –Blake Powell, 2017
- Tak Mampu Menolak
Ada sangat banyak tawaran menggiurkan di setiap sesi menulis tiba. Seorang teman menelpon, lalu Anda asyik bertelpon hingga 30 menit. Ada grup chatting yang sangat berisik. Lalu Anda menimbrung ikut berkomentar. 30 menit berlalu dalam keasyikan chatting.
Seorang teman mengajak wisata kuliner, dan Anda tak kuasa menolak. Dua jam waktu Anda habiskan untuk kuliner. Tak mampu menolak ajakan dan tawaran, adalah musuh yang membuat Anda tidak menulis.
“Because the one thing in common with all of these things keeping you from writing is you” –Blake Powell, 2017
- Kambing Hitam
“Saya sangat sibuk. Saya tidak punya waktu untuk menulis. Agenda harian saya sangat padat. Saya tidak punya waktu untuk menulis”.
Itu semua adalah kambing hitam, untuk tidak menulis. Jangan kambing hitamkan kesibukan dan agenda harian. Menulis adalah soal komitmen dan disiplin diri. Meski sesibuk apapun, sepanjang memiliki komitmen dan disiplin, akan bisa menulis.
“Your journey to be a great writer will be a long battle” –Blake Powell, 2017
Musuh itu Ternyata Ada dalam Diri Anda Sendiri
Jika Anda cermati, semua musuh itu adalah diri Anda sendiri. Bukan musuh dari luar yang demikian hebat dan tak terkalahkan. Namun justru terletak pada kondisi diri yang lemah menghadapi berbagai pikiran negatif.
“Because the one thing in common with all of these things keeping you from writing is you” –Blake Powell, 2017
Maka, kunci pertama mengalahkan semua musuh –menurut Powell, adalah mengendalikan pikiran Anda. Kendalikan pikiran Anda, agar tidak dikuasai hal-hal negatif yang melumpuhkan nalar Anda sehingga berhenti menulis.
Selamat menulis, selamat mengalahkan musuh-musuh utama Anda.
Bahan Bacaan
Blake Powell, How to Be Unstoppable and Write Every Day, 26 Mei 2017, https://writingcooperative.com/

Musuh terbesar adalah melawan hawa nafsu, kemalasan diri (mager). Terima kasih pak Cah, selalu memberikan motivasi dan inspirasi. Semoga saya mendapatkan hidayah.