.
Rumesha / Rutin Menulis Setiap Hari – 7
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Kyai Sodrun diundang warga untuk datang ke sebuah rumah yang baru saja dibeli. Warga tersebut meminta tolong Kyai Sodrun untuk mengusir hantu yang sering mengganggu rumahnya. Konon ada seratus hantu yang tinggal di situ.
Setelah sang Kyai datang, ia langsung berkonsentrasi meruqyah rumah tersebut. Berbagai bacaan ruqyah terus menerus dilafalkan. Suaranya keras membahana, terdengar di seluruh penjuru rumah.
Selesai meruqyah, 99 hantu langsung melarikan diri. Mereka tidak kuat mendengar bacaan doa ruqyah dari sang Kyai.
Namun Kyai Sodrun mengerti, masih ada satu hantu yang belum pergi. Maka Kyai kembali membaca doa-doa ruqyah.
Sudah cukup lama Kyai melafalkan dengan keras doa-doa ruqyah, satu hantu itu tampak cuek, tidak mau pergi juga.
Kyai Sodrun merasa bingung. Menurut pengalamannya, doa-doa yang ia baca sangat ampuh mengusir jin dan setan yang mengganggu manusia. Namun mengapa ada satu hantu tidak mau pergi juga?
Tidak berapa lama, beberapa hantu yang tadi sudah pergi, kembali lagi ke rumah itu. Ternyata mereka menjemput satu temannya yang tertinggal.
“Maaf pak Kyai, teman kami yang satu ini budeg….” ujar mereka kepada Pak Kyai, sambil membawa temannya pergi.
Menuliskan Imajinasi
Anda pasti pernah membaca cerita humor di atas. Sudah sangat sering diposting di berbagai grup whatsapp untuk menyegarkan suasana. Kisah hantu namun dikemas menjadi humor. Jadinya tidak ngeri, justru membikin geli.
Panjang tulisan di atas hanya 177 kata. Tidak perlu panjang, yang penting Anda rutin menulis setiap hari.
Menurut Anda, apa kategori kisah Pak Kyai di atas? Ya benar. Itu kisah fiksi. Karena murni berangkat dari imajinasi. Bukan dari kenyataan, bukan benar-benar terjadi. Itu kisah rekaan.
Menurut Anda, dari mana datangnya kisah di atas? Kemungkinan pertama adalah murni dari imajinasi sang penulis sendiri. Si penulis berkhayal, lalu menemukan ide unik tentang ruqyah. Jadilah cerita lucu itu.
Kemungkinan lainnya, bermula dari cerita-cerita yang sering didengarnya. Misalnya si penulis bergaul dengan Kyai yang sering diminta meruqyah. Lalu ia mendapat sangat banyak kisah-kisah dari dunia ruqyah. Dari mendengar banyak kisah itu, ia mulai berimajinasi dengan pola pikirnya sendiri.
Atau bisa jadi, yang membuat kisah adalah peruqyah itu sendiri. Saking seringnya menghadapi jin dan setan yang suka menggoda manusia, maka ia bisa mengarang atau meramu cerita. Bukan kejadian nyata, namun berangkat dari pengalaman-pengalaman yang serupa.
Mari Menulis Imajinasi
Saya mengajak Anda rutin menulis setiap hari (rumesha). Bukan setiap pekan, bukan setiap bulan. Walau hanya 15 menit, walau hanya 100 kata, rutinlah menulis dan memublikasikan tulisan Anda.
Di antara bahan yang bisa Anda buat menjadi tulisan, adalah khayalan dan imajinasi. Tidak perlu membayangkan novel yang tebalnya 500 halaman, atau cerpen yang panjangnya 3.000 kata. Cukup imajinasi singkat saja, yang panting menulis.
Seperti kita ketahui, imajinasi dan khayalan bebas, akan melahirkan fiksi. Dalam dunia fiksi, ada jenis roman, horor, humor, sejarah, fantasi, fiksi realitas, dan lain sebagainya. Nah, tanpa harus bingung memilih aneka genre tersebut, Anda bisa berkhayal atau berimajinasi bebas, tentang sesuatu.
Boleh yang serius, boleh yang lucu, boleh yang horor, boleh roman, atau apa saja. Bahkan boleh gabungan atau campuran, seperti humor dan horor, roman dan horor, roman dan humor, dan lain sebagainya. Semua Anda buat berangkat dari khayalan.
Bagaimana cara berkhayal? Bisa jadi Anda pernah mendengar dongeng atau hikayat yang biasa berkembang di tengah masyarakat. Di Jogja ada dongeng Roro Jonggrang yang membentuk cerita Candi Prambanan.
Demi cintanya kepada Roro Jonggrang, apapun dilakukan. Bandung Bondowoso menyanggupi membuat candi sejumlah seribu (kata), yang harus sudah selesai sebelum fajar tiba. Ternyata Roro Jonggrang mengondisikan ayam untuk berkokok di tengah malam, saat Bandung sedang mengejar deadline (naskah) candinya.
Masih kurang satu candi lagi. Bandung Bondowoso tidak bisa mengejar target deadline dari Roro Jonggrang. Ia marah, dan menyatakan “Kamulah candi ke seribu itu”. Akhirnya Roro Jonggrang berubah menjadi arca.
Imajinasi yang luar biasa untuk ukuran zamannya. Sebuah kisah fiksi yang sampai hari ini masih menjadi pertunjukan di Candi Prambanan dalam bentuk sendratari.
Nah, berangkat dari kisah fiksi yang pernah ada sebelumnya, Anda bisa mengarang kisah cinta anak manusia zaman now. Seorang lelaki yang diminta membuat seribu puisi dalam satu hari, demi mendapatkan sang kekasih hati, misalnya. Sayang, masih kurang satu puisi, karena si cowok salah hitung.
Anda bebas menuliskannya. Namanya juga imajinasi. Ini cara agar Anda terus menerus berkarya. Kumpulan kisah-kisah imajinasi Anda, kelas bisa menjadi buku sendiri. Buku fiksi.
Selamat berkarya, selamat mengubah dunia dengan karya Anda.

Rumesha 7 sangat menghibur. Syukran katsiran ustaz Cahyadi Takariawan. Berimajinasi menulis khayalan plus banyolan, namun kebaikan tidak pernah di abaikan.
Sumber ide banyak sekali tinggal kita yang mau atau tidak menuliskannya. Terima kasih pencerahan nya Pak Cah.