.
Melawan Keterbatasan
Oleh : Cahyadi Takariawan
“It is interesting to note how many artists have had physical problems to overcome, deformities, lameness, terrible loneliness. Those who have no physical flaw, seldom become artists” –Madeleine L’engle.
.
“Sangat menarik untuk dicatat,” ujar Madeleine L’engle, “berapa banyak seniman yang memiliki masalah fisik yang harus diatasi, cacat, timpang, kesepian yang mengerikan”. Begitulah keadilan Tuhan. Di saat memberikan kekurangan pada seseorang, Tuhan juga memberikan kelebihan untuk membuat mereka berdaya.
“Mereka yang tidak memiliki cacat fisik, jarang menjadi seniman (sejati)”, lanjut L’engle. Keterbatasan dan kekurangan yang ada dalam diri seseorang, justru membuat mereka mampu berkreasi melebihi kemampuan orang-orang yang tak mengalami disabilitas. Mereka menciptakan karya –seakan tak sedang memiliki keterbatasan.
Dari Sastrawan Fyodor Dostoevsky Hingga Gola Gong
Buku ‘Crime and Punishment’ karya monumental Fyodor Dostoevsky setebal 700 halaman, ternyata ditulis saat ia menderita epilepsi lobus temporal yang langka. Sastrawan besar asal Rusia ini mengalami 102 kali serangan epilepsi dan menggunakan pengalamannya untuk menciptakan karakter yang juga menderita epilepsi.
Anda masih ingat kisah Jean-Dominique Bauby? Ya, seorang jurnalis di Perancis, yang divonis mengalami “locked-in syndrome”. Semua anggota tubuhnya tidak bisa digerakkan. Namun ia mampu menulis buku dengan menggerakkan kelopak mata kiri. Jean melakukan 200.000 kali kedipan mata kiri untuk menulis buku setebal lebih dari 100 halaman. Buku Jean diberi judul “The Diving-Bell and the Butterfly” (1998).
Anda pasti juga ingat kisah Wesley Wee. Pengidap cerebral palsy asal Singapura, yang berhasil menulis buku hanya menggunakan satu ibu jari kaki. Wesley harus rela menghabiskan waktu lima tahun untuk menyelesaikan sebuah buku. Dengan ketekunan yang luar biasa, buku itupun berhasil diterbitkan, berjudul “Finding Happines Against the Odds”.
Demikian pula Shane Burcaw. Blogger asal Amerika Serikat ini telah menggunakan kursi roda sejak berusia tiga tahun. Ia mengalami Spinal Muscular Atrophy, sejenis kondisi genetik yang mengganggu otot tubuhnya, sehingga harus memakai kursi roda. Selain aktif menulis di blog, Shane telah menerbitkan tiga buku, salah satunya Laughing at My Nightmare.
Mungkin Anda juga mengenal John Milton, lewat buku kumpulan puisinya, Paradise Lost. Milton kehilangan penglihatannya sekitar 16 tahun sebelum menyelesaikan buku puisi tersebut. Milton menyuruh putrinya membaca untuknya dan mendiktekan tulisannya kepada seorang transcriber. Ia menceritakan pengalaman kehilangan penglihatannya dalam sebuah soneta berjudul “On His Blindness.”
Demikian pula kisah Keah Brown, seorang penulis, aktris, jurnalis, dan penulis skenario. Terlahir dengan serebral palsi, Brown menolak anggapan bahwa penyandang disabilitas itu lemah. Ia memilih produktif menulis. Karya tulisnya telah terbit di Teen Vogue, Netflix, dan The Today Show.
Nick Vujicic adalah motivator dunia berkebangsaan Australia. Lahir dengan kondisi sindrom tetra-amelia, tanpa tangan dan kaki. Di halaman situs webnya, ia menyatakan bahwa di saat masih kecil dirinya mengalami depresi dan rasa kesepian. Ia sering mempertanyakan alasan mengapa berbeda dari semua anak lainnya. Ia menulis buku motivasi berjudul Life Without Limits (2007) dan Love Without Limits (2014).
Sara Novic adalah penulis, guru, dan ibu yang menulis tentang pengalaman pribadi sebagai penyandang tuna rungu. Novic menulis novel pada tahun 2015 berjudul “Girl At War”. Tanpa bisa mendengar sesuatu, Novic mampu menulis buku.
Haben Girma adalah penyandang tuna netra dan tuna rungu. Ia lulus dari Harvard Law School, dan menjadi pengacara serta advokat hak asasi manusia. Terlahir sebagai perempuan kulit hitam yang menyandang disabilitas, Girma kerap mengalami tindakan tidak menyenangkan dari lingkungan. Ia aktif menulis memoar “Haben” dan berbagai tulisan wawasan, di blog pribadinya.
Bloger Melissa Blake terlahir dengan Sindrom Freeman-Sheldon, sebuah kelainan tulang dan otot genetik. Ia produktif menulis di blog “So About What I Said”. Blake menggunakan blog ini untuk “menjelajahi dunia di luar batas kecacatannya.” Ia belajar jurnalisme di perguruan tinggi, dan aktif menulis tentang berbagai topik.
