20 September 2026

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

After 20 days in a coma, Bauby awoke into a body which had all but stopped working: only his left eye functioned” —www.amazon.com

.

Adalah mimpi buruk yang tak ingin dialami oleh semua manusia, bahwa tak ada bagian tubuh yang bisa digerakkan kecuali kelopak mata kirinya. Inilah yang dialami oleh Jean-Dominique Bauby, seorang jurnalis di Perancis. Dokter di Maritime Hospital menyebutkan, Jean mengalami “locked-in syndrome”.

Lelaki kelahiran 1952 ini mengalami lumpuh total di usia produktif, 43 tahun. Jean kesulitan bernafas, tidak bisa menelan dan makan tanpa bantuan peralatan.  Sehari-hari ia hanya bisa berbaring, dan mendapat perawatan serta pelayanan penuh di Rumah Sakit.

Ajaib. Kendati mengalami lumpuh total, tetapi otaknya masih tetap mampu berpikir normal.  Pikirannya masih terus bekerja dan berimajinasi. Namun, pikiran dan imajinasinya, terkurung dalam jasad yang kaku. Seperti orang mati.

Semua anggota tubuhnya tidak bisa digerakkan. Seluruh proses ‘kehidupannya’, dibantu dengan berbagai peralatan. Orang-orang di sekitarnya tidak tahu, bahwa di balik tubuh lumpuh itu, ada hasrat dan imajinasi yang sangat kuat.

Jean adalah seorang jurnalis. Ia pernah bekerja di majalah Quotidien de Paris dan Paris Match. Selanjutnya, Jean menduduki posisi pimpinan redaksi yang terhormat di majalah Elle. Sebuah majalah tersohor di seluruh dunia, dari Perancis.

Pikiran yang selama ini selalu digunakan untuk menulis, ternyata tetap bekerja. Instink jurnalistiknya tetap berjalan dengan sangat baik. Perlahan, Jean mulai belajar berkomunikasi menggunakan kelopak mata kirinya. Ia tidak menyerah, dan tak mau berputus asa.

Sekuat tenaga, ia ingin bicara. Namun apa daya, yang bisa digerakkan hanya satu kelopak mata saja. Maka ia mulai belajar merespon dengan satu kedipan mata untuk “ya”, dan dua kedipan mata untuk menyatakan “tidak”. Perawat mulai mengerti. Orang-orang dekat Jean berpikir mencari perawat yang spesial untuk berkomunikasi dengannya.

Beruntung ada Claude Mendibil, seorang perawat khusus, yang mampu memahami komunikasi Jean. Dalam perawatan Mendibil, Jean mulai belajar memilih huruf-huruf agar bisa menulis. Mendibil menyodorkan huruf-huruf melalui layar yang di dekatkan ke mata kiri Jean.

Setiap Mendibil menunjukkan huruf-huruf yang ada pada layar, Jean akan meresponnya melalui kedipan mata. Jean memilih huruf-huruf, hingga terbentuk kata. Kemudian menyusun menjadi kalimat, bahkan paragraf. Dari seluruh perjuangan yang mengharu biru perasaan kemanusiaan itu, akhirnya menjadi sebuah buku. Keseluruhannya memakan waktu hampir satu tahun.

Setiap pagi Jean bangun dan mulai menyusun pesan-pesan di dalam pikirannya. Menjelang siang, Mendibil datang dan mulai menuliskan huruf demi huruf yang Jean inginkan. Setiap hari mereka berinteraksi selama tiga hingga lima jam. Jean berkedip 200.000 kali kedipan untuk menulis buku setebal lebih dari 100 halaman itu.

Buku Jean kemudian diberi judul “The Diving-Bell and the Butterfly”,  diterbitkan di Perancis tahun 1998. Luar biasa, pada hari peluncurannya buku itu langsung terjual sebanyak 25.000 eksemplar. Sebuah buku yang menggambarkan semangat hidup Jean yang amat sangat tangguh.

Ia tetap ingin bermanfaat bagi orang lain, dengan menginspirasi melalui tulisan. Sayangnya, Jean tutup usia dua hari setelah terbit buku itu. “Untuk merayakan kehidupan, lakukan suatu kebaikan bagi orang lain”, ungkap Jean-Dominique Bauby.

Bukunya diangkat menjadi film layar lebar dengan judul yang sama pada tahun 2007. Disutradarai oleh Julian Schnabel dan dibintangi oleh Mathieu Amalric, sukses meraih penghargaan. Schnabel menceritakan, “Jean pernah menyatakan bahwa satu-satunya cara agar ia dapat menyelam keluar dari keterpurukan adalah melalui imajinasi dan ingatannya. Dua hal itulah yang tidak ikut lumpuh bersama mata kirinya.” 

Jean telah mengajari kita, untuk menulis tidak memerlukan mood. Bahkan dalam kondisi seluruh tubuh tak bisa digerakkan, kelopak mata kirinya menjadi cara untuk menuangkan ide menjadi tulisan.

Anda punya tubuh normal. Anda diberi kesehatan. Betapa banyak alasan untuk tidak melahirkan tulisan.

Bahan Bacaan

Jean-Dominique Bauby, The Diving Bell and the Butterfly : A Memoir of Life in Death, Vintage, 1998

Sally Weale, The Reality Behind The Diving Bell and The Butterfly, www.theguardian.com, 9 Februari 2008

Sekar Fitriadzini, Lumpuh dari Kepala Hingga Kaki, Jean Menulis dengan Kedipan Matanya, www.pijarpsikologi.org, 11 November 2015

.

Ilustrasi : https://dallasopera.org

4 thoughts on “Jean-Dominique Bauby, Menulis Hanya Dengan Kedipan Mata

  1. MaasyaaaAllaah… Walhamdulillah
    Allaahu akbar.
    Dalam setiap kesulitan, pasti ada jalan, saat ada kemauan, dan pasti Allah mampukan.
    Laa Hawla wa laa quwwata illaa billaah…

    BismillaahiRRAHMAAANiRRAHIIM..
    Allaahu Akbar.

    Jazakallaahu khair, Pak Cah untuk spirit paginnya. WasSALAMU ‘alaiKUM waRAHMATULLAH wa BARAKAATUHu.

  2. Masya Allah sudah dua kali membaca kisah ini. Namun kali ini sangat berbeda. Saya jadi malu sekali atas semua kesempurnaan anggota tubuh yang saya miliki, tapi belum di manfaatkan dengan sebaikk- baiknya. Syukran ustaz Cahyadi Takariawan

  3. Masya Allah, terima kasih motivasi dan pencerahannya pagi ini Pak Cah. Kita yang dianugerahi kesempurnaan fisik merasa kecil belum bisa memaksimalkan potensi dalam diri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *