19 September 2026

.

Oleh : Sinta Marlina, S,Psi. (Terapis Yoga Anak, Alumni KMO Basic 33)

.

“Nggak mungkin! Nggak mungkin seorang ibu rumah tangga bisa rutin menulis”, demikian pikiran banyak ibu rumah tangga.

Saat bangun di ujung sepertiga malam, habis dipakai untuk bermunajat padaNya. Belum lagi bolak balik ke kamar mandi, karena  tidak sanggup menahan dinginnya suhu pagi.

Keluar kamar biasanya untuk minum air putih dan madu  sambil  makan sebutir kurma. Selang kemudian terdengarlah suara tahrim di masjid seberang. Tanda waktu menjelang subuh. Tiba-tiba perut terasa mulas. Baiklah, nampaknya kita harus jalani dulu ‘panggilan alam’ ini sebelum sholat dimulai.

Sholat Subuh dengan sunnahnya, anggaplah selesai kira-kira hingga  pukul 5. Lanjut ke dapur, karena sudah merasa lapar.

Persiapan sarapan dilakukan hingga pukul 06.30 wib. Itu sudah termasuk nyapu dan bersih-bersih rumah. Wah, persediaan bahan masakan mentah di kulkas, nampaknya mulai menipis. Artinya aku harus pergi belanja ke pasar hari ini. Sesuai catatanku semalam.

Aku suka sekali mencatat segala hal yang akan dilakukan esok, saat  jelang tidur malam. Tujuannya agar bisa mengatur waktu dengan baik, dan tidak terlena pada satu kegiatan saja. Hal itu seringkali terjadi.

Sedang asik buka WA grup atau membalas chat japri, kadang kerjaan lain jadi terlantar. Masak nasi jadi gosong, misalnya. Catatan kecil itu sangat berarti sekali bagiku, terutama sebagai pengingat sekaligus  pembatas waktu.

Bergegas kutemui anak kedua, untuk minta diantar ke pasar. Maklumlah, sebagai manusia yang belum bisa mengendarai motor, aku selalu minta tolong padanya untuk mengantar ke beberapa tempat. Termasuk pagi ini. Pukul 7, baru bisa rapih dan bersiap keluar rumah. Di pasar, aku bisa menghabiskan waktu hingga 1 jam untuk berkeliling.

“Lama banget Mah,” keluhnya. Lah, dia gak tau gimana pusingnya  puter otak, mengatur keuangan belanja agar cukup untuk 3 hari. Ditambah harus belanja seefisien mungkin, agar kantong belanja ini bisa muat ke dalam box motor. Itu juga tak kalah penting, loh.

Untuk sampai di rumah tepat pukul 8, sepertinya tidak mungkin. Karena tadi sebelum ke pasar, Kita harus mengambil uang dulu di ATM. Pakai antri pula.

Oya satu lagi,  pulangnya tadi mampir ke toko herbal untuk beli madu. Lanjut singgah membeli beberapa potong kue pancong. Pesanan anak gadis di rumah.  Aku berpikir, tiba di rumah kemungkinan pukul 08.45 WIB. Jadi total keseluruhan aktifitas belanja hampir 2 jam lebih.

“Tumben lama, Mah … motornya mau dipakai nih,” ujar Ayah yang sudah berdiri di depan pintu teras.

“Loh, bukannya WFH, Yah?” tanyaku heran.

Diputarnya posisi motor sambil berseru dari dalam helm,  “Ada rapat yang harus offline  pagi ini,” jawabnya.

“Sama, aku juga mau belajar online, takut telat nih,” selah Adek. Hmmm, ternyata dia menyimpan ketakutan sendiri selama mengantarku ke pasar tadi.

“Ya, abis bagaimana lagi? Apa kita beli saja, untuk menu 3 hari ke depan?” gumamku lirih.

“Mamah sih, asik-asik aja kalau keputusannya seperti itu… Malah enak, makanan telah siap … Aku tinggal santai sambil buka-buka facebook deh,” jawabku terkekeh-kekeh sendiri.

“Ufffh … dua lawan satu,”  batinku. Semoga kata penutup tadi jadi pamungkasnya.

Lanjut kegiatan merapihkan belanjaan hingga tuntas mengolah makan siang. Waktu yang dibutuhkan sekitar 1,5 jam. Artinya pukul 10.30 wib, aku baru bisa mandi dilanjut dengan  sholat dhuha.  

Terakhir melakukan ritual rebahan, sambil menaikkan kaki ke atas dinding kasur, dengan membentuk posisi 90°. Info ini kudapatkan dari Instagram. Tujuannya agar sirkulasi darah yang berpusat di kaki bisa memuai ke seluruh tubuh.

Sangat bagus buat mereka yang seharian banyak melakukan aktifitas berdiri. Bahkan katanya  bisa membuat tidur lebih nyenyak walau sejenak. Eh, beneran loh. Ini tadi aku sempat merem sebentar.

Apa? Setelah duhur kegiatannya nganggur? Waduh, itu cucian dan setrikaan, siapa yang pegang boss? Hehehe, sudah mulai kebayang, repotnya?

Nanti setelah Ashar, perut mulai terasa perih lagi. Pingin ngemil sore.  Biasanya bikin penganan kukus atau goreng. Menu andalan sebagai pelepas penat bagi bapak dan anak di rumah, setelah melakukan kegiatan kantor dan kampus siang tadi.

Coba tebak, aku sudah berapa kali masuk dapur?  Subuh, siang dan sore. Ditambah satu lagi nanti,  saat menghangatkan makan malam. Jadi total 4 kali masuk dapur.

Ba’da isya, aku tadarus Quran. Sedangkan ba’da magrib digunakan untuk menyiapkan makan malam keluarga.  Pukul  9 malam siap-siap istirahat panjang. Biasanya saat itu  mata  mulai terasa berat, ngantuk. Jadi habis kan, waktuku seharian?  Lalu kapan waktunya  untuk menulis?

Duhai Ratu rumah tangga, telah nampak beberapa titik peluangmu dalam menulis. Mulai dari kebiasaan mencatat jadwal kegiatan rumah, hingga persiapan belanja.

Peluang waktu yang dimiliki, juga lebih banyak. Seperti jelang sholat duhur, ashar atau ketika mau tidur malam. Itu semua bisa ditulis dalam buku kecil. Di saat tenang,  semuanya akan dipindahkan ke media laptop/komputer.

Bahkan  secara tidak sadar, curhatanmu ini sebenarnya bisa jadi sumber tema yang menarik untuk dituliskan. Tentang trik mengatur keuangan belanja, kegunaan istirahat dengan posisi 90°, hingga  manfaat makan dan minuman herbal pada kesehatan tubuh.

Selain mencerahkan, juga bisa menambah rasa empati para pembaca diluar sana. Utamanya dalam memahami profesimu sebagai ratu rumah tangga. Semua jadi mungkin, kan?

Bagaimana, siap untuk menulis?

.

Sinta Marlina, S,Psi. adalah terapis yoga anak, alumni KMO Basic batch 33. Alamat email [email protected], instagram @myseenlook.

1 thought on “Bagaimana Mungkin Ibu Rumah Tangga Sempat Menulis?

  1. Pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan mulia, walau hanya mengurus dan menguras tenaga. Hebat kakak. Salam sapa dan jumpa kak Sinta Marlina S.psi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *