20 September 2026

.

Rutin Menulis Setiap Hari (Rumesha) – 17

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

(1)

Ada tiga ranah dalam pembelajaran yang harus tersentuh, yaitu pengetahuan, ketrampilan dan afektif. Dalam suasana pembelajaran online, yang paling sulit terpantau adalah ketrampilan dan afektif. Teknologi online seperti zoom meeting tidak bisa menggantikan pertemuan langsung dengan siswa.

Keinginanku untuk melakukan tatap muka semakin besar. Tidak tega melihat lorong kelas yang sepi, ruang kelas yang penuh debu, perangkat keras bantuan pemerintah teronggok sepi tanpa ada yang menyentuhnya.

Sayang, bangunan yang dibuat untuk mencerdaskan anak bangsa jadi terbengkelai. Bukan hanya itu. Ada ruang kelas yang ditempat penghuni lain. Ada beberap ekor biawak bersarang di sana. Induk biawak dan anak-anaknya sedang menikmati rumah baru.

Bahkan ada biawak yang mengamuk di salah satu ruang kelas, menyebabkan ruang tersebut berantakan serta penuh kotoran. Biawak tersebut sudah sepekan terkunci di ruangan, sampai lupa jalan keluarnya.

Bagaimana kalau pembelajaran online masih berlanjut setahun lagi? Berapa banyak biawak akan menghuni kelas-kelas ini?

Lazpriani, Memendam Rindu Kembali, dalam : Antologi Beranda Rindu (2021)

(2)

Anak-anak sudah mencapai posisi seperti yang diinginkan Biyung. Mereka sudah memiliki kehidupan yang layak. Namun Biyung kini sendiri. Sang suami sudah menghadap Ilahi, duabelas tahun silam.

Kerinduan Biyung seperti rindunya rumput kering kepada hujan. Akan tetapi apa mau dikata, semua anak telahmemiliki kesibukan masing-masing. Begitu inginnya Biyung dikunjungi. Senyum terkembang apabila anak-anak datang bertandang.

Di masa senjanya, Biyung hanya ingin ditemani. Hatinya sering bertanya, akankah aku terus sendiri sepanjang waktu? Akankah aku terus sendiri sampai matahari tak terrbit lagi? Air mata Biyung menetes. Hatinya sedih mengingat buah hatinya yang merantau jauh.

Lima anaknya, tak ada yang bisa menemani. Biyung tetap sendiri. Sepi.

Sri Wahyuni, Senja Tanpa Warna, dalam : Antologi Beranda Rindu (2021)

(3)

Salah satu soal ujian semester genap tahun ini aku buat dalam bahasa Inggris. “What will you do after C-19 will be finish, my student?” Pertanyaan aku kirim melalui whatsapp, disertai emoticon spirit, untuk menyemangati murid-muridku.

Salah satu jawaban muridku adalah, “Saya ingin memeluk ustadzah dan teman-teman sekelas. Kami rindu belajar di sekolah”. Sambil memeriksa jawaban yang lain, tidak terasa air mata meleleh membasahi pipi.

Subhanallah, semoga Allah mengijabah doa murid-murid. Mereka semua sudah rindu ingin segera bertemu dan belajar di dalam kelas. Bukan online.

Leginik, Rindu Seruas Jari, dalam : Antologi Beranda Rindu (2021)

(4)

Sejak Asep kuliah sambil bekerja, komunikasi melalui telepon semakin jarang ia lakukan. Hari-hariku kembali sepi. Kerinduan mulai menggerogoti hati. Makin hari kerinduan itu makin menjadi-jadi.

Setiap hari kutelusuri ruang-ruang yang pernah aku gunakan berkegiatan bersamanya. Meja dapur tempat meracik kopi bersamanya. Kamar tidurnya yang dingin.

Kubuka lemari pakaiannya. Kulihat baju-baju Asep masih tergantung rapi. Kusentuh dan kucium berkali-kali.

Umdzatul Hasanah, Tentang Rindu Seorang Ayah,  dalam : Antologi Beranda Rindu (2021)

(5)

“Ibu”, tiba-tiba dia memanggilku. Menatapku dengan wajah memelas.

“Ibu tahu kan kalau akau tidak memiliki abah dan umi sejak kecil. Aku tak pernah melihat wajah abah dan Umi”, sambungnya.

“Abah meninggal dunia saat aku masih dalam kandungan. Umur satu tahun, aku ditinggal umi. Ia wafat, menyusul abah” lanjutnya pelan.

“Dalam kepiluanku hidup sendiri tanpa orangtua, tiba-tiba aku merasa menemukan sosok umi pada diri ibu”. Ia menghela napas panjang.

Aku terdiam mematung. Menunggu kelanjutan ceritanya. Andai ia perempuan, tentu sudah aku peluk erat dan membenamkan di dadaku.

Siti Rofiah, Ibu Bayangan, dalam : Antologi Beranda Rindu (2021)

(6)

Merupakan penyesalan yang amat besar bagi Adam saat harus diturunkan ke bumi. Terlebih ketika harus berpisah dengan Hawa. Rasa rindu dan kesepian yang memilukan telah menderanya.

Limaratus tahun berpisah. Setiap hari mereka saling merindukan. Pagi, siang, sore dan malam, Adam selalu merindukan kehadiran Hawa di sisinya. Pun Hawa berharap dapat kembali bersama Adam.

Mustofa Dimyati, Meneladani Kisah Kerinduan Manusia-Manusia Pilihan, dalam : Antologi Beranda Rindu (2021)

(7)

Riuhnya suara dan teriakan manja di dalam kelas sudah tak terdengar lagi. Yang terlihat hanya ruang hampa dan kursi-kursi kosong tak berpenghuni. Tak ada lagi canda tawa, tak ada lagi keributan siswa, yang tersisa hanya sunyi.

Gawai dan laptop pun mulai lelah menemani. Andai bisa, mereka akan berteriak karena penuhnya memori. Pandemi telah mengubah semua kondisi. Kami ingin semua segera pulih kembali.

Tak mampu menahan rindu, kami terus berhalusinasi. Seakan mendengar riuh suara kedatangan siswa siswi. Ruang-ruang rindu ini, tak bisa menunda lagi.

Khamsiatun, Sejumput Rindu, dalam : Antologi Beranda Rindu (2021)

Tuliskan Rindumu

Semua manusia memiliki rasa rindu. Terhadap apapun, pasti pernah mengalami rindu. Ada yang merindukan orangtua, setelah merantau jauh. Ada yang merindukan anak, karena lama tak ketemu. Ada yang merindukan kampung halaman. Ada yang merindukan kuliner kenangan.

Pernahkah terpikir untuk menuliskan rasa rindu? Cobalah menuliskannya. Anda akan mendapatkan pengalaman emosional yang seru.

Dengan menuliskan rindu, Anda bisa mengenang semua kenangan. Anda bisa mengekspresikan rindu, sambil menanti kesempatan yang memungkinkan untuk menuntaskan rindu itu.

Seperti para kontributor buku Antologi Beranda Rindu (2021). Mereka bergabung dalam buku, untuk mencurahkan rasa rindu.

Penasaran dengan buku Antologi Beranda Rindu? Ikuti launching dan bedah buku Antologi Beranda RIndu, pada hari Sabtu 7 Agustus 2021, pukul 16.00 – 17.30 Wib, melalui Zoom Meeting dan Wondeful TV Channel.

Selamat menulis, selamat menikmati rindu yang manis.

Bahan Bacaan

Tim KMO Batch 29, Antologi Beranda Rindu, Global Bakti Asih, Lampung, 2021

1 thought on “Tuliskan Rindumu

  1. Seringkali saya merasa rindu yang menggebu, namun yang di tulis di coretan tangan hanya rindu pada ibu. Ternyata banyak sekali setelah ada ide tulisan tentang rindu.Syukran katsiraa ustaz Cahyadi Takariawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *