.
Oleh : Urip Widodo (Alumni Kelas Menulis Online Alineaku)
“Jika J.K. Rowling mendapatkan fee royalti sebesar Rp. 10.000/eksemplar buku terjual; dengan total penjualan 500 juta eksemplar hingga saat ini, berarti dia memperoleh total fee sebesar 500 juta x Rp. 10.000 atau 5 Trilyun Rupiah” –Urip Widodo, 2022.
.
Motivasi seseorang saat menulis buku berbeda-beda. Ada yang motivasinya karena idealisme, karena tugas, atau karena kebutuhan ekonomi. Bahkan tidak sedikit penulis yang menjadikan menulis menjadi mata pencaharian utamanya.
Dari mana saja penghasilan yang diperoleh seorang penulis? Tentu saja dari penjualan buku yang dia tulis. Tetapi tentu tidak sesederhana itu; menulis buku, menerbitkannya lalu menjualnya. Ada keterlibatan pihak penerbit.
Ada tiga pola kerjasama yang bisa dipilih seorang penulis ketika ingin menerbitkan bukunya.
- Sistem Royalti
Sistem royalti ini sering diterapkan penerbit-penerbit mayor. Dalam sistem ini, semua biaya pencetakkan dan penjualan buku ditanggung pihak penerbit. Penulis akan mendapatkan hak royalti sekian persen, sesuai perjanjian, dari harga jual buku dikali jumlah eksemplar yang dicetak.
Sebagai contoh, misalkan sebuah buku dicetak 3.000 eksemplar, dengan harga jual Rp. 50.000. Dengan royalti untuk penulis 10%, dan dengan asumsi terjual semua. Maka, si penulis akan mendapatkan fee sebesar:
10% x (3.000 x Rp. 50.000) = 15.000.000
- Sistem Jual Putus
Dengan sistem ini, si penulis menjual naskahnya kepada pihak penerbit, sehingga dia mendapatkan fee langsung tanpa harus menunggu bukunya laku terjual. Masalah harga, tergantung kesepakatan kedua pihak.
Memilih sistem ini tentu ada untung rugi yang akan didapatkan seorang penulis. Untungnya, penulis akan mendapatkan dana saat itu juga. Ruginya, kalau setelah diterbitkan ternyata menjadi best seller, maka yang menikmatinya hanya pihak penerbit.
- Sistem Kontrak
Sistem ini merupakan kombinasi dari sistem royalti dan sistem jual putus. Dalam sistem ini si penulis menjual naskahnya kepada penerbit tetapi dengan perjanjian dibayar setiap bukunya dicetak ulang.
Sekarang, untuk membuktikan lagi bahwa menulis bisa membuat kaya, ambil contoh penulis J.K. Rowling, penulis novel Harry Potter. Di seluruh dunia, novel Harry Potter telah terjual lebih dari 500 juta eksemplar. Penjualan sebanyak 500 juta eksemplar itu berasal dari tujuh buku seri Harry Potter dan tiga volume pendampingnya.
Kita hitung, misalkan, J.K. Rowling mendapatkan fee royaltinya sebesar Rp. 10.000. Dengan total dicetak 500 juta eksemplar, berarti dia memperoleh total fee sebesar 500 juta x Rp. 10.000 atau 5 Trilyun Rupiah. Sebuah nilai yang fantastis.
Penghasilan Terkait Menulis
Selain dari hasil penjualan naskah, seorang penulis yang sudah punya nama, punya peluang lain untuk menambah penghasilannya. Berikut beberapa profesi yang bisa dilakukan seorang penulis disamping menulis.
- Pembicara, Trainer
Seorang penulis yang sudah punya nama, berpeluang diundang oleh komunitas untuk diminta memberi motivasi, atau tips-tips menulis. Selain itu, penulis pun bisa mengadakan pelatihan menulis dimana dia sebagai trainer-nya.
- Editor
Penulis yang sudah menerbitkan banyak buku, tentu sudah berpengalaman dan mengetahui seluk beluk penulisan buku. Sehingga dia bisa juga berprofesi sebagai editor. Baik menjadi editor di sebuah penerbitan atau menjadi editor freelance.
Penulis yang sudah terkenal sangat mudah kalau mau menjadi editor. Karena nama besarnya akan menjadi jaminan kualitas dari hasil editingnya.
- Ghost Writer
Ghost writer adalah seorang penulis yang dipekerjakan oleh seseorang (biasanya tokoh) atau perusahaan dan diberi tugas khusus untuk menulis tentang mereka, baik menulis buku, blog, atau artikel.
Untuk menjadi seorang ghost writer selain harus mempunyai kemampuan menulis yang mumpuni, juga harus memiliki skill lain seperti cepat memahami keinginan si klien, mampu menjaga rahasia dan juga harus disiplin mengikuti agenda aktivitas si klien.
- Menjadi penulis artikel
Ada dua peluang dengan menjadi penulis artikel. Pertama, menjadi penulis lepas dengan mengirimkan tulisan ke media massa. Kedua, menjadi penulis tetap di sebuah media massa. Dimana dia memang direkrut untuk menjadi karyawan dari media massa tersebut.
Yang harus dilakukan seorang penulis untuk berprofesi sebagaimana disebutkan di atas, adalah menunjukkan bukti bahwa dia memang seorang penulis handal.
Jadi, tunggu apalagi? Kalau ingin kaya, menulislah!
.
Urip Widodo adalah pegawai BUMN sekaligus penulis freelance. Tinggal di Kota Tasikmalaya. Nomer WA: 0852-2385-2832. Facebook: Urip Abina Kamal. Instagram: uripwid. Email: [email protected]

Siapa yang tidak ingin kaya, dengan menulis menjadi double kaya. Kaya ilmu dan materi, judul yang mumpuni. Terima kasih pak Urip Abinal Kamal Syukran katsira ustadz Cahyadi Takariawan.