.
Rumesha / Rutin Menulis Setiap Hari – 12
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Margaret “Peggy” Mitchell selalu dikenang masyarakat dunia, khususnya Amerika, hingga sekarang. Ia menulis mahakarya “Gone with the Wind”, sebuah novel yang menjadi legenda dalam dunia sastra.
Terbit pada tahun 1936, dan memenangkan penghargaan Pulitzer pada 1937, novel tersebut selalu menjadi salah satu tema diskusi di bidang kemanusiaan, perang dan perdamaian. Hingga hari ini, novel Peggy tersebut telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.
“Gone with the Wind” diangkat ke layar lebar pada tahun 1939, dibintangi aktor Clark Gable dan Vivien Leigh. Film itu berhasil memecahkan rekor box office penayangan, sekaligus memperoleh Piala Oscar dalam jumlah terbanyak.
Sakit yang Menjadi Daya Ungkit untuk Bangkit
“Margaret Mitchell (1900-1949), author of the best-selling novel Gone With the Wind had chronic, widespread pain for most of her adult life” (Robert S. Pinals, 2015).
Margaret Mitchell lahir di Atlanta, Amerika Serikat, pada 8 November 1910. Ia mengawali karir menulis di mingguan Atlanta Journal, menggunakan nama Peggy Mitchell. Sampai suatu hari ia mengalami kecelakaan yang mengakibatkan pergelangan kakinya patah, yang menyebabkan ia harus berhenti sebagai jurnalis.
Akibat kecelakaan itu, pada tahun 1926 ia harus menjalani perawatan intensif. Untuk membunuh rasa bosan di masa perawatan, ia memulai menulis novel.
Peggy menggunakan mesin ketik Remington untuk mengetik bagian demi bagian novel perdananya tanpa urutan tertentu. Naskahnya mencapai 70 bab ketika akhirnya kakinya mulai sembuh.
“She was accident prone and sustained injuries leading to unexpectedly prolonged periods of recovery and had unusual illnesses that puzzled her physicians” (Robert S. Pinals, 2015).
Pada April 1935, Harold Latham, seorang editor untuk perusahaan penerbitan Macmillan di New York City, tengah mencari naskah baru. Latham mendengar bahwa Mitchell sedang menulis naskah novel. Mereka bertemu, dan satu tahun kemudian novel “Gone with the Wind” diterbitkan.
Best Seller Dunia
Novel setebal 1.037 halaman itu dijual seharga tiga dollar. Sejak diterbitkan, langsung mendapat respon sangat antusias dari publik, hingga terjual jutaan eksemplar. Menjadi salah satu novel legenda dan best seller tingkat dunia.
Menurut Robert Pinals (2015), Mitchell menderita sakit kronis yang meluas di hampir sepanjang masa dewasanya. Bahkan saat kecelakaan, ia mengalami cedera yang memerlukan waktu pemulihan lama, dan memiliki penyakit yang tidak biasa yang membingungkan dokternya.
“Starting at an early age, Mitchell had a burning ambition to be a writer, and her painful, chronic illness created conditions that allowed her to achieve this goal” (Robert S. Pinals, 2015).
Sejak usia dini, Mitchell telah memiliki ambisi yang membara untuk menjadi seorang penulis. Penyakit kronis yang diderita, telah memberikan motivasi untuk menulis novel yang menggemparkan dunia. Pinals menyatakan, di selama hidupnya, Mitchel memiliki diagnosis kesehatan yang bermasalah, termasuk fibromyalgia dan sindrom iritasi usus besar.
Pada 16 Agustus 1949, Mitchell meninggal dunia karena mengalami kecelakaan. Namun karyanya terus menerus dicetak ulang dan dicari untuk menjadi bahan diskusi.
“During her life, her diagnoses were problematic and remain so now, but would most likely include fibromyalgia and irritable bowel syndrome” (Robert S. Pinals, 2015).

Tetaplah Menulis, Meski Tengah Sakit
Kita tidak boleh berharap sakit. Kita harus selalu sehat, kuat, segar dan bugar sepanjang masa. Namun apabila mendapat ujian berupa sakit, jangan bersikap lemah dan putus asa. Berusahalah untuk sembuh dan bangkit dari sakit.
Menulis adalah kegiatan yang tetap bisa dilakukan meski tengah sakit. Sepanjang otak masih bisa bekerja dan berfungsi, maka menulis tetap bisa dilakukan. Ingat kisah Jean Dominique Bauby, yang mampu menulis buku di saat berbaring sakit. Ia hanya bisa menggerakkan kelopak mata.
Demikian pula dengan Dahlan Iskan. Sangat banyak tulisan ia buat, meski tengah berbaring sakit. Simak salah satu tulisan Dahlan berikut ini, yang dibuat saat perawatan Covid-19 di rumha sakit.
Jadi, inti menulis hanya satu : kemauan. Jika ada kemauan, pasti akan ada tulisan. Jika tidak ada kemauan, yang muncul hanya alasan pembenaran.
Tetaplah sehat, tetaplah menulis rutin setiap hari. Keep spirit.
Bahan Bacaan
Naviri, Biografi Margaret Mitchell, https://www.naviri.org, Desember 2018
Robert S. Pinals, Peggy’s Pain and the Creation of Gone With the Wind, https://www.researchgate.net, Juni 2015

Keep spirit.
Bangkit di kala sakit bagi saya sangat sulit.bbuktinya jika sedang demam atau meriang bawaannya kemulan ingin tidur terus.Semoga selalu bangkit untuk bisa menulis. Syukran ustaz Cahyadi Takariawan
Keep spirit. Terima kasih pencerahannya Pak Cah.
Sejuta alasan untuk tdk menulis bila kemauan tdk ada. Tapi hati tak dapat memungkiri bahwa itu hanya sekedar alasan, karena banyak waktu terbuang begitu sj tanpa melakukan hal positif dan produktif.
Jazaakallah Pak Cah