Oleh : Kantin Emak Produktif
(1)
Perbedaan yang ada tidak menjadi penghalang untuk bersama. Hati yang memiliki kesamaan visi memudahkan perbedaan menjadi sebuah keberkahan. Jangan khawatir tentang ujian, karena ia datang “disesuaikan” dengan kemampuan. Indahnya kebersamaan, meski masing- masing sedang dalam ujian dan persoalan. Cinta pada Allah, menguatkan kebersamaan.
True Love with Big Family
–Yulia K Rohima
(2)
Benarkah Ramadan akan pergi meninggalkan kita, atau jangan-jangan, malah kita sendiri yang berlari menjauhinya? Seperti ketika kita melaju di atas kendaraan, terlihat pepohonan, tiang listrik, gedung-gedung di tepi jalan, seperti berlari ke arah berlawanan. Merekalah yang melesat menjauhi kita, atau kita yang pergi meninggalkannya di belakang?
Tiga langkah lagi menuju pintu keluar. Kita akan meninggalkan Ramadan menuju Syawwal. Melanjutkan petualangan hingga batas akhir perjalanan. Apa yang dapat kita ambil dari setiap persembahan Ramadan, semoga menjadi bekal terbaik di sisa perjalanan yang akan menjadi penolong diri, kelak di yaumil akhir.
— Junayda
(3)
Manusia sering diliputi perasaan iri. Iri pada orang yang berkelimpahan harta, pada orang yang tinggi jabatan, pada mereka yang mencapai tingginya kesuksesan. Sehingga hati menjadi keluh, jiwa menjadi resah.
“Irilah pada para fukaha, pencari dan pemberi ilmu. Irilah pada pejuang amal sholeh. Irilah pada para aghniya yang membagikan hartanya. Irilah pada para ahli ibadah. Irilah untuk urusan akhirat yang belum sanggup dikejar.”
Tak perlu iri pada urusan dunia. Iri urusan dunia mempersempit hati, iri urusan akhirat meluaskan jiwa.
–Syasha Lusiana
(4)
Bersujud dengan khusyuk adalah tanda kedekatan seorang hamba kepada Robbnya.Bersujud di sepertiga malam merupakan waktu terbaik membersihkan hati, menjernikan pikiran.
Hati sempit, pikiran yang buntu bahkan tidak mampu menyelesaikan suatu perkara kecil. Tidak ada titik temu ketika berhadapan dengan persoalan hidup, bisa jadi karena hatimu jauh dari Allah.
Bersujud dan memohonlah dengan segenap jiwa raga, agar diberikan solusi terbaik dari Allah yang Maha Kasih lagi Maha Mendengar.
–Warlinah
(5)
Anak-anak hendaknya dididik untuk memiliki mental gemar memberi sejak mereka kecil.
Misalnya dengan memberi mereka uang Rp2.000 sebanyak beberapa lembar (semampu orang tua). Lalu bimbinglah mereka untuk membagikannya kepada saudara atau taman-temannya.
Semoga kelak mereka menjadi dermawan, meski kondisi finansialnya masih pas-pasan.
Karena bersedekah, tidak harus menunggu menjadi kaya terlebih dahulu.
Dari ibnu Umar Ra. sesungguhnya Rasulullah saw. telah bersabda :
اَلْيَدُ اْلعُلْياَ خَيْرٌ مِنَ اْليَدِ السُّفْلَى ,….
Artinya: “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah ….” (HR Bukhari (no. 1427) dan Muslim no.1053 (124)].
–Dewi Indrayati
(6)
Tertatih aku mengejar bulan, mengais sisa-sisa Ramadan. Terjatuh … Terpuruk … Di keheningan. (Suara Persaudaraan)
Hari-hari terakhir Ramadan 1443 H, semoga kita mendapatkan keberkahan dan kemuliaan dan semoga kita dipertemukan kembali dengan Ramadan tahun depan.
–Meivany Azarini
(7)
“Sakit adalah salah satu proses kehidupan manusia. Apabila proses itu dilalui dengan baik dan penuh keridaan maka InsyaAllah akan mendapatkan makna kehidupan. Makna kehidupan yang membawa manusia tersebut menjadi lebih baik.”
–Wydiesti
(8)
Status beberapa orang teman saat ini adalah perjalanan mudik ke kampung halaman. Mudik sudah menjadi tradisi rakyat Indonesia sejak dulu.
Ini adalah tradisi yang baik karena mudik itu mengeratkan kembali ikatan persaudaraan. Kampung halaman kita yang sesungguhnya adalah surga nanti saat yaumul akhir tiba. Nenek moyang kita, Nabi Adam as. tempat tinggal asalnya adalah surga.
