Oleh: Yulia K Rohima (Alumni Emak Punya Karya)
“Tugas seorang muslim dalam upaya memberikan edukasi kepada masyarakat khususnya yang berkaitan dengan keagamaan merupakan amanah dari Allah Swt.”
Kuntum khayra ummah,[1] begitulah istilahnya di dalam Al-Qur’an. Sebagaimana kita pahami bahwa khayra ummah atau umat terbaik tidak akan dapat dicapai tanpa adanya proses dan sarana terbaik.
Pendidikan atau dalam bahasa Arab disebut tarbiyah[2] merupakan salah satu proses mewujudkan khayra ummah. Berbagai cara dan metode pendidikan telah banyak ditemukan oleh para ahli dengan tujuan untuk memudahkan peserta didik menemukan hakikat penciptaannya, yakni menjadi hamba Allah dan sekaligus memakmurkan bumi. Ia diharapkan senantiasa dapat mengisi kehidupannya dengan beribadah dalam konteks yang luas.
Guru sebagai sosok yang digugu[3] dan ditiru memiliki peran strategis untuk mengarahkan peserta didik menjadi muslim yang lebih baik dari hari ke hari. Setiap waktu digunakan untuk berbekal meraih derajat takwa hingga pada saatnya kembali kepada Allah ia berada pada posisi terbaik dan memiliki karya bermakna bagi manusia. Dalam hal ini, kita dapat belajar dari sejarah orang-orang saleh terdahulu.
Di Indonesia, setidaknya kita mengenal ulama-ulama yang memiliki peran edukasi yang luar biasa. Pengaruh kekuatan lisan dan tulisannya mampu menorehkan maha karya yang bermanfaat untuk pencerahan umat. Walau telah lama tiada, karyanya tetap relevan dengan permasalahan kekinian. Mengapa? karena beliau-beliau bertutur kata dengan ilmu Allah dan menggoreskan tinta dengan ilmu-Nya jua.
Dalam dunia literasi, banyak ulama-ulama Nusantara yang telah melahirkan karya-karya besar yang monumental. Selain HAMKA dengan 84 bukunya, sejarah mencatat Syekh Nuruddin al-Raniri, seorang intelektual Muslim dari Aceh, yang hidup sekitar abad ke-17. Al-Raniri dikenal sebagai penulis, filsuf, dan teolog. Al-Raniri memainkan peran dalam perkembangan intelektual Islam di Aceh pada saat itu. Salah satu karya al-Raniri yaitu “Bustanus Salatin.” Namanya kini diabadikan sebagai nama perguruan tinggi agama (UIN Ar-Raniry) di Banda Aceh.[4]
Selain al-Raniri, beberapa ulama Nusantara yang karyanya dikenal dunia adalah Syekh Nawawi al-Bantani. Beliau memiliki nama lengkap Abu Abd al-Mu’ti Muhammad bin Umar al-Tanara al-Jawi al-Bantani. Lahir di Tanara, Serang, Banten pada 1813 dan wafat di Mekah pada 1897.
Syekh Nawawi adalah keturunan Maulana Hasanuddin, putra Sunan Gunung Jati Cirebon, Jawa Barat, serta generasi ke-12 dari Sultan Banten. Nawawi kecil mendapatkan tempaan pengetahuan agama langsung dari ayahnya.[5] Syekh Nawawi al-Bantani termasuk ulama asal Indonesia berkelas internasional yang menjadi Imam Masjid al-Haram di Saudi Arabia.[6]
Masih banyak nama- nama orang saleh lainnya yang patut dikenang karena kiprahnya untuk umat. Dari masa ke masa, selalu lahir generasi Rabbani[7] melalui tarbiyah[8] baik secara formal maupun non formal. Melalui tulisan, kita yang tidak pernah atau belum pernah bertemu dengan beliau, dapat dengan mudah merasakan kedalaman ilmunya, kebersihan hatinya, dan keteguhan imannya dalam memperjuangkan agama Allah.
