.
Oleh : Kantin Emak Produktif
.
(1)
Tidak perlu berharap kepada makhluk karena mereka pun masih berharap pertolongan-Nya. Berharaplah kepada Pemberi Harap.
–Sri Rohmatiah
(2)
“Matematika manusia sangat berbeda dengan matematika Allah”. Dalam hitungan matematika manusia angka 10 dikurangi 8 maka tinggal 2. Dalam hitungan Allah akan berbeda. Bila kita memiliki uang Rp 10.000,00 kemudian kita sedekahkan Rp 8.000,00 maka yang tersisa secara fisik memang Rp 2.000,00.
Namun, dari yang tersisa tersebut keberkahannya banyak dan Allah gantikan dengan berlipat-lipat kebaikan rezeki. Hidupkan Ramadhan dengan sedekah.
–Dewi Handayani
(3)
Dalam kehidupan sehari-hari, sering ditemui orang-orang yang gemar membandingkan nasib dirinya dengan orang lain. Merasa dirinya paling sengsara, paling riweuh dan pusing sendiri.
Padahal Allah memberikan cobaan itu, sebagai ujian kepada setiap insan dengan tingkat kesulitan yang sesuai kemampuan dan keimanan masing-masing. Dan Allah tidak mungkin salah menakar, atau berat sebelah. Ada baiknya selalu merenungkan hikmah di balik cobaan yang dialami. Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 286, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”.
–Dewi Indrayati
(4)
Tangis dan tawa adalah cara Allah menyapa kita. Jangan berbangga hati karena selalu berderai tawa dan tak perlu bersedih hati jika air mata yang sering kita jumpa. Derai tawa tak selalu menandakan kebaikan, seperti juga tangisan yang tak selalu bermakna keburukan. Baik dan buruk berpulang pada bagaimana kita menyikapinya.
–Eli Halimah
(5)
Penuhilah janji, karena itu adalah hutang yang harus engkau tunaikan. Bila tidak engkau tunaikan maka kata Rosulullah SAW engkau termasuk golongan orang yang munafik. Kecuali janjimu bernilai maksiat maka tidak wajib untuk ditunaikan.
–Meivany Azarini
(6)
Bulan Ramadan adalah bulan latihan, tidak hanya latihan menahan lapar, dahaga dan menahan hawa nafsu tapi juga latihan mengelola pikiran. Berawal dari pikiranlah engkau bertindak, pikiranmu yang menentukan seperti apa dirimu hari ini, esok, lusa, dan seterusnya. Ketika seseorang menyakitimu, hatimu akan sakit, hal tersebut terjadi jika pikiranmu menerima rasa sakit, rasa sakit tidak akan melekat pada dirimu jika engkau tidak mengisikannya.
Hal yang membuat kita sering sakit adalah harapan dan kekecewaan. Kecewa dengan masa lalu yang tidak sesuai keinginan, dan berharap pada sesuatu yang belum terjadi ke-dua kondisi tersebut tidak tampak “Maya” mengapa engkau memberikan kesempatan untuk menyiksa hidupmu? Hapus kecewa dan harapan. Bersujud, berdoalah kepada yang Kuasa, memohon kelapangan hati, karena sejatinya hati adalah milik Allah.
–Warlinah
(7)
Kebaikan itu amatlah luas. Dari memberikan senyum tulus, menolong orang lain, atau menunjukkan kepada kebenaran. Bahkan, akan menjadi sesuatu yang istimewa adalah memberi maaf. Memaafkan bukanlah hal sederhana, yang kita ucapkan dengan ringan saat lebaran, tetapi ia adalah jabat erat hati dan tangan, membutuhkan pengorbanan rasa, meluruhkan gengsi dan kesombongan.
Memaafkan adalah hal istimewa, obat mujarab ketika hati dirundung kecewa. Ramadan memanggil kita untuk mema’afkan atas luka tanpa menunggu lebaran tiba. “Sebuah kebaikan memaafkan orang lain, merupakan kebijaksanaan memaafkan diri sendiri. Sebuah kelapangan hati, bebas sombong, iri, dan dengki, surga pun menanti”
–Puspa Mafazan
(8)
Tidak peduli orang mau berkata apa, selama kita masih di koridor yang seharusnya. Tak peduli walau harus kecewa dan ada duka. Karena Allah tahu yang terbaik untuk kita.
–Hellen Patraliza
(9)
Salah satu sifat manusia adalah rasa ingin tahu dan mudah mengkritik sesuatu. Boleh-boleh saja sepanjang dilakukan pada tempat dan waktu yang tepat.
Berlagak pintar, seolah paham, dan mengikuti trendy mungkin menjadi bagian dari gaya orang-orang yang tidak mau disebut kudet. Saking harus update nya, meski tak paham, bisa saja kritik dan saran tiba-tiba dilontarkan. Lucu juga sih dan lumayan dapat mencairkan suasana. Tapi jika pada akhirnya terjadi kesalahpahaman, bisa berabe, lebih baik berhati- hati sebelum melukai hati. Apa yang akan diucapkan, hendaknya dipikirkan terlebih dahulu.
–Yulia K Rohimah
(10)
Langit tak selamanya biru karena setiap saat berganti tanpa henti. Begitu juga dengan hidup ini. Hidup akan terus berganti warna sampai titik hitam sehingga kita harus kembali pada pemilik diri ini. Untuk itu, semua warna sangatlah bermakna dan berarti apabila kits mau mengerti.
–Wydiesti

(11)
Berkah Ramadan tidak dapat dihitung sebab tiap amalannya mendapat pahala yang berlipat-lipat ganda. Ibarat biji padi yang ditanam tumbuh dan beranak, yang tiap pucuk-pucuknya bermunculan bulir-bulir buah yang banyak.
–Ifah Latifah
(12)
Berbuat baik harus dilatih bahkan jika perlu harus dipaksa. Melawan kemalasan dikala ramadan sangat dianjurkan agar kebiasaan baik menjadi Istiqomah dilakukan setiap hari
Membaca Al-Qur’an, jika tidak biasa menjadi enggan pun jika bersedekah jika tidak biasa juga akan merasa eman. Yuk mumpung masih dalam ramadhan kita melatih dan memaksa diri untuk berbuat baik. Jika terbiasa maka akan biasa.
–Khuriyatul Ainiyah
(13)
Bagaimana interaksimu dengan Al-Quran pada bulan Ramadan? Jika di bulan Ramadan saja Alquran hanya engkau jadikan pajangan, bagaimana hubunganmu dengannya pada bulan selainnya?
–Leni Cahya
(14)
Perkara meluruskan niat, cukup sederhana saja. Jangan pernah ada tujuan apa pun kecuali Allah semata, dalam setiap amal yang kita lakukan. Sekali amal tercemar oleh keinginan-keinginan lain, takkan pernah ia bisa lurus menuju Tuhannya. Tak mungkin pula ia sampai pada puncak keridaan-Nya.
–Junayda Abinaya
(15)
Tangis dan tawa adalah cara Allah menyapa kita. Jangan berbangga hati karena selalu berderai tawa dan tak perlu bersedih hati jika air mata yang sering kita jumpa. Derai tawa tak selalu menandakan kebaikan, seperti juga tangisan yang tak selalu bermakna keburukan. Baik dan buruk berpulang pada bagaimana kita menyikapinya.
–Eli Halimah
(16)
Janganlah kita berpikir bisa mengubah orang lain karena hidayah adalah hak Allah. Tugas kita hanya saling mengingatkan, sesungguhnya yang bisa kita ubah adalah diri kita sendiri, yaitu pikiran, hati, dan perbuatan.
Baik buruknya kita adalah karena pilihan kita bukan orang lain. Maka berbuatlah karena Allah. Sandarkanlah semua harapan kita hanya kepada Allah.
–Wince Jaminan
(17)
Sungguh, panjang angan-angan telah membuat manusia meremehkan nikmat dan merampas bahagia. Padahal kebahagiaan itu hadir saat mampu bersyukur pada setiap nikmat yang dekat dan ketika hati lapang menerima takdir yang melekat.
–Atifah Saleha
(18)
Ujian hidup seseorang antara satu dengan yang lainnya berbeda beda. Ada yang diuji dari sisi keluarga, ada yang diuji dari sisi finansial. Masing -masing diuji sesuai dengan kadar kemampuannya.Yakinlah setelah kesulitan ada kemudahan.
Insyaallah apapun ujian yang sedang kita jalani tetaplah berprasangka baik kepada Allah. Kewajiban Kita hanyalah bersabar.semoga ramadhan semakin menempa kita menjadi hamba yang bersyukur
–Nur Pujiasih
(19)
Seringkali kita menilai seseorang memiliki sifat pemalu. Namun, apakah arti malu? Malu adalah menahan diri dari melakukan hal-hal yang berakibat negatif. Dari pengertian itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa malu itu seperti bisikan hati nurani yang bersemayam dalam jiwa seseorang.
Maka malu akan mengatakan, “Saya lebih tinggi dari perbuatan terkutuk itu dan saya lebih mulia dari perbuatan tercela itu.” Malu memiliki pertautan yang erat dengan hati yang hidup. Jika seseorang sudah tidak memiliki rasa malu, matilah hati dan perasaannya. Kehidupan manusia akan sempurna jika rasa malu itu bersenyawa dalam hatinya.
–Tatiek Rahayu Anwar, dari buku “Seindah Akhlaq Nabi”, karya Amru Khalid.
(20)
Setiap melakukan sesuatu hal kebaikan, berniatlah agar mendapat pahala. Niat adalah suatu keabsahan ibadah. Seseorang akan mendapat apa-apa yang diniatkannya. Walau pekerjaan itu kecil, Namun jika dimulai dengan niat akan menjadi suatu ibadah yang bernilai pahala.
Mulailah dengan niat. Walau tidak sempat sahur, hanya sempat minum atau karena terlambat bangun, tetapi jika sudah niat, maka akan kuat menjalankannya. Badan sehat segar dan bugar.
–Dede Nurjanah
++
Ramadanmu saat ini terdiri dari tiga waktu. Kemaren, hari ini dan esok pagi. Hari kemaren telah berlalu. Seperti apapun kondisi amal Ramadanmu kemaren, tak bisa diubah lagi. Kemarenmu tak pernah kembali. Esok pagi belum terjadi. Bahkan engkau tak tahu apakah masih bisa menjumpai dan berbuat banyak kebaikan lagi.
Hari ini adalah kuasamu. Akan engkau penuhi dengan apa hari ini? Ramadanmu hari ini, bisa engkau penuhi dengan berbagai amal yang membuatmu makin dicintai Ilahi Rabbi. Atau akan berlalu sia-sia tanpa amal yang berarti.
–Cahyadi Takariawan
++
Manusia butuh menyampaikan perasaannya. Kekecewaan, kesedihan, kegembiraan dan mozaik rasa lainnya. Banyak yang kecewa manakala mengeluh pada manusia. Mungkin respon yang diterima tak sebagaimana yang dihatapkan, mungkin justru menyebar menjadi rahasia umum.
Mengeluh pada Allah merupakan jalan terbaik. Rahasia terjaga, adem yang mengucapkannya adem pula jika ada yang mendengarnya. So, ubah keluhan menjadi doa, Anda tak kan pernah kecewa.
–Ida Nurlaila
++
Putuskan dalam benakmu, kamu akan sedih terus menerus atau akan bahagia selamanya.
–Yuli pinasti
++
“Shaum itu menguatkan hati dan kecerdasan. Menambah kepintaran dan akhlak yang baik. Apabila seseorang berpuasa, ia akan terbiasa sedikit makan dan minum. Terendam syahwatnya, tercabut semua bahan maksiat dari akarnya. Ia akan masuk dalam kebaikan dari semua sisinya dan diliputi oleh kebajikan dari semua arah.”
Segala puji bagi Allah yang telah mensyari’atkan shaum Ramadan karena ia adalah kebaikan untuk hati dan keimanan kita. Menempa kesabaran dan ketabahan, membiasakan kita di atas kebaikan.
–Nunun Nurlaila
++
Puasa meminta ibadahmu lebih banyak. Puasa meminta jiwamu dibasuh tuntas. Puasa meminta jasadmu dibenahi ulang. Puasa meminta hartamu dibersihkan
Lalu sebagai hamba ikuti alur-Nya. Tanpa perlu banyak tanya, cukup ikuti, taati, kemudian jalani.
–Syasha Lusiana
