19 September 2026

Oleh : Cahyadi Takariawan

Sesungguhnya, pekerjaan paling sulit dalam menulis adalah menghentikan atau mengakhiri menulis —bukan memulainya (Cahyadi Takariawan, 2020).

***************

Menulis adalah aktivitas semudah berbicara atau bahkan bernafas, maka semua orang bisa melakukannya. Lelaki dan perempuan, tua dan muda, yang kuliah dan sekolah, pegawai dan buruh, petani dan nelayan, direktur dan penganggur, tinggal di kota dan desa, semua bisa menulis. Bahkan menulis buku —- semua orang bisa melakukannya; atau kalau istilah Walter Mosley (2020), 99,99 % orang bisa melakukannya.

Untuk menulis, bahkan ketika Anda adalah benar-benar pemula, Anda hanya perlu melakukan satu aktivitas, yaitu menulis. Jangan terbebani oleh kaidah-kaidah, karena itu membuat buntu. Jangan baca standar penulisan jurnal ilmiah, karena itu bukan tujuan Anda. Tidak perlu menguasai teori tentang jenis dan ragam tulisan —lalu Anda akan dibuat bingung menentukan pilihan. Abaikan saja buku-buku tebal itu. Yang paling penting adalah, Anda benar-benar menulis.

Yang sulit, bukanlah menulis. Namun menciptakan kondisi untuk menulis, yaitu hasrat, tekat, disiplin, komitmen dan waktu untuk menulis. Kondisi ini yang akan menghantarkan Anda untuk fokus dalam menulis. Begitu Anda sudah berada dalam kondisi fokus, maka menulis bagai aliran air, bagai tarikan nafas, bagai semilir angin. Tulisan akan lancar dan Anda mendapatkan banyak karya tulis selama masih berada dalam situasi fokus.

Sesungguhnya, pekerjaan paling sulit dalam menulis adalah menghentikan atau mengakhiri menulis —bukan memulainya. Jika Anda sudah berada dalam suasana fokus, Anda ingin terus menerus menulis, tanpa bisa dihentikan. Maka Anda akan kesulitan menghentikan hasrat untuk menulis, Anda akan kesulitan mengakhiri tulisan. Unstoppable. Tak terbendung.

Tugas Anda adalah menumbuhkan hasrat, menguatkan tekat, menjaga disiplin, mengasah komitmen, dan menyediakan waktu yang cukup. Ini semua merupakan elemen penting untuk mewujudkan fokus dalam menulis.

Kenali Momentum Fokus

Fokus itu tidak selalu identik dengan keheningan, kesunyian dan kesendirian. Masing-masing kita memiliki dan menemukan momentum fokus yang berbeda. Maya Angelou harus menyepi di kamar hotel selama beberapa pekan atau beberapa bulan untuk fokus menulis buku. Namun SH. Mintardja tak bisa menulis di kesunyian. Ia memerlukan keramaian untuk memantik instink menulisnya. Ia menulis di meja di dapur, menghadap dua mesin ketik, dan berkomunikasi dengan orang-orang yang berada di sekitar.

Sebagian dari Anda, fokus artinya tak ada suara. Bahkan suara gerak cicak berlarian di dinding dekat tempat menulis, membuyarkan fokusnya. Harus sepi tanpa suara sama sekali. Sebagian dari Anda, fokus artinya memilih jenis lagu, dan menikmati dengan headset atau dengan speakter aktif. Dentum suara musik rock membangkitkan instink menulis, sehingga mampu menciptakan fokus dalam menghasilkan karya tulis.

Fokus juga tidak identik dengan paksaan, deadline, dan jadwal yang ketat. Masing-masing dari kita benar-benar unik. Seseorang memerlukan paksaan dan deadline agar bisa fokus menulis. Adrenalinnya membuncah ketika mendapat tantangan berupa deadline dan ketatnya target harian. Sebagian yang lainnya menjadi stres dan tak bisa menulis apapun saat dipaksa dengan deadline. Mereka lebih fokus dan produktif saat ‘dilepas’ di alam kebebasan, tanpa batasan waktu dan target pencapaian.

Fokus adalah gabungan dari hasrat, tekat, disiplin, komitmen dan waktu. Semakin kuat hasrat Anda untuk menulis, semakin fokus diri Anda. Semakin besar tekat Anda untuk menulis, semakin fokus pula diri Anda. Demikian pula, semakin disiplin dan komitmen semakin fokus dalam menulis. Semakin mampu Anda mengelola waktu, dalam koridor hasrat, tekat disiplin dan komitmen, akan semakin runcing fokus Anda dalam menghasilkan karya.

Kenali Sumber Inspirasi

Adalah penting untuk mengenali hal apa yang bisa Anda tulis. Jangan bengong memelototi kertas kosong. Jangan melamun di depan laptop yang telah satu jam menyala. Jangan terpekur duduk diam menghadapi setumpuk buku dan bahan-bahan yang tak Anda baca sama sekali. Jangan beku di hadapan 50 tab yang Anda buka tanpa Anda perhatikan isinya. Mengapa rumit sekali menemukan inspirasi? Padahal, segala hal adalah sumber inspirasi dan bahan yang bisa Anda tuliskan.

Lihat hari yang telah Anda lalui, semua kisah, semua kejadian, semua peristiwa, adalah sumber inspirasi untuk diltuliskan. Seekor kucing yang melintas tepat di depan Anda, suara burung yang berkicau dengan manja, selembar daun kering yang jatuh melayang dari dahannya, terik sinar matahari yang menyengat kulit Anda, cita rasa makanan yang baru saja Anda melahapnya, semua adalah sumber inspirasi dan bahan yang bisa Anda tuliskan.