Sebut saja KH. Hilmi Aminuddin, Ustadzah Hj. Yoyoh Yusroh, dan masih banyak nama- nama lain yang mewariskan tulisan- tulisan bermakna untuk generasi penerus dakwah di Tanah Air. Muraqabatullah[9] menjadi dasar kedalaman ilmu, ketajaman pikiran, dan kefasihan lisan dalam bertutur taushiyah[10]. Sekali lagi, meski mereka telah tiada, karyanya tetap bermakna dan relevan menjawab berbagai permasalahan umat.
Bagi saya, menulis adalah langkah untuk mengukir sejarah. Meski belum mampu menghasilkan karya besar, setidaknya karya kecil ini dapat menjadi saksi. Saksi atas harapan- harapan yang mungkin belum sempat terwujud. Ada banyak ide di kepala, ada banyak rasa yang tak mampu diucapkan.
Menuangkan semua itu dalam tulisan sederhana, telah mewakili keterbatasan lisan dan barangkali mampu menembus perbedaan zaman. Dan yang lebih penting dari itu, menulis dapat mengobati kerinduan yang amat sangat kepada sosok Nabi.[11] Mengapa? karena Nabi adalah guru terbaik sepanjang sejarah. Nabi telah mengukir masa keemasan tarbiyah yang dapat kita temukan pada sirah[12] dan hadits-hadits yang indah dan berkah.
Pencinta Nabi pasti ingin mengikuti jejak Nabi. Nabi terkenal hingga akhir zaman karena “karyanya”. Bagaimana dengan kita?
Hingga saat ini, tulisan saya masih sangat sederhana. Quotes[13] harian, catatan harian, dan kisah biasa yang masih “ringan”. Meski demikian, semangat untuk berkarya selalu ada dan membara, siapa tahu … suatu hari, karya kecil ini diakui sebagai bagian dari proses menuju khayra ummah. Allah Maha Baik dalam Mengapresiasi Hamba-Nya. Wabasysyiril Mu’miniin …[14]
Maka menulislah atas dasar keimanan sebagaimana orang saleh terdahulu, kelak akan datang kabar gembira bagi orang-orang yang beriman. Wallahu a’lam.
—————————————————————————————————————

Yulia Kuraesin Ila Rohima (Yulia K. Rohima) lahir di Kota Cimahi Jawa Barat, 3 Juli 1977. Lulusan Magister Pendidikan Islam Universitas Islam Bandung ini memiliki berbagai kegiatan bersama beberapa komunitas muslimah di wilayah Bandung dan sekitarnya. Selain itu, penulis bekerja sebagai staf Litbang sebuah lembaga pendidikan dan aktif di Humas PKS Kabupaten Bandung Barat. Penulis sering memandu acara keluarga, pendidikan, dan keagamaan. Penulis hobi berkesenian dan mempelajari bahasa. Dengan semangat long life education penulis berkeinginan untuk melanjutkan studinya ke jenjang doktoral dan menjadi pembimbing haji/ umrah. Penulis memiliki 4 buku solo dan 6 buku antologi. Empat buku solonya berjudul:
- Mahkota Cahaya Untukmu
- Ola Petualang Nurani
- Catatan Pejuang Sakinah
- Kubantu Hijrahmu
Dua dari empat buku solo tersebut adalah output kelas menulis bersama Gurunda Pak Cahyadi Takariawan. Silaturahim bersama penulis dapat melalui instagram: yulia.k.rohima atau chat ke 0813-2074-2040.
- [1] Kalian adalah umat terbaik
- [2] Pendidikan islami
- [3] Diikuti (B.Sunda)
- [4] https://hidayatuna.com/bustanus-salatin-karya-monumental-nuruddin-al-raniri/
- [5] https://www.medcom.id/ramadan/pernak-pernik-ramadan/Gbm6X6xk-5-ulama-indonesia-yang-mendunia
- [6] Wikipedia
- [7] Allah sebagai tujuan hidupnya
- [8] Pendidikan Islami
- [9] Mendekatkan diri kepada Allah melalui ketaatan
- [10] Memberikan nasihat
- [11] Nabi Muhammad s.a.w.
- [12] Perjalanan hidup
- [13] Kata-kata mutiara
- [14] Berikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman
