Oleh : Cahyadi Takariawan
Dimanakah tempat yang nyaman untuk menulis? Semua orang memiliki pengalaman subyektif atas pertanyaan ini. Kita juga tidak perlu membuat keseragaman jawaban, sebab setiap kita adalah unik. Saya mengajak Anda membaca beberapa poin jawaban yang diajukan oleh web Quora (https://www.quora.com) pada bulan Juni 2018 lalu, “Dimana tempat favorit kamu untuk menulis?” Berikut saya pilihkan beberapa jawaban.
Shreya Pandey —seorang penulis buku— menjawab, bahwa tempat favorit bagi dia untuk menulis adalah di tempat tidur. Pandey mengaku enjoy jika menutup kamar tidur, dan mengurung diri di kamar agar tidak terganggu kebisingan. Dia merasa terganggu saat ada lalu lalang orang —apalagi saat orang-orang bertanya, “Apa yang kamu lakukan”. Berikut jawaban Pandey,
“My favorite place to write is actually my bedroom. I’ve tried on many occasions to take my laptop outdoors and write there, but it never works for me. The presence of people irks me. I get conscious of my posture, my appearance. I hate it when anyone tries to peek, or worse, ask me what I’m upto (this happened a lot if I tried to write in college.) Even when it’s fairly secluded, I get distracted by my surroundings. Besides, I have a mild case of misophonia, so certain sounds make me very uncomfortable.
So, my bedroom is where I prefer to be when I write. I prop myself against a bunch of pillows, shut my bedroom door, put on some good music and then I write. Also, I usually write in the night time hours, so it’s obviously not practical for me to venture outside. Sometimes I also write when I’m commuting in the metro. But it’s usually on my phone and nothing serious, like a book. More like short pieces of poetry that I’ll have to tweak later.” (Shreya Pandey, Literature Student, Published Author & Creative Editor).
Yash Jaiswal, seorang bloger, menyatakan bersemangat menulis saat di bandara. Ia sengaja datang beberapa jam sebelum keberangkatan untuk mengamati banyak manusia di bandara, dan menuliskannya. Jika pesawat sudah mengudara dan telah berada dalam posisi stabil, maka ia segera membuka laptop dan menulis. Segala hal terkait bandara membuatnya selalu terasosiasi dengan menulis —sebab saat kecil ia tumbuh di kawasan marginal yang sering melihat pesawat terbang di atas rumah mereka, namun tak pernah bisa ‘naik’ pesawat terbang.
Setelah sekarang bisa leluasa bepergian dengan pesawat terbang, membuat ia tertantang dan bergairah menulis. Berikut cuplikan jawaban Jaiswal.
“I always prefer reaching the airport a few hours prior to my departure so that I get to write some words on my laptop or sit in a corner and observe people of various colours crying, laughing, nervous for their trip to Dubai, or travelling to an oncoming funeral with skin red under their eyes.
Also, I grew up in a small city, where if an aeroplane is heard zooming above the heads, all the people of the colony would assemble in their balconies to catch a glimpse of the ‘flying machine’. As a middle-class person growing up in a small city, didn’t provide me with an oppourtunity to fly or pass through an airport security gate. All these have kindled a fascination inside me towards aeroplanes and airports. And so, I find my ‘best person’ at the airport, and the best he does is ‘write’! (Yash Jaiswal, Amateur Writer and Blogger).
Evelyn Krasnik —mantan staf di Panda Express menuturkan, ia biasa menulis dimanapun. Ia bisa menulis di perpustakaan, di tempat kerja, di tempat makan siang, ataupun di rumah. Krasnik menceritakan, ia menuliskan berbagai macam hal yang menjadi pikiran dan perasaannya, dan ini membuatnya nyaman. Berbicara belum tentu bisa mewakili kata hatinya, dengan menulis, ia merasa lebih leluasa menyatakan keinginannya. Berikut jawaban Krasnik.
“I’ve learned how to block out almost any noise and focus on one task, and in this case, it’s writing. I can write anywhere and I usually do. When things happen in my life, I have this incessant urge to write about them. I can be in the library, at work, at lunch, or at home. Writing is the way I think— it comes easier than anything else because the words flow from me and they can accurately represent my thought process, whereas speaking doesn’t always allow me to communicate it well.” (Evelyn Krasnik, former Worker at Panda Express).
Dimana Langkah Kau Arahkan, Di Situ Kata Kau Tuliskan
Saya juga sering ditanya, dimanakah tempat yang tepat untuk menulis? Jawaban dalam perspektif obyektif, tempat yang nyaman untuk menulis adalah —dimana pun. Bisa di kamar tidur, di ruang keluarga, di teras, di taman, di dapur, di mushalla, di meja makan, di bandara, di stasiun, di terminal bus, di pesawat, di kereta, di bus, di travel, di mobil, di restoran, di gunung, di pantai, di hutan, di hotel, di kampus, di sekolah, di kantor, di mal, di pasar, di masjid, di trotoar, di pinggir sungai. Ya, dimana pun.
Di manapun bumi diinjak disitu kata dituliskan.
Menemukan Zona Tempat Menulis
Dalam perpektif subyektif, masing-masing orang memiliki kebiasaan dan kenyamanan yang berbeda dalam memilih tempat menulis. Maka bagi Anda yang tengah belajar menulis, milikilah tempat khusus untuk menulis. Tempat yang akan membuat Anda selalu teringatkan untuk menulis setiap kali melihat dan mendatanginya. Tempat yang membuat Anda selalu terasosiasi dengan kegiatan menulis setiap berada di dalamnya. Anda yang bisa mengetahui, tempat yang paling nyaman dan paling pas bagi Anda untuk menulis setiap harinya.
Anda ingin tahu dimana saya biasa menulis? Alhamdulillah saya bisa menulis dimanapun, termasuk ketika tengah antri boarding pesawat dengan antrian yang panjang. Namun ketika saya tengah di rumah, saya memiliki tempat favorit untuk menulis. Dulu saya senang menulis di ‘ruang kaca’, pada sebuah meja kayu kecil dan kursi kecil yang biasa saya gunakan untuk menulis. Saya juga suka menulis di teras belakang rumah. Di sana ada meja dan kursi besi, sambil menikmati udara segar pagi, melihat daun-daun hijau di halaman belakang, saat saya menulis di pagi hari. Sekarang —di masa karantina Covid-19, saya senang menulis di ‘ruang kelas’ di rumah saya.
Pada postingan sebelumnya, saya sudah mengajak Anda untuk menemukan Zona Waktu Menulis (ZWM) yang khas bagi Anda. Nah sekarang tugas anda menemukan Zona Tempat Menulis (ZTM), dimanakah tempat yang akan anda gunakan atau yang sudah biasa anda gunakan untuk menulis setiap harinya. Definisikan dan deskripsikan dengan rinci tempat itu di sini. Boleh lebih dari satu.
ZONA TEMPAT MENULIS (ZTM)
Ini adalah tempat-tempat yang saya gunakan untuk menulis setiap harinya.
ZTM 1
Di ______________________
ZTM 2
Di ______________________
ZTM 3
Di ______________________
Bismillah.
Mulai hari ini, tempat-tempat tersebut, akan saya gunakan untuk menulis.

Terima kasih Pak Cah, ada suasana yang terbayang ketika dapat tempat yang khas buat menulis.
Alhamdulillah. Baarakallah, Ustadz
barakallahu fikum… semangat menulis Bang… sukses selalu…
yesss…. semangat menulis Bang… sukses selalu…
Terima kasih P Cah..menyemangati..
terus berkarya mbak…. semangaaattt…
Terimakasih bpk menjadi inspirasi but saya
semangat menulis Bang… sukses selalu…
Terima kasih Pa Cah… Baru mau memulai,, sering berdasarkan mood utk menulis, namun ternyata itu salah, dimanapun yg penting nyaman
yesssss….. semangat menulis mbak… sukses selalu…
Terima kasih pak cah, pencerahannya dipagi ini.
semangat menulis Kak… sukses selalu…
Terimakasih pak Cah. Benar pak dimana saja kita bisa menulis namun ada tempat yang mgkn lebih nyaman u kita bisa menulis. Saya sudah memiliki tempat yg nyaman untuk saya menułis.
nah, bagus itu… lanjutkaaannn….
Termakasih pak Cah, saya jadi terinspirasi dan termotivasi untuk segera melaksanakannya. Bagi saya untuk menulis, membutuhkan suasana yang tenang, jauh dari kebisingan, mgkin karena saya masih pemula, sulit untuk menemukan kata-kata dalam suasana bising.
semangat menulis mbak Hersanti… sukses selalu…
Saya pun sama ustad, Alhamdulillah bisa menulis dimana pun berada. Tapi ketika mood & kesempatan nya ada hehehe
tinggalkan mood, semangat menulis mbak Nitha… sukses selalu…
Alhamdulillah, telah diingatkan kembali waktu n tempat untuk menulis dengan suasana hati yang tenang. Terimakasih pak Cah.
semangat menulis Bang… sukses selalu…