19 September 2026

.

Oleh: Cahyadi Takariawan

Semua penulis berpeluang untuk gagal maupun berhasil menyelesaikan karya tulis. Kegagalan dan keberhasilan adalah tabiat kehidupan manusia.

Risk is essential. It’s scary. Risiko itu penting. Tapi itu menakutkan”, ujar Madeleine L’Engle, penulis produktif asal Amerika. Ia banyak menulis novel, puisi, dan buku-buku nonfiksi.

Every time I sit down and start the first page of a novel I am risking failure. Setiap kali saya duduk dan memulai halaman pertama sebuah novel, saya berisiko gagal”, ujar L’Engle.

Oleh karena itu, diperlukan manajemen menghadapi risiko kegagalan menulis. Kita harus mampu perasaan ketakutan atas risiko gagal.

Semua orang ingin sukses dalam kehidupan. Dunia menghendaki kita selalu sukses. “We are encouraged in this world not to fail. Kita didorong di dunia ini untuk tidak gagal”, ungkap L’Engle.

Orangtua, keluarga, sahabat, dan lingkungan selalumendorong kita menjadi orang sukses. “We are encouraged only to do that which we can be successful in. Kita didorong hanya untuk melakukan sesuatu yang kita bisa berhasil”, ujarnya.

Dampaknyakita sering takutmenghadapi kegagalan. Termasuk gagal menghasilkan karya tulis. Atau gagal menjadikan novel dan buku kita masuk kategori best seller.

Hal penting bagi setiap penulis adalah, menjadikan kegagalan sebagai bagian dari proses pendewasaan. Kegagalan bukan berarti kehancuran karier sebagai penulis.

But things are accomplished only by our risk of failure. Segala sesuatunya dicapai hanya dengan risiko kegagalan”, ujar L’Engle.

Writers will never do anything beyond the first thing unless they risk growing. Penulis tidak akan pernah melakukan apa pun kecuali mereka mengambil risiko untuk berkembang.”

Pahamilah, hanya dengan mengelola risiko kegagalan kita akan bisa berkembang. Bukan dengan usaha menghindari kegagalan. Bukan dengan ketakutan akan kegagalan. Tetapi dengan menghadapinya sebagai kesempatan berkembang.

Bahan Bacaan

Catherine Haustein, Sixteen Sweet Writing Tips from Madeleine L’Engle, https://catherinehaustein.com, 25 Juli 2017

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *