.
Oleh : Sholikhin Abu Izzudin (Penulis buku-buku best seller Islam)
.
Meski zaman semakin canggih, bagi saya tidak malu untuk terus belajar menggunakan ini. “Kertas bekas menjadi karya berkualitas.”
Belajar menulis dimulai dengan delapan langkah berikut ini:
1. Menemukan potensi diri agar bisa survive
Kalau mau jualan buku, online atau offline, kenali potensi pasar yang ada, agar bisa bertahan dalam kesulitan
2. Dahsyatkan potensi agar sukses
Yakni melakukan berbagai kreasi dan inovasi sehingga usaha berkembang kokoh, jujur, terpercaya, andal dan unggul.
3. Manfaatkan potensi agar siginifikan
Tidak sekadar menulis dan jualan untuk hasilkan uang, namun niatkan sebagai dakwah di jalan Allah. Sebab, “bila ada satu orang yang mendapatkan hidayah Allah lewat usaha tangan kita, maka itu lebih baik daripada mendapatkan dunia dan seisinya”.
4. Tuliskan apa yang Anda rasakan
Perasaan Anda terhadap sesuatu, bisa menuntun Anda untuk mendapatkan inspirasi kebaikan. Tuliskan itu.
5. Rasakan apa yang Anda tuliskan
Menulis, jangan mekanis atau robotis. Rasakan apa yang Anda tuliskan. Apakah patut? Apakah bermakna?
6. Sajikan dengan cara yang terbaik
Bukan sekadar menuliskan apa yang kita senangi, tapi sesuaikan dengan kebutuhan orang yang memerlukan buku kita.
7. Prolog ke penerbit
Kirimkan karya kita ke penerbit yang tepat. Setiap penerbit punya karakteristik berbeda satu dengan yang lain. ProU Media beda dengan Gramedia. Untuk bisa kenal, mesti baca baca buku dari masing masing penerbit.
8. Kalau belum berhasil, evaluasi diri
Banyaklah berlatih, coba lagi, terus belajar, jangan menyerah. Mungkin bukan tulisan kita nggak bagus, bisa jadi terlalu bagus, tapi nggak tepat sasaran.
Kalau ini diamalkan insya Allah sukses. Kalau pakai tapi –belum diamalkan sudah banyak bertanya– selamat menjadi orang yang gagal.
Take action. Menulislah. Bismillah.

Terima kasih tipsnya Mas Solikhin. Sangat bermanfaat dan jitu sekali.