“Kampung halaman kita yang sebenarnya adalah surga. Jadi persiapkan bekal dan perjalanan terbaik menuju ke sana.”
–Dwi Handayanti
(9)
Jika kita analogikan Ramadan sebagai bengkel hati, seyogyanya setelah keluar dari bulan Ramadan, performa kita harus lebih baik dan prima. Hati kita harus lebih lapang, lebih bersih, dan lebih dalam segala hal. Kondisi di luar Ramadanlah yang menjadi tolok ukur keberhasilan kita dalam mengisi Ramadan.
–Eli Halimah
(10)
Sesuatu yang disiapkan meleset dari rencana. Adakah yang salah? Tentu tidak. Bukankah manusia hanya punya ikhtiar, sedangkan Tuhan pemilik rencana.
Awalnya memang berat menerima kecewa pasti ada pesimis dan apatis. Pantaskah demikian?
Tidak, sekali lagi tidak. Tuhan menyiapkan kado terindah untuk hambanya yang menerima ketetapan-Nya
Meleset dari rencana itu biasa, menjadi luar biasa ketika kita lapang menerimanya.
–Khuriyatul Ainiyah
(11)
“Taat kepada Allah memang berat, maka hanya jiwa-jiwa yang telah menemukan hakikat dirinya sebagai makhluk yang mampu bersabar menjalaninya. Sungguh, di balik ketaatan ada ketenangan yang tak mungkin didapat dengan selainnya.”
–Atifah Saleha
(12)
“Sesungguhnya orang orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya,dan apabila dibacakan ayat ayat Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2)
Semoga kita semua termasuk kedalam golongan orang yang beriman yang apabila disebut nama Allah bergetar hatinya, Ramadan ini mengantarkan kita menjadi pribadi yang banyak membaca ayat-ayat cinta dari-Nya dan semakin mencintai-Nya.
–Nur Pujiasih

(13)
Ketika suatu hari dirimu telah menemukan kebahagiaan, genggamlah kebahagiaan itu dan jangan pernah kau lepaskan. Begitu banyak orang yang mengaku tidak bahagia padahal hidup berkecukupan.
Ketahuilah bahagia itu sederhana tapi kadang sulit didekap meski jaraknya begitu dekat. Jangan pernah menyerah untuk meraih kebahagiaan sejati. Hidup dalam keabadian sebuah karya yang selalu dikenang.
–Ifah Latifah
(14)
Malam ke 27, apakah malam tadi Lailatulkadar? Wallohu’alam. Bisa jadi Allah sengaja tidak menampakkan tandanya dengan jelas agar kita tetap bersemangat mencari malam Lailatulkadar sampai di detik terakhir saat Ramadan mengucapkan pamit pada kita.
Selain Lailatulkadar masih ada Grandprize lain yang harus kita kejar yaitu ampunan Allah dan dihapus segala kesalahan kita sehingga bisa kembali Fitri.
Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosa kamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. Ali-Imran : 31)
–Nunun Nurlaila
(15)
Ramadan adalah jalan hijrah menuju kebaikan. Keberhasilannya akan terlihat pada sebelas bulan berikutnya.
Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidzahullah berkata,
“Di antara tanda diterimanya amal shalih di bulan Ramadan adalah keadaan seorang muslim setelahnya menjadi lebih baik daripada sebelum Ramadan, karena kebaikan akan mengajak kepada kebaikan (selanjutnya) dan amal shalih akan mengajak pada amal shalih lainnya.”
–Leni Cahya
(16)
Di penghujung Ramadan, ditengah gegap gempitanya mudik ke kampung halaman, tetaplah berbuat kebaikan walaupun itu kecil dan tak seberapa.
Allah SWT berfirman dalam Al Quran surah Al Zalzalah ayat 7-8 yang artinya maka Barangsiapa berbuat kebaikan sebesar dzarrah niscaya dia akan melihat (balasan)nya dan barangsiapa berbuat kejahatan sebesar dzarrah sekalipun, dia akan melihat (balasan)nya.
–Ayu Muliyati
(17)
Ramadan sebentar lagi meninggalkan warna warni kenangan. Keindahan yang mengundang rasa takjub tak berkesudahan. Mencipta rindu sebelum perpisahan, air mata taubat berharap ampunan.
Seiring perjalanan, semoga Allah anugerahkan keistiqamahan dalam ta’at ibadah. Meningkat ketakwaan dan keshalihan. Kebermanfaatan untuk diri, keluarga, dan ummat.
Hendaklah setiap diri meminta tolong kepada Allah dalam setiap urusannya, termasuk dalam meminta hidayah dan istiqamah. Tidak boleh kita bergantung pada diri kita sendiri yang lemah.
“Ya Allah, aku meminta kepada-Mu hidayah dan kebenaran.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2725]
–Puspa Mafazan
(18)
Malam keduapuluh tujuh bertepatan dengan malam Jumat, malam yang sangat dinantikan, diharapkan terjadinya Lailatulkadar.
Dari Ubay bin ka’ab r. a berkata, “Demi Allah aku sangat ingin mengetahui malam Lailatulkadar tersebut.” Maka Rasulullah memerintahkan kepada kami untuk menghidupkan dengan salat malam.
Berkata Al-Wazir Abu Mudzafar, “Apabila malam ganjil 10 hari terakhir bulan Ramadan bertepatan dengan malam Jumat , maka malam itu lebih diharapkan sebagai malam Lailatulkadar.”
Jangan cari Lailatulkadar dengan tanda-tandanya, tetapi carilah Lailatulkadar dengan banyak beribadah.
Sungguh amalan itu di lihat dari akhirnya. (HR. Bukhari no. 6493).
–Dede Nurjanah
(19)
Kita tak perlu banyak berkomentar tentang kehidupan orang lain. Jika hidup orang lain terlihat baik, tak perlu kita iri dan dengki. Cukup kita mencontoh kebaikannya. Jika hidup orang lain terlihat buruk, mari kita doakan agar menjadi baik dan menjadikannya pelajaran buat kita.
Perbaiki hidup kita sendiri, lakukan perubahan jika perlu. Itulah kunci kehidupan yang tenang dengan tidak banyak mencampuri kehidupan orang lain.
–Dwi Isnaini
(20)
Menangislah sebelum Ramadan pergi. Kita pernah berjanji mengkhatamkan Al-Qur’an selama Ramadan.
Menangislah sebelum Ramadan pergi. Kita pernah berjanji menyempurnakan qiyamul lail yang tersendat. Namun, tak jua menyempurnakan bilangan.⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Menangislah Sebelum Ramadan pergi. Kita berdoa sejak Rajab dan Sya’ban agar disampaikan ke Ramadan. Setelah Ramadan di akhir hitungan, ternyata kita telah menyia-nyiakannya. Kita pun tak bisa menambah ibadah Sunnah.⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Menangislah, biar butir bening itu jadi saksi di yaumil akhir bahwa ada satu hamba yang lalai, ingkar lagi terlena. Ramadan yang mulia pun tersia-sia.⠀⠀⠀⠀⠀
Menangislah atas itikaf yang belum juga kita kerjakan, atas ayat-ayat Allah.
–Hellen Patraliza
++
Sering kali kita beranggapan tidak dikabulkannya doa karena Allah tidak mencintai disebabkan dosa-dosa kita. Tidak jarang, hal ini membuat kita berputus asa sehingga mendorong kita untuk meminta pada selain-Nya.
Padahal, ketika kita memohon kepada Allah dibarengi dengan meminta kepada makhluk, hal itu justru menjadi sebab utama tidak dikabulkannya doa.
Allah mempunyai nama Al Hakim yang berarti Maha Bijaksana. Allah hanya akan mengabulkan doa yang terbaik untuk kita. Allah menahan pengabulan doa karena Dia mengetahui itu buruk buat kita. Sehingga doa yang menurut kita baik itu, Allah ganti dengan pahala di akhirat.
–Tatiek R Anwar
++
Tak perlu bosan berbuat baik, walaupun orang lain menganggapnya tidak baik. Ingat pesan Cak Nun,
“Dakwah yang utama bukan berupa kata-kata. Melainkan dari perilaku. Orang yang berbuat baik sudah berdakwah.” (Cak Nun)
–Sri Rohmatiah
++
Tepo saliro merupakan petuah luhur dalam budaya Jawa. Apa maknanya?”Tenggang Rasa”
Seperti apa engkau ingin diperlakukan, seperti itulah semestinya engkau melakukan sesuatu.
–Ida Nur Laila
++
Aisyah menceritakan, “Aku bertanya : Ya Rasulullah, jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar terjadi, apa yang harus aku ucapkan ?”
Beliau menjawab, “Ucapkanlah,
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.”
Ya Allah Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Sanadnya sahih).
Semoga Allah ampuni dosa kita semuanya. Aamiin.
–Cahyadi Takariawan

Maasyaallah tabarakallah. Jempol ping papat makkeposemua. Sukran katsiran ustadz Cahyadi Takariawan dan makbunda Ida Nurlaila.