Oleh : Cahyadi Takariawan
Apakah saya wajib minum kopi atau teh atau coklat untuk bisa menulis? Jika iya, sepertinya saya sudah kecanduan jenis minuman tersebut. Alhamdulillah, saya tidak punya kebiasaan tertentu untuk bisa menulis. Tanpa harus menyediakan minuman atau camilan, saya tetap bisa menulis. Dalam kondisi puasa, juga tetap bisa menulis. Saya berharap Anda semua juga demikian.
Saya pecinta kopi, arabica dan excelsa atau liberica. Terkadang juga robusta. Namun minum kopi bagi saya tidak ada hubungannya dengan menulis. Minum kopi adalah suatu aktivitas, menulis adalah suatu aktivitas yang berbeda. Apakah jika setelah minum kopi saya menjadi semakin bersemangat atau bergairah dalam menulis? Sepertinya tidak ada hubungannya. Saya menyeduh kopi dengan V-60 atau calista, pada waktu yang saya rasa tepat untuk melakukannya.
Sebagian masyarakat meyakini kopi akan membuat betah melek. Padahal —kata gurunda Mohammad Fauzil Adhim, ada jenis kopi yang justru memberikan efek mengantuk. Yaitu kopi jenis liberica, yang memang cukup langka ketersediaannya. Maka pertanyakan kembali, untuk apa Anda minum kopi? Sebagaimana harus mempertanyakan ulang, untuk apa Anda menulis, jika tergantung dengan kopi.
Kopi bagi saya adalah sebuah seni berkomunikasi. Ini inspirasi dari Mas Pepeng di Klinik Kopi Yogyakarta. Saya setuju pendapat beliau. “Jika sekedar pengen minum kopi, kamu bisa membuat sendiri, tak harus datang ke sini”, kata Mas Pepeng. Iya banget. Mengapa saya harus ke Klinik Kopi? Karena ada nilai komunikasi yang terbangun melalui kopi. Saya ke Klinik Kopi tidak untuk menulis, namun untuk belajar menyeduh kopi dari sang barista keren, Mas Pepeng.
Berbeda dengan Honore de Balzac —penulis Prancis kelahiran 1799. Penulis kelas dunia ini sepertinya tidak bisa menulis jika tidak minum kopi. Ia biasa tidur sekitar pukul 18.00, dan terbangun sekitar pukul 01.00 dini hari, lalu mulai menulis. Konon, Honore de Balzac minum sekitar 50 cangkir kopi setiap hari. Ini tentu contoh negatif yang tak patut ditiru, karena sudah masuk kategori berlebih-lebihan dalam sesuatu. Kopi itu boleh saja —hukum asalnya mubah. Namun menjadi masalah jika dikonsumsi secara berlebihan, atau menjadikan addict —jika tidak ngopi, maka tidak muncul inspirasi.
“Kopi meluncur ke dalam perutmu dan dengan cepat terjadi keributan di sana,” ungkap de Balzac, “Gagasan-gagasan mulai bergerak bagai batalyon Tentara Besar di medan perang, dan pertempuran pun berlangsung. Berbagai hal langsung teringat kembali dalam kecepatan penuh, mendesingkan angin. Kavaleri perumpamaan dikerahkan, artileri logika buru-buru tiba dengan kereta dan amunisi, moncongnya lurus bagai penembak jitu. Kiasan-kiasan bermunculan, kertas mulai tertutupi oleh tinta; perjuangan dimulai dan diakhiri dengan semburan air hitam, bagaikan pertempuran dengan mesiu.”
Heroik cara pandang de Balzac. Kopi baginya adalah bara pertempuran dahsyat yang melejitkan gairah menemukan inspirasi dan menuliskannya. Limapuluh cangkir kopi setiap hari, jelas tidak lagi wajar bagi para pecinta kopi. Konon, di akhir hayatnya, de Balzac keracunan kafein, karena terbiasa menenggak kopi dalam jumlah terlampau banyak setiap hari. Jangan pernah meniru cara minum kopi seperti ini.
Ada penulis yang lebih brutal kebiasaannya dibandingkan de Balzac. Seorang penulis Amerika yang sangat produktif, salah karya terkenalnya adalah “Fear and Loathing in Las Vegas” (1972). Ya, ialah Hunter S. Thompson. Ia memulai aktivitas dari jam 15.00 dengan menenggak Chivas Regal, lanjut cocain, minum Chartreuse, cocain lagi, acid, cocain lagi. Apa akhir hidupnya? “Hunter S. Thompson, death, at 5:42 p.m. on February 20, 2005, Thompson died from a self-inflicted gunshot wound to the head at Owl Farm, his “fortified compound” in Woody Creek, Colorado”. Horor dan mengerikan.
Coba perhatikan ‘daftar menu’ yang menemani Hunter menulis setiap harinya. Sangat mengerikan. Bahkan kita bertanya-tanya, ini mau menulis atau mau bunuh diri? Dan ternyata ujung akhir hidupnya memang bunuh diri.

Menulis disebut menyehatkan dan membahagiakan, hanya apabila berada dalam bingkai yang positif. Jika menulis dilakukan disertai cara-cara yang brutal, maka tidak menyehatkan dan tidak membahagiakan —-karena kebrutalan caranya. Bukan karena aktivitas menulisnya. Cara-cara brutal tersebut merusak —bukan hanya dalam kaitan dengan menulis. Seorang artis, komedian, politisi, atau apapun yang bekerja menggunakan cara-cara brutal dan primitif, tentu akan merusak dirinya. Bukan karena artisnya, bukan karena komediannya, bukan karena politisinya. Namun karena kebrutalan cara kerjanya.
Melihat contoh kebiasaan berlebihan pada beberapa penulis tersebut, menjadi pertanyaan sangat mendasar, sebenarnya untuk apa mereka menulis?
Bahan Bacaan
Elizabeth Blair, Writer Hunter S. Thompson Commits Suicide, https://www.npr.org, 21 Februari 2005
Tan Muda, Saya Menyesap Kopi, Maka Saya Ada! www.medium.com, 31 Agustus 2019
Nick Greene, Saya Meniru Kebiasaan Penulis Terkenal Supaya Ikutan Sukses, Hasilnya Ambyar, www.vice.com, 22 Januari 2018

Hah! Kaget saya Pak Cah. Ternyata menulis bisa dengan cara sebrutal itu. Saya jadi berpikir bahwa yang selama ini menulis itu biasa-biasa saja. Ternyata menulis itu juga tak ubahnya seperti olah raga yang atlitnya kadang harus melakukan hal-hal diluar kewajaran seperti U19 generasi Evan Dimas yang setelah berlatih direndam air es. Seperti musik yang kadang diwarnai dengan Narkoba. Dan kegiatan-kegiatan lain yang diiringi kebrutalan.
Namun banyak juga yang sukses tanpa kebrutalan. Dan saya ingin di jalur ini sebagaimana yang dicontohkan Pak Cah. Minum kopi dan menulis dua kegiatan yang berbeda dan tidak saling berhubungan.
Terima kasih Pak Cah.
Saya krg suka minum kopi to bkn berarti anti kopi,jk dihidangkan pasti saya seruput he he,benar Pak Cah tdk ada hubungan antara minum kopi dg menulis, ini semacam sugesti aja, mirip dg org yg suka dg **ok
yess… nikmati kopi, nikmati menulis…
itu pilihan selera mas Adji… mereka yang berselera brutal, ternyata matinya juga brutal… ngeri…
Luar Biasa..brutal cara hidupnya brutal pula lahir hidupnya. Nauzubillah .
Saya sangat setuju arahan pak Cah dalam menulis.tak ada hubungan antara menulis dan kopi
yups, ngopi ya ngopi, nulis ya nulis….