Peter Winkler menderita rheumatoid arthritis pada sebagian besar hidupnya. Ia menggunakan sumpit plastik panjang untuk berkomunikasi. Dengan sakit yang dialaminya, Winkler menulis lebih dari 125 paper hasil penelitian di bidang matematika. Ia juga menulis buku populer, seperti Bridge at the Enigma Club, dan masih banyak lainnya.
Octavia E. Butler adalah salah satu penulis fiksi ilmiah terbaik sepanjang masa. Ia mengalami disleksia di sepanjang hidupnya. Butler mulai menulis cerita pendek pada usia sepuluh tahun. Ia menerbitkan tiga buku seri, dua novel dan satu kumpulan cerita pendek sebelum kematiannya pada tahun 2006.
Christy Brown adalah seorang penulis Irlandia yang menderita cerebral palsy dan hanya bisa menulis atau mengetik dengan jari-jari kaki kirinya. Memoarnya My Left Foot menceritakan kisah hidupnya dengan gangguan tersebut, dan diangkat menjadi film layar lebar di tahun 1989.
John Hockenberry mengalami cedera tulang belakang dalam kecelakaan mobil ketika dia berusia 19 tahun. Kejadian ini membuatnya menderita paraplegia dari dada ke bawah. Ia menulis memoar pada tahun 1995 berjudul Moving Violations: War Zones, Wheelchairs and Declarations of Independence. Ia juga menulis beberapa buku nonfiksi tentang perawatan kesehatan.
Di Indonesia, kita mengenal Muhammad Zulfikar Rakhmat. Ia terlahir dengan ashpyxia neonatal, yakni kekurangan oksigen pada otak yang menyebabkan tidak bisa bicara lancar dan kesulitan menggunakan tangannya untuk sejumlah aktivitas. Zulfikar kini menjadi ilmuwan dan penulis di berbagai media nasional bahkan internasional. Ia lulus master dan doktor dengan nilai sangat baik di Manchester University Inggris.

Kita juga mengenal Hellen Patraliza, seorang guru dan ibu rumah tangga di Palembang. Ia menderita Hemiparesis, yaitu kelemahan atau kelumpuhan anggota tubuh sebelah kanan. Tangan kanannya sulit digerakkan. Keseimbangan tubuhnya juga terganggu. Namun ia mampu menulis buku setebal 320 halaman hanya dalam waktu satu bulan. Buku berjudul Self Love itu ditulis hanya dengan tangan kiri.
Anda pasti mengenal novelis Gola Gong yang memiliki nama asli Heri Hendrayana Harris. Gola Gong kehilangan tangan kirinya sejak usia 11 tahun. Ia menantang teman-temannya untuk adu keberanian seperti penerjun payung, dengan lompat pohon di pinggir alun-alun. Saat itulah tangan kirinya patah. Dengan satu tangan yang dimiliki, Gola Gong sangat produktif menulis karya fiksi. Novelnya yang populer di kalangan remaja berjudul ‘Balada Si Roy’.
Mereka semua dikaruniai keterbatasan fisik, namun tidak mengalami keterbatasan mental. Mereka memiliki kesehatan mental untuk tetap produktif menulis.
Bagaimana dengan Anda?
Bahan Bacaan
Alden Boon, Abused Because of Cerebal Palsy, But Still Wesley Wee Rises Above Finding Happiness and Love in The Face of Adversity, http://magazine.nedla.sg, 2 Juni 2018
Catherine Haustein, Sixteen Sweet Writing Tips from Madeleine L’Engle, https://catherinehaustein.com, 25 Juli 2017
Chad Grills, The 7 Secrets of Writing From the Best Writers in the World, https://medium.com, 2 November 2017
DW.com, Dulu Dibully Karena Derita Difabel, Kini Go Internasional, https://www.dw.com, 1 Januari 2016
Jean-Dominique Bauby, The Diving Bell and the Butterfly : A Memoir of Life in Death, Vintage, 1998
Jen Doll, A Blogger Who Laughs at Nightmares Gets a Book Deal, www.theatlantic.com, 24 April 2013
Lee Chia Ming, Unwanted as A Child, Homeless as An Adult, Wesley Wee Finds Happiness Against the Odds, https://saltandlight.sg, 10 September 2019
Michelle King, 10 Successful Writers Who Had Disabilities, http://airshipdaily.com, diakses 23 Januari 2022
Nastiti Primdyastuti, Heri Hendrayana, www.merdeka.com, diakses 23 Januari 2022
Nava Atlas, 5 Valuable Writing Tips from Madeleine L’Engle, https://www.literaryladiesguide.com, 20 Maret 2017
Rachel Hutton, How ‘Interabled’ Minnesota Couple ‘Squirmy and Grubs’ Became an Internet Sensation, www.startribune.com, 6 Oktober 2019
Sally Weale, The Reality Behind The Diving Bell and The Butterfly, www.theguardian.com, 9 Februari 2008
Staff Guide, 10 Disabled Writers & Websites To Expand Your Perspective, https://www.thegoodtrade.com, diakses 23 Januari 2022
