19 September 2026

.

Rumesha / Rutin Menulis Setiap Hari – 5 

Oleh : Cahyadi Takariawan

“When you write daily, it becomes a habit. You will get better and better each day and writing blocks will be no more” — Hephzy Asaolu, 2016.

.

Saya mengajak Anda rutin menulis setiap hari (rumesha). Bukan setiap pekan, bukan setiap bulan. Walau hanya 15 menit, walau hanya 100 kata, rutinlah menulis dan memublikasikan tulisan Anda.

Jika suatu ketika Anda bingung, tidak memiliki ide untuk ditulis, saya ajak Anda menulis cerita saja. Ya benar. Cerita tentang kejadian sehari-hari. Anda bebas bercerita apa saja, dari yang paling serius, paling aneh, paling lucu, paling mengerikan, sampai yang biasa-biasa saja.

Nah, di saat Anda kehabisan ide menulis, maka Anda bongkar semua ingatan. Anda pilih satu cerita untuk ditulis setiap hari. Saya yakin, cerita Anda tidak pernah habis untuk dituliskan.

Tulisan cerita nyata seperti ini berjenis nonfiksi. Boleh Anda disertakan dialog. Boleh menggunakan teknik showing, tidak hanya telling. Boleh menggunakan metafora, jika suka. Menulislah secara santai saja.

Bagaimana cara menulis cerita nyata? Sangat mudah. Hadirkan dulu ingatan Anda, lalu mulailah menarasikan. Saya berikan contoh cerita yang pernah saya alami berikut ini.

*****

Antre

Malam hari selepas Maghrib, saya menyempatkan diri mengunjungi sebuah toko untuk membeli beberapa barang. Karena masa liburan, toko itu sangat ramai.

Sebenarnya toko itu tidak terlalu luas namun isinya sangat komplit. Menemukan beberapa barang yang saya perlukan tidak susah, karena saya sudah hafal tempatnya.

Dalam waktu cepat semua barang yang saya perlukan sudah masuk dalam keranjang belanjaan. Segera saya bawa ke kasir satu-satunya, yang tengah dikerubuti oleh para pelanggan.

Di depan kasir inilah saya mulai merasakan ketidaknyamanan. Mungkin petugas konter kasir sudah lelah melayani pelanggan seharian, jadinya ia melayani dengan sangat lambat. Menghitung belanjaan seorang customer saja terasa begitu lama padahal barang belanjaannya tidak banyak.

Mungkin ada sekitar sepuluh orang di depan saya. Mau apa lagi, sudah terlanjur masuk dalam angtrean. Saya sabar saja antre membayar.

Tinggal satu orang pelanggan di depan saya. Seorang ibu dengan putri kecilnya. Barang belanjaannya saya perhatikan satu keranjang tidak penuh. Semoga tidak terlalu lama dilayani penjaga konter kasir.

Akhirnya ibu di depan saya pun membayar barang belanjaannya. Saya lega, berarti tiba giliran saya.

Belum lagi ibu di depan saya meninggalkan konter kasir, tiba-tiba muncul seorang wanita muda menyerobot antrean. Ia langsung berdiri di bagian paling depan, paling dekat dengan kasir, tanpa peduli pada antrian panjang yang tengah terjadi.

Saya perkirakan usia wanita itu sekitar tigapuluhan tahun. Cantik dan tampak terdidik. Penampilannya rapi, tampak sebagai orang berperadaban kota. Namun saat berbelanja di kota kecil ini, ia tampak seperti orang yang tidak berperadaban.  

Seakan-akan ia tidak melihat orang antri, dengan cuek dan tanpa peduli ia langsung berdiri di urutan paling depan. Barang-barang belanjaannya langsung ditaruh di depan kasir. Semula saya belum mengerti maksudnya.

Saya baru sadar tentang apa yang sesungguhnya terjadi ketika melihat penjaga loket kasir langsung melayani wanita muda tersebut. Saya tersentak kaget. Ternyata wanita cantik itu benar-benar menyerobot antrean.

Semula saya menduga dia hanya menitip barang di depan. Kekagetan saya bertambah besar ketika wanita itu tidak mengatakan sepatah katapun kepada para pengantre, tentang tindakan yang baru saja dilakukan. Saya masih berbaik sangka padanya, mungkin ia sangat tergesa-gesa.

Namun bukankah ia bisa meminta maaf atau meminta izin kepada para pengantri kasir. Misalnya mengatakan, “Maaf ya Pak, saya sangat tergesa-gesa…” Atau ia bisa mengatakan, “Mohon ijin, saya mendahului antrian karena ada keperluan mendesak….” Atau dengan cara lainnya.

Mungkin saja ia akan mengucapkannya nanti usai transaksi, pikir saya. Eh, ternyata juga tidak. Usai transaksi di kasir ia langsung pergi begitu saja tanpa permisi dan tanpa basa-basi. Bahkan dengan isyarat pun tidak.

Di sisi yang lain, kasir juga tidak peduli. Ia tahu ada antrian di depannya, namun membiarkan saja ada penyerobot yang mendahului antrean. Saya pun diam saja karena masih belum pulih dari kekagetan dan keheranan atas sikap wanita tersebut.

Seakan-akan karena cantik maka pantas diprioritaskan dan tidak perlu ikut antre. Seakan-akan wanita cantik harus selalu dimaklumi. Jika di beberapa kejadian ada idiom “siapa kuat dia menang”, maka dalam kejadian ini seakan berlaku prinsip “siapa cantik dia yang menang”.

Hmmmm…. Saya menghela nafas panjang. Wanita muda, cantik, terdidik, sayang berkelakuan tidak sopan. Seakan ia tidak tahu atau tidak melihat ada antrean.

Beginilah kondisi banyak masyarakat kita. Betapa sulit tertib. Betapa sulit antre. Betapa rendah budaya malu di antara kita. Bahkan di lingkungan masyarakat yang terdidik sekalipun.

*****

Di atas adalah contoh menulis cerita atau kisah nyata. Semua dari kita memiliki ribuan bahkan jutaan cerita yang tak ada habisnya. Karena setiap hari selalu ada cerita baru, sementara yang lama belum ditulis. Jadi tidak pernah habis.

Cerita atau kisah nyata yang terjadi dalam kehidupan kita, adalah sumber ide menulis yang tak akan habis. Sampai umur kita habis, cerita nyata masih akan terus bisa kita kais.

Mari terus menulis. Seperti pernyataan Hephzy Asaolu (2016), “When you write daily, it becomes a habit. You will get better and better each day and writing blocks will be no more”.

Ilustrasi : https://www.fromthegrapevine.com/lifestyle

3 thoughts on “Menulis Cerita Harian

  1. Sekali lagi terimakasih yang tak terhingga.
    Pak Cah dan Bu Ida tidak bosan-bosannya memberi motivasi kepada siapapun yang membaca artikel ini.

  2. Benar sekali ustaz Cahyadi Takariawan, cerita sehari–hari selalu saja ada bahkan tidak ada habisnya. Insya Allah semoga bisa rumesha. syukran katsiiran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *