.
Oleh Cahyadi Takariawan
“Karena hidup itu sangat indah, maka aku menangis sepuas-puasnya” — Sapardi Djoko Damono
.
“Tangan kanan saya lumpuh. Tidak bisa menggenggam, juga tidak bisa digunakan beraktivitas. Saya juga tidak bisa berdiri lama”, ujar perempuan itu.
“Saya menulis di laptop dengan menggunakan tangan kiri. Alhamdulillah, buku bisa saya selesaikan, meski hanya dengan tangan kiri”, lanjutnya.
Luar biasa. Sebuah perjuangan menulis yang sangat inspiratif. Di tengah ujian sakit mendera, justru menghasilkan karya.
Namanya Hellen Patraliza. Di tengah mendaki puncak karier sebagai guru, Allah justru memberi karunia berupa sakit. Sebuah sakit yang datang tiba-tiba.
Hemiparesis[i], dengan kelemahan anggota tubuh sebelah kanan. Ini adalah vonis yang sangat mengerikan. Tak ada manusia yang mau mengalami kelemahan setengah apalagi seluruh bagian tubuh.
Bunda Hellen, demikian teman-teman di KMO memanggilnya, sempat mengalami depresi dengan musibah sakit ini. Sebuah realitas kehidupan yang sangat menyesakkan. Ia sempat berjalan dengan dipapah. Justru saat dirinya berada dalam puncak aktivitas.
Namun sedih tak akan membuatnya sembuh. Tangis tak akan membuatnya tangguh. Marah justru akan membuatnya makin rapuh. Ia harus segera bangkit dan melanjutkan langkah yang harus ditempuh.
Membangun Harapan Melalui Tulisan
Saat mulai berangsur mendapat kesembuhan, dirinya mulai bisa kembali berkegiatan. Namun tidak bisa leluasa seperti semula. Harapan, itu yang ia miliki. Keyakinan, itu selalu ia semai.
Ia harus berkendara bus Damri setiap pagi menuju sekolah tempat mengabdi. Suami tercinta mengantarnya hingga ke halte. Sekaligus membantu agar bisa naik bus Damri, sampai mendudukkan di kursi penumpang.
Sesampai di terminal tujuan, teman guru telah menunggu. Ia membimbingnya turun dari bus Damri. Murid-murid pun bergantian menjemput di terminal Damri, dan mengantar hingga ke sekolah. Demikian pula pulangnya.
Usai jam pelajaran, para murid bergantian mengantar dari sekolah menuju terminal Damri. Membantu beliau naik ke dalam bus, hingga duduk di kursi. Sesampai di halte, suami tercinta telah menanti. Membantunya turun dari bus Damri, dan membawa pulang. Begitu setiap hari.
Sebuah rutinitas yang rela ia jalani demi menjaga harapan dan keyakinan. Secara medis, aktivitas ini juga sekaligus sebagai terapi bagi penyakitnya.
Bunda Hellen mulai belajar menulis. Karena tangan kanannya lumpuh, ia hanya bisa menulis dengan tangan kiri. Alhamdulillah, tidak sampai dua bulan, naskah buku selesai ditulis. Aktivitas menulis membuatnya selalu berkegiatan dan bergerak. Ini menjadi media katarsis, sekaligus sebagai penyembuhan.
Saya bertemu Bunda Hellen dalam Kelas Menulis Online (KMO) Basic yang saya asuh. Dari KMO Basic, berlanjut ke kelas Antologi. Akhirnya ikut Kelas Emak Punya Karya (EPK) Batch 2 / 2020. Di kelas EPK Batch 2 inilah ia menulis buku berjudul “Self Love, Karena Hidup Itu Sangat Indah”.
Membacanya, membuat kita mampu berkaca. Ada sangat banyak tangis dan airmata mewarnai kisah hidupnya. Semangat Bunda Hellen menyambut harapan, disertai keyakinan akan kasih sayang Allah yang Maha Rahman, sanggup melecut kita yang diberi nikmat kesehatan.
Membaca buku Self Love karya Bunda Hellen, mengingatkan saya kepada salah satu puisi karya Eyang Sapardi Djoko Damono, berjudul Dalam Diriku. Saya ingin mengutip kembali puisi itu.
dalam diriku
.
dalam diriku mengalir sungai panjang,
darah namanya;
dalam diriku menggenang telaga darah,
sukma namanya;
dalam diriku meriak gelombang sukma,
hidup namanya;
dan karena hidup itu indah,
aku menangis sepuas-puasnya
“Karena hidup itu sangat indah, maka aku menangis sepuas-puasnya”, ujar Eyang Sapardi. Menangis sebagai bentuk pengakuan akan kelemahan diri. Menangis sebagai bentuk pengharapan akan kasih sayang Dzat Yang Maha Memberi. Menangis sebagai wujud syukur atas limpahan karunia Ilahi.
Saya menangis membaca buku Self Love ini. Karena buku ini indah untuk dinikmati.
.
Catatan Kaki
[i] Hemiparese atau hemiparesis adalah kondisi kelemahan pada salah satu sisi tubuh, atau ketidakmampuan untuk menggerakkan salah satu sisi anggota tubuh. Berasal dari kata “hemi” yang berarti setengah atau satu sisi, dan “paresis” yang berarti kelemahan.
Hemiparesis berbeda dengan lumpuh. Hemiparesis hanya kelemahan dan bukan kelumpuhan (plegia). Anggota tubuh yang terkena dampak biasanya pada otot wajah, otot pernafasan bagian dada, lengan, tangan, ataupun tungkai bawah pada salah satu sisi.
Pasien hemiparesis masih mampu menggerakkan sisi tubuh yang terkena dan belum sepenuhnya lumpuh. Hanya saja sisi tubuh yang menglami gangguan tersebut begitu lemah dan tidak bertenaga, gerakan yang timbul juga sangat sedikit.
Penyebab utama terjadinya hemiparesis adalah adanya kerusakan otak pada salah satu sisi. Kerusakan otak pada sisi tertentu akan menyebabkan terjadinya kerusakan anggota tubuh pada sisi yang berlawanan.
Gangguan peredaran darah di otak sebelah kanan akan mengakibatkan gangguan pada tubuh sisi sebelah kiri. Sebaliknya, gangguan peredaran darah di otak sebelah kiri akan mengakibatkan gangguan pada tubuh sisi sebelah kanan.
Pasien hemiparesis harus tetap bersemangat dan aktif dalam kehidupan sehari-hari, sehingga proses penyembuhan semakin cepat. Mereka harus lebih berhati-hati dalam melakukan setiap kegiatan agar tidak terjadi kecelakaan. Apabila pasien putus asa dan berhenti bergerak, maka otot yang lemah tersebut semakin memburuk dan bahkan benar-benar menjadi lumpuh.
Referensi : Henry Hoffman, Treating Hemiplegia and Hemiparesis After Stroke, www.saebo.com, 23 Februari 2017

Perjuangan dan semangat yang luar biasa. Dapat menginspirasi siapapun yang membacanya.
Di KMO banyak orang-orang hebat, yang dapat memberikan pelajaran kepada saya agar tidak mudah berputus asa dalam hal apapun.
Terimakasih ustadz Cah, atas kesabaran, ketelatenan dalam membimbing kami di KMO.
Semakin banyak pelajaran yang dapat diambil dari kelas menulis pak cah
Terima kasih Pak Cah …saya sedih dan menyentuh hati walau hanya beberapa tulisan Bu Hellen yg Pak Cah tulis….saya ingin sekali baca bukunya…saya udah pesan lagi menunggu
MasyaAllah, Bunda Hellen sangat luar biasa. Terima kasih Pak Cah, selalu memotivasi dan menginspirasi .
Sangat memotivasi, kadang saya merasa malu, saya punya kondisi yg baik tetapi masih saja sering melewatkan waktu menulis.
Menggerakkan untuk semakin giat belajar. Menulis itu ternyata aktifitas yang bisa menyembuhkan lara. Barakallah Ustadz