19 September 2026

.

Bagian Pertama

Oleh : Cahyadi Takariawan

“The most powerful form of communication is writing. No matter what you plan to do with your life; you are better off if you write every day” –Taylor Foreman, 2021.

.

Berapa IQ Anda? Mungkin IQ Anda tidak setinggi William James Sidis, si jenius matematika yang mempunyai IQ 260. Mungkin tidak setinggi Issac Newton yang memiliki IQ 190; atau Albert Einstein yang memiliki IQ 160. Bisa jadi sebagian kita termasuk IQ biasa, bahkan rendah.

Tapi apakah itu menjadi masalah? Sebentar, jangan cepat berkesimpulan. William James Sidis (lahir 1898) dengan IQ 260, ternyata justru bermasalah hidupnya. Ia tidak bisa bergaul dengan orang lain. Hidupnya sepi, sunyi dan terasing. Ia tak memiliki teman pergaulan, dan juga tak memiliki harta.

Pada tahun 1944, ia meninggal dalam kesendirian dan kesepian, di usia 46 tahun. Lelaki terlahir jenius ini, justru tidak bahagia hidupnya. Tidak sukses menurut ukuran kebanyakan manusia. Ternyata tingginya IQ tak menjamin kesuksesan dan kebahagiaan hidup manusia.

Saya tergelitik dengan pernyataan Taylor Foreman (2021), yang menceritakan kekhawatiran soal IQ. “Saya dulu sering khawatir tentang IQ. Saya pikir banyak orang merasa seperti ini”, ujar Foreman.

Zaman dulu, kecerdasan manusia diukur dengan alat tunggal, yaitu IQ. Kita akan betrsedih saat mengetahui bahwa IQ kita rendah. Orang lain akan sangat bangga saat mengetahui IQ mereka tergolong tinggi. Demikian pula orangtua, akan merasakan hal yang sama.

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, orang tidak perlu sedih dan cemas saat tidak terlahir sebagai seorang jenius. Karena kecerdasan bisa didapatkan dari berbagai proses  kehidupan keseharian. Bersyukur apabila terlahir sebagai jenius, yang sudah dikaruniai kecerdasan intelektual sejak lahir. Namun tidak semua orang mendapat karunia seperti itu.

Ada bentuk karunia yang juga Allah berikan kepada manusia, setelah melakukan upaya untuk mendapatkannya. Untuk mendapatkan level jenius, ada sangat banyak usaha yang bisa dilakukan manusia. Salah satunya adalah dengan menulis. Menurut Foreman, menulis rutin setiap hari akan meningkatkan kecerdasan manusia.

Foreman menyatakan, studi telah menunjukkan bahwa IQ dan kesuksesan hidup hanya memiliki korelasi sekitar 0,4. Jika kita kaitkan dengan hasil studi yang dilakukan Thomas J. Stanley, akan lebih menyambung. IQ tinggi urutan ke 21 penentu kesuksesan manusia.

Menurut Foreman, salah satu faktor paling kuat dalam menentukan kesuksesan hidup adalah kemampuan berkomunikasi. “Bentuk komunikasi yang paling kuat adalah menulis. Tidak peduli apa yang Anda rencanakan dalam hidup; namun Anda akan lebih baik jika rutin menulis setiap hari”, ujar Foreman.

Meningkatkan Kecerdasan dengan Rutin Menulis di Pagi Hari

“They allow for clearer thinking, more creativity, better sleep, and better relationship” –Taylor Foreman, 2021.

Foreman merasakan manfaat yang luar biasa, dengan rutin menulis setiap pagi dan memublikasikannya melalui situs Medium. Menurutnya, kebiasaan menulis di pagi hari memberikan sangat banyak kemanfaatan. Di antara kemanfaatannya adalah mampu membuat berpikir lebih jernih, memunculkan lebih banyak kreativitas, kualitas tidur malam lebih baik, dan bahkan berdampak kepada hubungan sosial yang juga lebih baik.

Rutin menulis di waktu pagi, ternyata memberi manfaat dalam mengeluarkan pikiran-pikiran yang memenuhi memori otak kita; sehingga bisa membebaskan ruang untuk pemikiran yang lebih banyak dan lebih baik lagi. Seperti flashdisk yang cepat penuh jika tersimpan banyak data; dan kita bisa membuatnya bekerja lebih baik saat membuang beberapa data yang tak lagi diperlukan.

“Kita sudah memiliki banyak RAM dan kita membutuhkan cara untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Kita tidak dapat mengubah RAM internal (IQ), tetapi dapat meningkatkan dengan beberapa RAM eksternal”, ujar Foreman.

“We only have so much RAM and we need ways of getting more. We can’t change our internal RAM (IQ), but we can upgrade with some external RAM” –Taylor Foreman, 2021.

Menurut Foreman, proses menulis meliputi tiga aspek. Pertama, mengeluarkan pikiran yang rumit. Kedua, menyediakan ruang baru yang bisa digunakan untuk pemikiran yang lebih baik. Dan ketiga, pengulangan proses tersebut.

Saat menulis, kita telah mengeluarkan berbagai pemikiran, ide, dan pendapat –yang selama ini memenuhi memori otak kita. Setelah dikeluarkan, berarti telah mengosongkan bagian-bagian dari memori otak yang terlalu penuh. Dampaknya, tersedia cukup ruang di otak kita untuk memproduksi pemikiran baru yang lebih baik dan  lebih berkualitas.

Jika hal ini rutin dilakukan setiap hari, berarti proses pengeluaran dan pengosongan bagian-bagian dari memori otak kita juga berlangsung secara rutin. Peristiwa ini akan berulang setiap hari.

Jika dilakukan di pagi hari, suasana kesegaran pagi telah memberikan kekuatan tersendiri. Malam hari bisa digunakan untuk istirahat secara berkualitas. Pagi hari kita menjadi fresh—terlebih setelah melakukan ibadah malam, dilanjutkan shalat Subuh, dan dzikir usai Subuh. Betapa segar jiwa dan pikiran kita, untuk menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan.

Ingat, tidur malam adalah momentum rehat yang tak tergantikan oleh waktu lainnya. Maka biasakan memiliki tidur malam yang berkualitas, dan bisa memiliki vitalitas di waktu pagi.

Rahasia Pagi Hari

“A scientific study of brain circuits confirmed that this creative activity is highest during and immediately after sleep” (Kevan Lee, 2014)

Sebuah studi tentang sirkuit otak menunjukkan, bahwa proses kreatif manusia paling tinggi terjadi setelah bangun tidur. Diketahui, bagian korteks prefrontal otak sangat aktif usai bangun tidur (Kevan Lee, 2014).

Studi tersebut melakukan pemindaian MRI pagi dan sore hari dan menemukan bahwa pagi hari merupakan waktu yang lebih banyak koneksi di otak — sebuah elemen kunci untuk menghadirkan proses kreatif. Maka aktivitas menulis yang sangat banyak memerlukan proses kreatif, tepat dilakukan pagi hari.

Hal serupa dituliskan secara panjang lebar oleh Leo Widrich (2018), yang memaparkan fakta-fakta ilmiah tentang kinerja otak yang teraktivasi pada pagi hari. Proses kreatif manusia menjadi sangat optimal pada pagi hari setelah bangun tidur. Dengan demikian menulis di waktu pagi akan memberikan kemudahan dalam mewujudkan kreativitas dan orisinalitas ide.

Maka jangan membayangkan bahwa penulis hebat selalu memiliki cara kerja lembur malam. Mereka duduk menghadap meja yang penuh berisi kopi, agar bisa melek menulis sampai pagi. Secara saintifik, cara kerja seperti ini justru tidak direkomendasikan.

Bahan Bacaan

Gina Conroy, I Do My Best Writing in The Shower, www.ginaconroy.com, 10 September 2015

Kevan Lee, The Best Time to Write and Get Ideas According to Science, www.buffer.com, 10 Maret 2014

Leo Widrich, Why We Have Our Best Ideas in the Shower: The Science of Creativity, www.buffer.com, 7 September 2018

Taylor Foreman, 7 Reasons Daily Writing Can Make Up For Not Being Born a Genius, https://writingcooperative.com, 5 Maret 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *