.
Oleh: Saparinawati (Peserta Kelas Antologi Batch 17)
“Selama ini salah satu yang menjadi kendalaku untuk memulai menulis adalah asyiknya aku berselancar di dunia maya, yang menggerus begitu banyak waktu yang kumiliki” –Saparinawati, 2022.
.
Dari kecil aku sangat suka membaca, berawal dari buku-buku cerita yang dibawakan oleh kakak dari tempatnya mengajar di sebuah SD Negeri di kotaku. Setiap hari kakak membawa tiga sampai empat buku cerita anak, yang langsung habis kubaca hari itu juga.
Akibatnya tugas rumah seperti cuci piring dan menyapu halaman jadi terbengkalai yang membuat ibu marah. Tapi ayah selalu membelaku karena menurutnya membaca itu sangat bagus. Dan di antara dua belas anaknya, hanya aku yang suka membaca, jadi tugas rumahku terkadang dikerjakan saudaraku yang lain.
Sampai dewasa dan bahkan sekarang, kegemaran membaca itu tidak luntur dan juga tetap membuat sampai lupa waktu. Keinginan untuk menulis sebenarnya juga ada, tetapi sangat berat untuk memulai menulis yang akan dibaca orang lain.
Aku hanya bisa menulis buku diary untuk dibaca sendiri olehku. Sudah banyak tulisanku di buku diary dari mulai SMA hingga berumah tangga. Tidak percaya diri rasanya ketika akan memublikasikan tulisan dan dibaca orang lain.
Terlalu Banyak Alasan
“Selama ini ternyata aku hanya mencari alasan saja tidak ada waktu menulis karena kesibukan dan menghibur diri dengan menikmati sajian-sajian menarik dari konten creator yang bertebaran di dunia maya” –Saparinawati, 2022.
Banyak ide yang mau aku tuangkan dalam tulisan tapi rasa tidak percaya diri seakan membelanggu untuk menuangkan ide atau pengalamanku dalam tulisan. Untuk itu aku mengukuti Kelas Menulis Online Alineaku yang dipimpin oleh Pak Cahyadi Takariawan dan Bu Ida Nurlaela dengan harapan aku bisa menghasilkan tulisan dan terbiasa untuk menulis.
Aku jadi teringat tulisan Pak Urip Widodo dalam tulisannya yang berjudul Menulislah, Maka Anda akan Pintar. “Seseorang yang gemar membaca tanpa menjadi penulis, hanya akan menangkap ilmu dan menumpuknya dalam memori otaknya, yang lama-lama akan hilang”.
Malu rasanya membaca ulasan Pak Urip Widodo yang dimuat di blog Ruang Menulis. Terbayang ribuan buku yang sudah kubaca tanpa pernah membuat satu tulisan pun. Sejenak aku hanya tercenung dan mencoba untuk membangun keberanian untuk menulis.
Hal pertama yang kulakukan adalah segera membuka laptop dan menjauhkan handphone dengan terlebih dahulu menonaktifkan suaranya. Selama ini salah satu yang menjadi kendalaku untuk memulai menulis adalah asyiknya aku berselancar di dunia maya, yang menggerus begitu banyak waktu yang kumiliki. Banyak hal luar biasa yang terlewatkan dari banyaknya aplikasi yang terinstal di handphone androidku yang membuatku berlama-lama menatap layarnya.
Tulisan ini kubuat di sela-sela waktu mengajar, ketika menunggu pergantian mata pelajaran. Ternyata aku bisa juga menulis tanpa menyediakan waktu khusus untuk menulis. Yang terpenting adalah adanya niat, kemauan, dan langsung menulis. Di mana pun dan situasi yang bagaimanapun, ternyata kita bisa menulis. Menuliskan semua yang dirasa, dilihat, dan yang dipikirkan.
Selama ini ternyata aku hanya mencari alasan saja tidak ada waktu menulis karena kesibukan dan menghibur diri dengan menikmati sajian-sajian menarik dari konten creator yang bertebaran di dunia maya. Semoga dengan tulisan perdanaku ini menjadi langkah awal untuk menghasilkan karya-karya tulisan di masa mendatang.


Masyaallah. Sederhana namun mengetuk relung sanubariku yang dalam. Selamat dan sukses kak Saparinavati.
Syukran katsira ustaz Cahyadi Takariawan.
Luar biasa, ternyata klo sdh diawali menulis itu tdk sesulit yg dibayangkan.
Terimakasih klo sdh terinspirasi tulisan sy