19 September 2026

.

–Bagian Kelima

Oleh : Cahyadi Takariawan

Writing is communication. It’s a way of getting yourself out of your head and into the world” –Taylor Foreman, 2021.

.

It takes a village to have a successful life”, ujar Taylor Foreman (2021). Untuk menjadi sukses, tidak bisa melangkah sendirian. Tak berlebihan jika Foreman menyatakan, “Dibutuhkan sebuah desa untuk memiliki kehidupan yang sukses”.

Pada sebagian orang, keinginan untuk sukses itu sendiri justru membuat mereka gagal. Mengapa bisa demikian? Karena mereka ingin lebih sukses dari orang-orang lain, dengan mengisolasi diri sendiri, menutup diri dari pergaulan. Mereka berpikir akan bisa keluar dari ‘cangkang isolasi’ ketika merasa sudah sukses.

Tidak demikian untuk menjadi seorang penulis sukses. Anda bahkan tidak memerlukan cangkang kecil guna mengurung dan menutup diri sendiri. Yang Anda perlukan adalah sebuah ‘desa’ atau kawasan untuk tumbuh dan berkembang.

Menulis Adalah Komunikasi

Real success takes a village. To be a great success, we need to communicate with other people. We need to give and get plenty of help along the way” –Taylor Foreman, 2021.

Kesuksesan sejati membutuhkan sebuah “desa”, ujar Foreman. Untuk menjadi sukses besar, kita harus mau menjalin hubungan luas dan berkomunikasi dengan banyak orang lain. Kita perlu menyapa dan mendapatkan banyak bantuan di sepanjang perjalanan menuju sukses.

Penulis sukses bukanlah seseorang yang terisolir dari kehidupan nyata. Mereka bukan orang yang bertapa di dalam gua atau bersembunyi di dalam hutan belantara. Mereka tidak menutup diri dari keramaian persoalan masyarakat. Justru karena mereka perlu mendengar suara-suara dari realitas kehidupan.

Wanting to be successful makes us unsuccessful. Why? Because we decide that we want to be more successful than other people. We isolate ourselves, thinking that we will come out of our shells when we feel successful enough” –Taylor Foreman, 2021.

“Menulis adalah komunikasi. Ini adalah cara untuk mengeluarkan diri Anda ke dunia nyata”, ujar Foreman. Sebagai sebuah komunikasi, Anda perlu mendapatkan feeback dari orang lain. Tentu sebelumnya Anda menyerap dari orang lain, sebagai bahan untuk dikomunikasikan.

Feedback dari orang lain, terkadang tak berpihak kepada Anda. “Terkadang orang menilai apa yang Anda tulis; dan itu bisa menyakitkan. Namun tidak apa-apa. Belajarlah untuk menerima itu, dan Anda telah mengambil langkah tersulit menuju kehidupan yang memuaskan”, lanjut Foreman.

Sometimes people judge what you write and that hurts. That’s OK. Learn to accept that, and you’ve taken the hardest step towards a fulfilling life” –Taylor Foreman, 2021.

Sebagai suatu komunikasi, Anda sedang menyampaikan pesan-pesan yang Anda dapatkan dari lingkungan sekitar. Anda tulis dan publikasikan kepada semesta, agar pesan Anda sampai kepada banyak kalangan masyarakat. Suara dari ‘desa’ tempat Anda tinggal, bisa tersampaikan kepada alam semesta melalui media.

Begitulah, menulis telah menjadi sarana yang menempati strata kecerdasan luar biasa. Menulis adalah proses kejeniusan yang membuat sangat banyak hal tidak mungkin menjadi mungkin. Sebuah cara berkomunikasi yang mampu meramu dan sekaligus menyampaikan pesan-pesan kepada jutaan manusia di seluruh dunia.

Kejeniusan Tulisan

Writing about the past makes people feel better. A habit of getting words out of your head makes you a better communicator, which makes you unstoppable. Master the skill, the rewards just won’t stop coming” –Taylor Foreman, 2021.

Teruslah menulis agar mendapatkan efek rutin dari peningkatan kejeniusan. “Tanpa menulis, kita hanya akan terjebak di kepala”, ujar Foreman. Seseorang sejenius apapun, setinggi apapun IQ-nya, hanya akan memiliki kehebatan di kepalanya sendiri. Tidak terkomunikasikan dengan orang lain.

Meskipun tidak terlahir sebagai jenius, rutin menulis setiap hari akan memberikan efek peningkatan kecerdasan. “Tidak peduli seberapa jenius Anda —ada lebih banyak ruang di halaman daripada di kepala Anda. Mengeluarkan ide-ide dari kepala Anda, mampu mengurangi tekanan di dalam tengkorak Anda”, lanjut Foreman.

Without writing, we are stuck in our heads. No matter how much of a genius you are — there is more room on the page than in your head. Getting it out of your head relieves the pressure in your skull” –Taylor Foreman, 2021.

Ada sangat banyak manfaat menulis bagi kehidupan kita. “Menulis tentang masa lalu akan membuat orang merasa lebih baik. Kebiasaan mengeluarkan kata-kata dari kepala melalui tulisan, membuat Anda menjadi komunikator yang lebih baik, yang membuat Anda tak terhentikan”, sambung Foreman.

“Maka kuasai keterampilan menulis, dampak positifnya tidak akan berhenti datang kepada Anda”, tutup Foreman. Bagaimana dengan Anda?

Bahan Bacaan·

Taylor Foreman, 7 Reasons Daily Writing Can Make Up For Not Being Born a Genius, https://writingcooperative.com, 5 Maret 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *