Oleh : Cahyadi Takariawan
“Being a writer requires only one thing: actually writing” — Mel Lee-Smith, 2017
*****************
Apakah masih ada di antara Anda yang sampai hari ini masih merasa sebagai calon penulis? Sampai kapan Anda akan terus merasa diri sebagai calon penulis? Kapan Anda akan melepas predikat “calon” dari diri Anda? Tahukah Anda, dalam predikat “calon” tersebut, tidak tersimpan tenaga yang kuat?
Secara umum, kata calon itu memiliki makna ambigu —yaitu “belum tentu”. Misalnya, calon anggota legislatif, alias caleg, belum tentu terpilih menjadi anggota legislatif. Calon Bupati, calon Walikota, calon Gubernur, calon Presiden, semua dari mereka belum tentu terpilih. Calon Lurah, calon pegawai, calon guru, calon karyawan perusahaan, belum tentu akan bisa lolos sesuai pos yang diinginkan. Demikian pula calon mantu, calon istri, calon suami, semua belum ada kepastian.
Calon Bupati yang gagal terpilih, maka ia kembali menjadi orang biasa, ia bukan Bupati. Calon Lurah yang gagal terpilih, ia kembali menjadi rakyat biasa, bukan Lurah. Ini sangat berbeda konteksnya dengan calon penulis. Jika Anda menulis untuk koran nasional, dan naskah Anda ditolak, Anda tetap penulis —karena sudah menulis dan mengirim naskah. Jika Anda menulis naskah lalu Anda masukkan ke penerbit mayor, dan naskah Anda ditolak, Anda tetap penulis —karena sudah menulis dan mengirim naskah.
Untuk menjadi penulis, yang diperlukan hanya tekad yang kuat serta disiplin untuk terus menerus menulis, menulis dan menulis. Tiga langkah menjadi penulis, yang sering saya sampai di berbagai Kelas Menulis, adalah (1) menulis, (2) menulis dan (3) menulis. Dengan demikian Anda akan menjadi penulis, bukan lagi calon.
Seorang calon penulis dengan sendirinya menjadi penulis apabila ia menulis. Ketika Anda menulis sesuatu untuk diposting di Facebook atau Instagram di pagi dan sore hari, maka Anda adalah seorang penulis. Ketika Anda menulis sebuah aktivitas atau kegiatan, kemudian mendokumentasikan, maka Anda adalah penulis. Anda bukan lagi calon penulis, dan Anda jangan merasa diri sebagai calon penulis. Anda adalah penulis, karena Anda menulis.
Menurut Mel Lee-Smith, “When I see someone refer to themselves as an ‘aspiring writer’, I imagine someone sitting at their laptop or notebook daydreaming. Perhaps they’re thinking, ‘Oh man, I wish I was a writer’, or, ‘I hope I’ll be a writer one day’”. Calon itu seseorang yang duduk melamun di depan laptop berjam-jam tanpa menulis sesuatu sambil membayangkan kelak dirinya akan menjadi penulis. Inilah yang disebut calon penulis, yang seumur hidupnya selalu menjadi calon.
Menurut Mel, “If you call yourself an aspiring writer, you’re doing yourself a disservice. The aspiring writer does not exist”. Calon penulis itu tidak ada, sepanjang Anda mau menulis. Maka, “If you put in the work, you’re a writer. If you make time to write, you’re a writer. If you research, read, and work to hone your skills, you’re a writer, and no one can take that away from you”, lanjut Mel.
Untuk bisa menyebut diri sebagai penulis, tidak ada syarat bahwa dirinya harus terkenal. Ini berlaku untuk konteks yang luas —misalnya, seorang guru hanya ‘terkenal’ di kelas atau sekolah tempat ia mengajar. Tak ada keharusan guru itu terkenal di seluruh Indonesia. Bahkan pemain film pun, tak harus terkenal. Kita hanya mengenal seglintir artis pemeran tokoh utama, sementara ada teramat sangat banyak figuran yang tidak menjadi pemeran utama, yang tidak kita kenal namanya. Padahal tanpa para figuran, film pasti tidak menarik.
Bagi Mel, menjadi penulis itu tidak harus kuliah di Fakultas Sastra atau Bahasa, tak juga harus menjadi penerus Rowling. “You don’t have to study writing or language at university. You don’t have to be the next J.K. Rowling or Stephen King”, ujar Mel. Syarat menjadi penulis, hanyalah “benar-benar menulis.” Saat itu, Anda telah menjadi penulis. “Being a writer requires only one thing: actually writing”. Tanpa itu, memang Anda hanya calon.
Maka tidak penting deretan panjang status dan penghargaan, karena yang paling penting adalah Anda benar-benar menulis. Sesederhana itu untuk menjadi penulis. “Still, it doesn’t matter what descriptor you tack on – published, award-winning, best-selling, novice – if you write, you’re a writer. Simple as that”, ujar Mel. Sepanjang Anda benar-benar menulis, Anda adalah penulis. Orang tidak ada yang bisa menggugat Anda, karena Anda telah melakukan ‘tugas profesi’ sebagai penulis, yaitu : menulis.
Maka, hargai diri Anda sendiri. “So give yourself some credit. Drop the ‘aspiring’ from your writer identity, and use those extra characters in your Twitter bio to add a little more humanity to your profile. After all, potential clients (and fellow writers) like to see the real you”, ungkap Mel. Hilangkan segera mental sebagai calon dalam diri Anda, dan secara yakin Anda bisa menyatakan, bahwa Anda adalah penulis, karena Anda telah benar-benar menulis.
Bahan Bacaan
Mel Lee-Smith, Stop Calling Yourself an “Aspiring” Writer, https://www.melleesmith.com, 23 Juni 2017

Siap laksanakan pak Cah… Semakin yakin dan mantap untuk menjadi penulis. Walaupun masih dalam tahap belajar, sebisa mungkin harus diusahakan dan dipaksakan. Kalo gak ya selamanya cuma jadi calon penulis.
Alhamdulillah… harus PeDe jadi penulis✌️
PD dunk… semangat menulis mbak…. sukses selalu…
Alhamdulillah tulisan-tulisan ini yang selalu membakar semangat untuk terus menulis
Terimakasih pak Cahyadi takariawan
semangat menulis mbak…..
yesss… semangat menulis mas wahyu…. sukses selalu…
Tulisan ini telah mengisi ruang keraguan, ruang rasa kurang dan menggantikan dengan ruang percaya diri! Akhirnya melangkah dengan pasti. Saya adalah Pemulis, karena saya sudah belajar pada PENULIS BEKEN.
semangat menulis Kak…..
Mohon do’a restunya Pak Cah.
Dukungan Pak Cah kepada kami, kami rasakan memberi semangat luar biasa .
Terima kasih Pak Cah.
Maasyaa Allah. Ini adalah suntikan energi dari Bapak. Waktulah akan berbicara, kan lahir ribuan penulis handal.In syaa Allah
semangat menulis mas Adji…. sukses selalu…
Terima kasih motivasinya …
Semoga bisa menjadi penulis
Terimakasih pak Cah, terus menulis, menulis dan menulis
Ketika membaca postingan pak Cah ” Kapan Mulai Menyebut Diri Anda Sebagai Penulis”, hampir-hampir saya menuliskan komentar bahwa saya masih calon penulis. Dan pagi ini postingan pak Cah dengan judul ” Berhenti Menyebut Diri Anda Calon Penulis” sindiran yang sangat mengena pada saya dan mungkin beberapa teman lainnya (bukan bermaksud menuduh ya…). Terima kasih pak Cah. Saya adalah penulis.
yes you are ! Mbak Leni adalah penulis.
semangat menulis mbak…. sukses selalu…
Mbak Kiki adalah penulis ! Semangat menulis mbak…. sukses selalu…
Terima kasih pak Cahyadi Takariawan, inspiring sekali. Saya sendiri terlecut segera memahat huruf tiap usai membaca tulisan bapak. Salam dari Agus Andi Subroto untuk bapak selalu, semoga tetap sehat ya pak, amin yra…❤️
aamiin… selamat berkarya mas Agus…. sukses selalu