Seekor ikan Koi yang melotot melihat kepada Anda dari dalam aquarium, adalah sumber inspirasi menulis. Bagaimana rasanya dipelototi oleh seekor ikan Koi, padahal bahkan Anda belum mengenal namanya dan ia pun belum mengenal Anda. Tuliskan perasaan Anda dipelototi ikan Koi, laporkan kepada dunia melalui tulisan Anda, “Seekor ikan Koi melotot padaku. Aku terhenyak dan tak bisa bergerak. Mata itu tak berkedip, melihat terus ke arahku. Seakan aku adalah musuh yang hendak menerkam”.

Anda tidak harus datang ke Albarracin di Spanyol sana, Anda juga tak harus  datang ke Hallstatt di Austria, cukup Anda melihat foto-fotonya di berbagai web dunia, Anda bisa menuliskan sesuatu tentangnya. Tentang keindahan alamnya, tentang keinginan Anda berbulan madu ke kota itu, tentang ulasan netizen yang pernah berkunjung, dan tentang kesan Anda terhadap Albarracin dan Hallstatt dari melihat foto-foto kecantikannya. Sederhana, bukan? Maka semua orang bisa menulis, karena manusia dikaruniai intuisi dan imajinasi.

Rencanakan Tulisan

Anda bisa menulis kapan saja, dimana saja, dan tentang apa saja. Secara spontan, tanpa rencana, Anda bisa langsung menuliskan sesuatu —bahkan sambil berjalan atau berkegiatan. Ini adalah corak tulisan ringan. Namun, jika Anda akan menulis sesuatu yang berbobot, rencanakan tulisan Anda. Rencanakan dengan baik, sejak dari tema, sistematika, pesan utama, referensi pendukung, data-data yang diperlukan, quotes yang relevan, bahkan sampai merencanakan waktu, tempat dan berbagai keperluan sarana teknis.

Saya pernah menginap di kawasan wisata Kaliurang Yogyakarta, untuk menyelesaikan suatu tulisan. Saya merencanakan dengan detail, apa yang akan saya tulis, perlengkapan apa yang perlu saya bawa, sehingga sesampai di lokasi, semua sudah tersedia dan saya bisa langsung menulis sesuai rencana. Dengan cara seperti ini, tulisan kita menjadi lebih bermakna, karena direncanakan dengan matang. Biasanya, untuk finishing penulisan buku, saya memerlukan perencanaan sedetail ini.

Ini sama dengan pengalaman Eric Turner. “I usually cannot just sit down spontaneously and start  writing without some preconceived idea or plan that I’ve mustered up hours, or even days, earlier”, ujarnya. Eric akan lebih optimal dalam menulis, ketika ia merencanakan tulisan. Duduk di bangku langsung menulis tanpa perencanaan, pasti bisa ia lakukan –dimana saja, kapan saja. Namun duduk menulis setelah memiliki perencanaan, jauh lebih optimal hasilnya.

Rupanya Eric sangat mempercayai efek dari suatu perencanaan. “Planning a time for yourself to sit down and write will immensely improve your focus and productivity during that session. Positive psychological effects have also been noted when a person plans ahead”, ujarnya. Planning adalah upaya untuk meningkatkan fokus, sekaligus meningkatkan produktivitas dalam menulis. Ia merasakan munculnya suasana psikologis yang positif, jika merencanakan tulisan.

Ketika ia telah membuat perencanaan, maka waktu yang ia sediakan untuk menulis benar-benar optimal hasilnya. “Planning exactly when you’re going to write will also make heaps of progress in the focus area. I find that when I sit down to carry out the budgeted time, my productivity and efficiency both skyrocket”. Eric mendapatkan produktivitas menulis yang meroket, apabila ia merencanakan.

Menggunakan Tiga Kekuatan

Jika Anda telah mengenal momentum fokus bagi diri Anda sendiri, jika Anda sudah mengenali sumber-sumber inspirasi, ditambah dengan sedikit perencanaan, maka Anda akan bisa menulis dengan mudah. Inilah tiga kekuatan instrinsik dalam diri Anda —yang bisa Anda jadikan motivasi dalam proses menulis. Gunakan tiga kekuatan intrinsik ini, untuk memacu Anda dalam menghasilkan karya tulis. Setiap hari, Anda akan terus menerus terasah kemampuan menulis dan kualitas hasil karya tulis.

Mudah bukan? Sungguh, semua orang bisa menulis. Yes, everyone can write.

Bahan Bacaan

Eric Turner, Writing is Easy, Is It, Though? www.writingcooperative.com, 6 Juli 2018

Mitzi Rapkin, Walter Mosley: Everyone Can Write a Book, https://lithub.com, 13 Januari 2020

11 thoughts on “Yes, Everyone Can Write!

  1. “Jangan terbebani oleh kaidah-kaidah, karena itu membuat buntu”.
    Kalimat ini sangat berarti untuk saya. Sangat membantu menumbuhkan rasa percaya diri untuk terus menulis.
    Terbebani oleh kaidah-kaidah itulah salah satu penyebab yang menghalangi saya menulis selama ini. Bahkan sampai hari ini. Dalam mencoba mengikuti program SHSB saya masih kurang PD.
    Tapi kalimat pak Cah tadi mengembalikan rasa percaya diri saya. Terima kasih pak Cah. Saya janji pada diri sendiri akan terus menulis dan menulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *