.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“There is a huge difference in saying that you are passionate about something and doing that thing for real” –Nirmit Shah, 2019.
.
“Saya baru saja selesai membaca Harry Potter and The Goblet of Fire dan saya juga baru saja menyatakan kepada semua orang di rumah, bahwa saya akan menjadi seorang penulis.” Demikian ungkap Nirmit Shah (2019). Ia merasa memiliki passion menulis.
Nirmit Shah melanjutkan, “Saya terkagum dengan kenyataan bahwa seseorang bisa menulis cerita yang bagus. Saya kagum dengan ide menulis. Jadi, saya mengatakan kepada diri sendiri dan semua orang di sekitar saya bahwa saya berencana untuk menjadi penulis, karena saya memiliki passion menulis”.
Apakah passion saja cukup membuat seseorang menjadi penulis? Tunggu dulu.
Passion Saja Tidak Cukup
“Am I willing to struggle enough to get really damn good at writing?” –Nirmit Shah, 2019.
Nirmit Shah mengakui, bahwa semangat dan passion saja tidak cukup untuk menjadi bekal penulis. Selama ini kita meyakini, bahwa apabila menekuni sesuatu yang kita sukai, akan memudahkan jalan menuju keberhasilan. Namun apakah hal itu berarti merupakan perjalanan mulus tanpa rintangan? Tentu saja tidak.
“Ada perbedaan besar dalam mengatakan bahwa Anda bersemangat tentang sesuatu dan melakukan hal itu secara nyata”, ujar Nirmit. “Saya menyadari bahwa seharusnya tidak perlu bertanya kepada diri sendiri, apakah saya memiliki passion penulis?” Menurut Nirmit, tak perlu mempersyaratkan passion untuk menulis.
Yang lebih penting adalah kemauan keras dan tekad untuk menulis. Sebaiknya kita bertanya kepada diri sendiri, “Apakah saya bersedia berjuang keras untuk benar-benar mahir menulis?” Inilah pertanyaan yang akan memajukan potensi diri. Bukan soal apakah Anda memiliki passion menulis atau tidak.
“Cal Newport has written an entire book where he categorically proves why ‘Follow Your Passion’ is the most flawed piece of advice ever given” –Nirmit Shah, 2019.
Cal Newport telah menulis buku di mana dia dengan tegas membuktikan mengapa slogan “ikuti passion Anda” adalah nasihat yang cacat. Demikian pula Amy Wrzesniewski, seorang profesor organizational behavior di Universitas Yale, telah melakukan riset kepada orang-orang dari berbagai pekerjaan. Sejak dari dokter hingga pekerja administrasi.
Tujuannya adalah untuk menemukan bagaimana orang membedakan antara aktivitas hidup sebagai pekerjaan, karier, atau panggilan. Dia menemukan bahwa, karyawan yang paling bersemangat bukanlah mereka yang mengikuti passion mereka dalam pekerjaan. Yang paling bersemangat adalah mereka yang telah bekerja dalam waktu lama sehingga menjadi ahli dalam pekerjaan yang mereka lakukan.
“Most passionate employees are not those who followed their passion into a position, but instead, those who have been around long enough to become good at what they do” –Nirmit Shah, 2019.
Dengan demikian, semakin banyak waktu yang Anda habiskan untuk melakukan suatu aktivitas dan menjadi mahir, semakin besar kemungkinan Anda akan mulai menyukainya. Akibatnya, Anda akan bersemangat tentang hal itu. Anda akan memiliki passion di dalam bidang itu.
Menikmati Proses, Bukan Sekedar Hasil Akhir
“One day, I will write a best-selling book. I will be called to speak to forums and inspire young, aspiring Writers. I will have my own book tour. Maybe, it will get adapted to a movie. I will become so freaking famous and rich”.
Beberapa penulis demikian obsesif untuk menghasilkan karya terbaik. Mereka bermimpi menjadi penulis hebat. Ini boleh saja, tidak salah. Bahkan bagus untuk memotivasi diri.
“Suatu hari, saya akan menulis buku terlaris. Saya akan diundang untuk berbicara di forum dan menginspirasi para penulis muda yang bercita-cita tinggi. Saya akan mengadakan tur buku karya sendiri. Mungkin, itu akan diadaptasi ke film. Saya akan menjadi sangat terkenal dan kaya.”
Keinginan dan harapan seperti itu tidak salah. Namun Nirmit Shah mengingatkan agar kita tidak hanya berorientasi pada hasil akhir. Lebih bagus jika kita mampu menikmati prosesnya. Hendaknya kita bisa rutin duduk untuk menulis. Menatap layar kosong di laptop atau komputer, kemudian memikirkan kata demi kata untuk mengisinya.
“I wrote almost everyday. I still do. I obsess over choosing words and choosing length of the sentences. I read books on writing. I observe other Writers on Medium, Quora, individual blogs or any platform which has good writing. I make notes extensively. I reflect on what worked and what did not” –Nirmit Shah, 2019.
“Saya menulis hampir setiap hari. Saya masih melakukan hingga hari ini”, ujar Nirmit Shah. “Saya terobsesi memilih kata dan menentukan panjang kalimat. Saya membaca buku tentang menulis”, lanjutnya. Ia ingin menunjukkan perjuangan dan kesungguhan membangun habit menulis.
“Saya mengamati karya penulis lain di Medium, Quora, blog individu atau platform apa pun yang memiliki tulisan bagus. Saya membuat catatan secara ekstensif. Saya merenungkan apa yang berhasil dan apa yang tidak,” ungkap Nirmit.
“Have a strong vision of the end product, but also fall in love with the process” –Nirmit Shah, 2019.
Apa nasihat Nirmit Shah untuk para penulis pemula? “Miliki visi yang kuat tentang hasil akhir, tetapi jatuh cinta pada prosesnya.”
Bagaimana dengan Anda?
Bahan Bacaan
Nirmit Shah, If You Want to Be a Writer, Stop Saying It’s Your Passion! https://writingcooperative.com, 24 Maret 2019

Menikmati proses dalam berbagai keadaan. Dalam menulis sangat di tekankan. Nikmati prosesnya, hasil nomor sekian. Terima kasih pak Cah. Syukran katsiran ustadz Cahyadi Takariawan.