.
Rutin Menulis Setiap Hari (Rumesha) – 16
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Berpagi-pagi, saya sudah harus meninggalkan rumah. Ditemani seorang sahabat, saya berangkat sebelum Subuh, pukul 04.30 WIB menuju bandara Adisutjipto Yogyakarta. Proses boarding pesawat Wings Air berjalan lancar, dan alhamdulillah berangkat tepat waktu, pukul 06.00 WIB.
Luwuk Banggai, itulah destinasi akhir yang hendak saya tempuh hari ini, Jumat 25 Mei 2012. Sebuah kabupaten nun jauh di provinsi Sulawesi Tengah.
Wings Air jurusan Yogyakarta menuju Surabaya menggunakan jenis pesawat kecil, ATR 72-500 dengan kapasitas 70 penumpang, ternyata cukup nyaman. Satu jam pesawat menempuh perjalanan menuju Surabaya, dan transit sekitar satu jam. Kami sempat sarapan pagi di sebuah lounge di bandara Djuanda.
Berikutnya adalah perjalanan dari Surabaya menuju Makassar, menggunakan Lion Air jenis B 737 – 900 ER. Waktu tempuh sekitar satu jam dan duapuluh menit terasa lancar dan cepat, karena saya berhasil tidur selama penerbangan.
Terbangun ketika pramugari meminta saya menegakkan sandaran tempat duduk karena pesawat sudah siap mendarat di Makassar. Tiba di Makassar sekitar pukul 11.00 WITA.
Transit di Makassar cukup lama, karena pukul 16.00 WITA baru akan meneruskan penerbangan menuju Luwuk Banggai. Ada waktu sekitar empat jam di Makassar.
Kesempatan ini saya manfaatkan untuk mengunjungi “tempat favorit” di Kota Makassar, yaitu Palubasa Serigala. Dengan menggunakan bus Damri bandara, kami berdua menuju kota, untuk mengunjungi gang Serigala.
Usai menikmati Palubasa Serigala, segera kami kembali ke bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Masih ada waktu sedikit untuk berjalan-jalan di lingkungan bandara Makassar, sebelum akhirnya kami dipanggil untuk boarding.
Perjalanan berikutnya adalah rute Makassar menuju Luwuk Banggai, kembali menggunakan Wings Air jenis ATR 72-500. Pukul 16.00 WITA pesawat take off. Waktu tempuh sekitar satu jam dan duapuluh menit, seperti waktu tempuh Surabaya – Makassar.
Cuaca cukup bagus, dan berhasil mendarat dengan selamat di bandara Syukuran Aminuddin Amir, Luwuk Banggai yang landasan pacunya hanya 1,8 km. Sangat pendek.
Bandara ini sebenarnya sudah cukup lama, namun mulai dimasuki pesawat besar baru sekitar dua tahun terakhir. Sudah ada maskapai Merpati dan Batavia yang menggunakan jenis pesawat besar, Boeing 737 – 200 dan 737 – 300. Sedangkan Wings Air dan Express Air menggunakan jenis pesawat kecil.
Tepat pukul 17.30 WITA kami mendarat di Luwuk Banggai. Selanjutnya kami dijemput oleh para panitia di Luwuk. Perjalan menuju Kota Luwuk memerlukan waktu sekitar 30 menit. Tiba di hotel tempat kami menginap sudah pukul 18.30 WITA, saatnya shalat Maghrib.
Jika dihitung waktu yang kami gunakan sejak berangkat dari rumah, hingga tiba di kota Luwuk Banggai, ternyata menghabiskan 14 jam. Lebih panjang dari perjalanan Yogyakarta menuju Jeddah!
Luar biasa Indonesia, negeri yang sangat luas wilayahnya. Berjalan dari Yogyakarta menuju Luwuk Banggai, lebih lama dibanding perjalanan dari Yogyakarta menuju Jeddah, yang ‘hanya’ 9 jam.
Maka pak Anwar, Ketua panitia di Luwuk Banggai mendoakan, “Semoga perjalanan Pak Cah mendapat pahala seperti haji”.
******
Catatan perjalanan dari Yogyakarta menuju Luwuk Banggai tersebut, sudah saya tulis pada tahun 2012. Panjang tulisan adalah 442 kata. Itu adalah contoh bagaimana sebuah rangkaian perjalanan dituliskan.
Tidak sulit sama sekali menuliskan kisah perjalanan, atau catatan perjalanan. Terlebih perjalanan yang mengesankan, atau ada nilai keunikan di dalamnya.
Saya menemukan hal unik dalam perjalanan menuju Luwuk Banggai tersebut. Saya berangkat dari rumah pukul 04.30 WIB, tiba di lokasi tujuan pukul 18.30 WITA. Ternyata seharian dari Subuh hingga Maghrib, dan masih di Indonesia. Belum ke luar negeri.
Nah, Anda semua pasti memiliki sangat banyak pengalaman perjalanan, baik dalam negeri maupun luar negeri. Itu semua bisa menjadi tulisan, yang bisa Anda hadirkan setiap hari.
Tidak sulit membuat tulisan rutin setiap hari. Karena segala sesuatu bisa menjadi tulisan, termasuk kisah dan catatan perjalanan. Saya pernah membuat buku berisi kumpulan catatan perjalanan di wilayah timur Indonesia.
Selain menuliskan kondisi perjalanan, kita juga bisa menyelipkan perenungan ataupun hikmah di dalamnya. Bukan sekedar kronologi perjalanan dari rumah hingga tiba di tempat tujuan. Namun bisa memberikan value dalam catatan perjalanan kita.
Namun jika Anda baru mampu menuliskan kejadian atau kronologinya saja, lakukan saja. Tuliskan saja. Yang penting rutin menulis setiap hari. Walau hanya 100 kata, walau hanya 15 menit. Rutinlah menulis.

Setiap perjalanan atau kunjunganpun bisa di tuliskan untuk berbagi pengalaman dan perenungan. Syukran katsiraa ustaz Cahyadi Takariawan