.
Oleh : Solikhin Zero to Hero
“Kita kalah oleh masalah bukan karena tidak kemampuan untuk bertahan namun kita kalah oleh masalah karena tidak punya daya kelola terhadap kemampuan kita”
(Spiritual Problem Solving – Solikhin Zero to Hero)
.
Salah satu penyakit yang perlu diwaspadai bagi orang muda apalagi orang tua adalah post power syndrome. Yakni orang orang yang masih ingin berkuasa, memerintah, menyuruh nyuruh dan melakukan banyak hal sedangkan otoritas untuk melakukan hal tersebut sudah tidak ada lagi.
Pejabat sudah tidak lagi menjabat sehingga ada yang merana dan kesepian. Tidak ada lagi yang menyapa selamat pagi. Tidak ada yang menawari, “Mau minum teh atau kopi?” Namun karena sedih dan berpenyakit, “Aku mau minum air putih saja.”
Tokoh politik yang dulunya dipuja dan dipuji, didahulukan dan diprioritaskan, dibukakan jalan dan diberikan tempat duduk di depan, kini karpet merah itu tidak ada lagi. Orang-orang terkenal, viral, populer, banyak follower dan subscribers pada akhirnya pun sepi ketika tidak ada lagi yang bisa membuat hal hal yang menarik, hingga akhirnya perlahan tapi pasti dia menarik diri dari dunia gegap gempita penuh sensasi.
Menulis adalah cara untuk mengatasi dan bahkan mengantisipasinya agar hidup tidak sepi yakni dengan terus bisa berkontribusi meskipun sudah tidak punya kuasa lagi, tidak terkenal dan tidak viral.
Niatkan Karena Allah
Itulah kekuatan yang mesti dimiliki agar tidak sakit hati dan terus menggerogoti. Dengan meniatkan menulis karena Allah maka tulisan akan sampai ke hati. Namun jika niatnya salah dan melenceng bisa mematahkan keinginan untuk berbagi. Seperti kata mutiara yang terkenal, “Berharap kepada Allah engkau akan bahagia, berharap kepada manusia engkau akan kecewa.”
Tokoh tokoh besar menjadi besar bukan merasa besar yakni ketika visi besar untuk selalu bersandar kepada Allah yang Maha Besar. Buya Hamka tetap berkarya sampai akhir usia. BJ Habibie menuliskan kisah bersama Ainun sehingga bisa menjadi cermin cinta yang tak pernah lekang. Dan banyak lagi tokoh yang bisa tetap kokoh dengan menulis.
Mengubah Lelah Menjadi Lillah
Menulis, meskipun tak punya kuasa di pemerintahan, tidak punya tongkat komando kemiliteran, tak punya uang banyak untuk menyuruh banyak orang dengan satu jari namun sesungguhnya bisa menjadi sarana dakwah yang sangat indah. Rasulullah Saw bersabda,
“Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu ubahlah dengan lisannya. Jika tidak mampu ubahlah dengan hatinya dan itu adalah selemah lemah iman.” (HR. Muslim)
Dakwah dengan lisan dan tulisan tentu bukan sekadar menyalahkan keadaan atau mencela kegelapan. Dengan menulis seseorang bisa tetap “berkuasa dengan pena” bahkan saat nyawa tidak lagi dipunya.
Dakwah pun bisa dilakukan dengan cara elegan yakni kena ikannya tanpa keruh airnya dengan menjadi guru bangsa yang membimbing negeri dengan pemikiran brilian sebagai solusi.
Berkontribusi Tanpa Merasa Paling Berjasa
Sebaik-baik amal adalah yang dilakukan pada saat dibutuhkan. Memang idealnya saat berkuasa, punya tombol untuk dipencet, ada tidak tongkat komando menjadi sarana yang paling efektif memberikan pengaruh positif bukan malah merusak konstitusi.
Faktanya banyak orang yang naik tampuk kekuatan tanpa bekal yang cukup akan kehilangan banyak ilmu. Tidak sempat belajar apalagi menulis. Ketika pensiun saatnya merangkai kembali pengalaman berharga untuk dituangkan agar bisa menjadi petunjuk jalan bagi orang yang datang kemudian tanpa merasa paling berjasa dalam melakukan.
Imam Ahmad ditanya, “Kapan seorang mukmin istirahat?” Beliau menjawab, “Ketika telah menginjakkan kakinya di surga.”
Masa tak punya kuasa namun masih bisa bahagia dengan menulis dan menulis karena akan menjadi jalan terindah menuju jannah.
Siap? Mulailah. Bismillah.
Sragen, 1 April 2022 jam 05.40

Masyaallah spirit pagi yang luar biasa. Terima kasih the power Zero to Hero Pak Solokhin.