19 September 2026

.

Oleh : Rusydien

Ada saja godaan untuk menghentikan aktivitas menulis” –Rusydien, 2022.

.

Berawal dari sebuah jawaban atas pertanyaan saya saat ditawari mengikuti kelas menulis online maka hari ini menulis menjadi sesuatu yang terus menghadirkan tantangan. Saat itu, sang mentor menyatakan bahwa tak butuh bakat untuk menulis, hanya butuh hasrat dan tekad yang kuat.

Berdasar pada hasil penelusuran atas bakat yang saya lakukan secara online, didapati bahwa salah satu kekurangan saya adalah jurnalistik. Maka, tawaran untuk menulis buku ini menjadi tantangan tersendiri buat saya untuk membuktikan jawaban dari sang mentor tadi.

Sejak memutuskan untuk mengikuti kelas menulis tersebut, maka hasrat itulah yang terus dicoba untuk dihadirkan pada diri saya. Beruntung saya dapat mengkases beragam tulisan tentang motivasi menulis, sehingga secara perlahan saya pun dapat menghadirkannya.

Walau tentu tidak mudah, tapi justru disitulah letak tantangannya. Setiap tulisan tersebut seakan menantang saya untuk membuktikan kebenarannya. Semakin terungkap, maka semakin yakinlah saya bahwa buku pertama saya akan segera bisa diterbitkan.

Selalu Ada Godaan untuk Berhenti Menulis

Saya harus berusaha keras bukan hanya untuk menghadirkan ide tapi juga saat ide itu datang bisa segera saya tuliskan” –Rusydien, 2022.

Pengalaman menulis buku pertama bagi saya adalah sebuah perjalanan menghadirkan hasrat dan menguatkan tekad sekaligus terus memperbaharui niat. Ada saja godaan untuk menghentikan aktivitas menulis.

Anak-anak yang berseteru untuk satu hal sepele, tapi begitu keras kegaduhan yang mereka hasilkan sehingga sangat mengganggu saya dalam menulis. Keadaan ini tidak terjadi satu dua kali, tapi berkali-kali hingga terkadang saya harus berhenti sejenak dan mencoba menenangkan suasana.

Tempat tinggal yang cukup kecil dengan 6 penghuni disana, memang cukup membuat saya kerepotan. Cukup sulit bagi saya membuat ruang khusus untuk aktivitas menulis ini, tapi justru ini juga bagian dari tantangan bagi saya.

Saya harus berusaha keras bukan hanya untuk menghadirkan ide tapi juga saat ide itu datang bisa segera saya tuliskan. Padahal boleh jadi saat itu suasana di rumah sedang tidak kondusif.

Sebelum mengikuti kelas ini pun, saya pernah ditantang untuk menulis ulang sebuah rekaman dari satu majelis online yang saya ikuti. Ada total kurang lebih 6 rekaman dengan durasi masing-masing tidak kurang dari 1,5 jam yang diberikan kepada saya. Dengan berbekal semangat untuk meresapi nilai-nilai dari setiap materi sekaligus bahan untuk berdakwah, maka saya pun nekad melakukannya.

Tak disangka, gayungpun bersambut. Di saat kelas menulis ini saya ikuti, maka saya pun memutuskan untuk menjadikannya sebagai bahan naskah buku pertama saya. Walaupun, belum semua rekaman rampung ditulis, tapi hal ini cukup membantu saya. Beberapa tulisan dalam naskah buku pertama saya diambil dari hasil menulis rekaman tersebut.

Miliki Cara Memotivasi Diri

Dengan menulis saya menjadi punya harapan besar untuk dapat meraih predikat manusia terbaik” –Rusydien, 2022.

Dalam upaya menggairahkan hasrat menulis, saya memberanikan diri membuka ekskul menulis di sekolah tempat saya mengajar. Beberapa siswa ternyata ada yang tertarik untuk mengikutinya, kurang lebih terkumpul 12 orang siswa SMP.

Kondisi ini membuat saya dipaksa untuk memotivasi diri sendiri agar mampu menularkannya kepada mereka minimal setiap satu pekan sekali. Saya pun secara tidak langsung harus terus belajar mengenai beragam hal tentang menulis agar bisa menyampaikan materi dengan baik kepada mereka.

Dalam menguatkan tekad, saya pun diingatkan oleh Pak Cah sebagai mentor kelas ini akan satu frase yang menurut saya begitu menyentuh hati. “Menulis dapat meluaskan manfaat” frase ini mengingatkan saya pada sabda Rasul saw, “yang terbaik di antara kalian adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”.

Dengan menulis saya menjadi punya harapan besar untuk dapat meraih predikat manusia terbaik sebagaimana sabda Nabi saw. Pak Cah pun menambahkan sebuah kisah tentang sebuah buku yang bisa menggagalkan seseorang dari rencana bunuh dirinya. Ia mendapatkan inspirasi untuk mengatasi masalah hidupnya yang begitu berat dari buku yang dibacanya itu.

Selepas terbitnya buku saya yang pertama ini, maka Pak Cah menyampaikan sebuah arahan yang lagi-lagi saya memandangnya sebagai sebuah tantangan. Belajar dari beberapa penulis produktif di berbagai belahan dunia ini, disampaikannya ada dua keteladanan mereka yang patut ditiru.  

Pertama, dalam hal keteraturan. Para penulis ini begitu ketat mengatur waktu dan tempat untuk memberikan ketahanan pada diri mereka dalam proses menghadirkan karya tulis terbaiknya.

Kedua, dalam hal konsistensi. Para penulis ini pun begitu konsisten untuk terus menulis tanpa henti. Bahkan ada yang berusaha keras memastikan bahwa ia dapat menulis 250 kata dalam waktu 15 menit secara konsisten.

Sepertinya menulis memang akan terus menghadirkan tantangan untuk ditaklukan oleh siapapun yang berhasrat dan bertekad untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Bismillahi tawakkaltu, mari berjalan menuju karya berikutnya.

.

Rusyidien adalah alumni kelas Konselor Punya Karya. Aktivitas sehari-hari mengajar. Menulis buku berjudul “Kupanggil Engkau Apa”. Tinggal di Karawang Jawa Barat. Nomer HP / WA. +62 813 1814 5139.

1 thought on “Menulis itu Menantang

  1. Menulis adalah pekerjaan sederhana, namun bernilai pahala kebaikan dan kemanfaatan bagi dirinya dan orang banyak. Namun banyak sekali yang mengabaikannya termasuk saya, hanya perlu konsisten terus menerus. Pandai memanfaatkan waktu dan selalu berusaha segera menuliskannya ketika ada ide di setiap moment. Terima kasih. ku panggil pak Rusyidien.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *