20 September 2026

Oleh : Cahyadi Takariawan

“I think everybody should get rich and famous and do everything they ever dreamed of so they can see that it’s not the answer” — Jim Carrey.

Tak salah orang ingin populer. Tak salah orang ingin kaya. Namun, benarkah popularitas dan kekayaan yang menjadi motivasi utama Anda untuk menulis? Apakah popularitas dan kekayaan yang menggerakkan jari jemari Anda menuangkan ide ke dalam tulisan? Apakah popularitas dan kekayaan yang menjadi obsesi Anda dalam menghasilkan karya tulis? Jika itu yang menjadi obsesi dan tujuan utama Anda dalam menulis, saya sarankan agar Anda mendefinisikan ulang tujuan. Mengapa? Saya khawatir Anda akan kecewa, dan akhirnya berhenti menulis.

Popularitas dan kekayaan itu tampak seperti matahari bagi orang yang belum mencapainya. Terang, cerah, menyilaukan. Namun tak sedikit orang yang terbakar dan hangus saat sudah mencapainya. Saat belum populer dan belum kaya, membayangkan betapa bahagianya orang yang memiliki popularitas mendunia, dan memiliki kekayaan tak terkira. Maka mereka berjuang dan bekerja keras mendapatkannya melalui berbagai macam cara. Namun, jika sudah berhasil mencapai, apakah itu benar-benar akan membahagiakan?

Cobalah bertanya kepada orang-orang yang sudah mencapai puncak kekayaan dan popularitas. Bagaimana rasanya saat populer? Bagaimana rasanya ketika kaya raya? Jim Carey sudah mengingatkan kita semua, “I think everybody should get rich and famous and do everything they ever dreamed of so they can see that it’s not the answer”. Apakah kita semua harus ikut-ikutan terobsesi mengejar kekayaan dan popularitas —dengan seluruh keringat, darah dan air mata— dan setelah sampai pada puncaknya, kita baru tersadar bahwa bukan itu yang kita cari sesungguhnya. Bukan itu jawabannya.

Mengejar popularitas dan kekayaan, mungkin seperti aktivitas yang dilakukan oleh Sisyphus —raja para dewa dari mitologi Yunani. Ia dipuja dan dielu-elukan manusia di zamannya. Hingga pada suatu masa, ia berusaha untuk memusnahkan Dewa Maut bersama dewa lainnya. Namun upaya ini gagal. Akhirnya Sisyphus dihukum, harus hidup di bawah tanah. Tak hanya itu. Ia pun harus mendorong sebuah bongkahan batu raksasa menuju ke atas bukit, dan setelah sampai di atas batu ini digulingkan lagi ke bawah. Setelah sampai di bawah, ia harus mendorong lagi batu tersebut ke atas. Begitu terus menerus.

Mungkin seperti itu gambaran kehidupan manusia dalam mengejar popularitas dan kekayaan. Seperti perilaku Sisyphus yang digambarkan oleh Albert Camus sebagai “absurd”. Banyak manusia ingin populer dan kaya, dengan melakukan kerja keras —sekeras mendorong bongkahan batu ke atas bukit. Sesampai di atas bukit, ia merasa tak menemukan apa yang dicarinya. Ternyata puncak ‘bukan jawaban’ —seperti ungkapan Jim Carey. Maka batu pun digelindingkan lagi ke bawah. Begitu berulang-ulang. Sudah tahu lelahnya mendorong batu ke puncak bukit, sudah tahu di puncak tak ada yang dicari, namun orang tetap bersusah payah melakukannya.

“Bukan Jawaban”

Saya tergelitik dengan ungkapan Jim carey, “not the answer”. Banyak orang telah membuktikannya. Di tengah puncak popularitasnya, Justin Bieber merasa tidak bahagia. Ia mengalami kehilangan kebahagiaan. “He feels something is missing from his life that can’t be bought. It’s a missing feeling of happiness. He is very much grateful for his amazing life and especially for Hailey. It’s difficult for him that he can’t just enjoy everything and feel happy. He has been in treatment for this before” (Maria Goncalves, 2018).

Pada titik tertentu kehidupan manusia, semakin banyak harta dikumpulkan, justru bisa menghasilkan penderitaan. Paling tidak, ini yang dirasakan oleh seorang Warren Buffet (2016). “There are things money can’t buy. I don’t think standard of living equates with cost of living beyond a certain point. Good housing, good health, good food, good transport. There’s a point you start getting inverse correlation between wealth and quality of life. My life couldn’t be happier. In fact, it’d be worse if I had six or eight houses”.

Sebanyak apapun Anda mengejar kekayaan dan popularitas, di titik tertentu Anda merasa harus berhenti. Bahkan terengah-engah. Tak jarang menyesali mengapa harus mengejar dengan cara sekeras ini. “So, I have everything I need to have, and I don’t need any more because it doesn’t make a difference after a point. When you get to 10 times or 100 times or 1,000 times, it doesn’t make a difference –in quality of life,” ujar Warren Buffet.

Banyak orang, saat miskin, terobsesi untuk bekerja keras mendapatkan sebanyak mungkin harta. Makin banyak harta yang ingin didapatkan, makin keras pula kerja yang harus dilakukan. Namun setelah didapat, sering kali membuat orang berpikir ulang — bahwa harus bekerja sekeras itu, hanya untuk mendapatkan sesuatu yang ternyata ‘bukan jawaban’. Mungkin kondisi seperti itu yang dirasakan oleh Bill Gates (2016), “Money is counterproductive-it prevents happiness to come”.

“For a long time I believed that more wealth and luxury automatically meant more happiness. I come from a very poor family, where the rules were to work more to achieve more material things, and I applied this for many years. More and more I heard the words: ‘Stop what you are doing now-all this luxury and consumerism-and start your real life.’ I had the feeling I was working as a slave for things that I did not wish for or need. I have the feeling that there are lot of people doing the same thing,” ungkap Bill Gates.

Maka, puncak kebahagiaan justru bukan pada popularitas atau kekayaan itu sendiri. Kebahagiaan —seperti yang dirasakan Mark Zuckeberg— adalah dalam peduli dan berbagi kepada sesama. Bahagia itu dalam saling mengasihi dengan orang-orang tercinta —keluarga dan teman-teman. “To me, happiness is doing something meaningful that helps people and that I believe in with people I love. I think lots of people confuse happiness with fun. I don’t believe it is possible to have fun every day. But I do believe it is possible to do something meaningful that helps people every day”.

Pada akhirnya, menghargai kebersamaan adalah kunci kebahagiaan yang penting. “As I’ve grown up, I’ve gained more appreciation for my close relationships — my wife, my partners at work, my close friends. Nobody builds something by themselves. Long term relationships are very important,” ungkap Mark Zuckeberg.

Menulis untuk Keabadian

Maka menulislah untuk keabadian. Untuk sesuatu yang akan membawa Anda menuju kebaikan dan kebahagiaan yang sesungguhnya. Rumusan Zuckeberg sangat menarik untuk direalisasikan dalam menulis. “Doing something meaningful that helps people”, itu rumus kebahagiaan Zuckeberg. Maka, berpikirlah bahwa dengan tulisan, Anda bisa memberikan makna bagi orang lain, bisa membantu orang lain. Inilah kebahagiaan level 3 dalam kategori authentic happiness-nya Martin Seligman.

Kebahagiaan level 1 —yang paling rendah, adalah pleasant life. Hidup yang menyenangkan. Mungkin, kekayaan dan popularitas, bisa memberi kesenangan. Namun tak akan mampu memberikan kebahagiaan yang hakiki. Kebahagiaan level 2, adalah good life, sebuah kehidupan yang baik, kehidupan yang positif. Kehidupan yang selalu berada dalam kondisi yang positif, akan memberi kebahagiaan yang lebih nyata. Kebahagiaan level 3 —puncaknya, adalah ketika mampu memberikan makna bagi orang lain. Meaningful life, inilah kehidupan yang penuh makna, kehidupan yang tidak berpikir tentang diri sendiri. Kehidupan yang penuh arti.

Dalam menulis, jika tujuannya hanya untuk mengejar kesenangan sesaat, seperti kekayaan dan popularitas, maka hanya berada di level terendah dari kebahagiaan. Coraknya sangat sementara. Jika tujuan menulis untuk mencapai kualitas kehidupan yang baik, maka akan mendapat kebahagiaan yang lebih nyata dan lama. Sedangkan jika menulis untuk menebar makna kepada sesama, menulis untuk memberikan kemanfaatan yang luas, inilah puncak kebahagiaan bagi seorang penulis —bahwa tulisannya memberi makna bagi semesta.

Inilah menulis untuk keabadian. Menulis untuk kebermaknaan. Menulis untuk kebermanfaatan. Bukan sekedar mengejar obsesi ‘matahari’, yang setelah sampai di sana, kita baru menyadari bahwa ternyata itu ‘bukan jawaban’ yang kita cari.

Bahan Bacaan

Chompoo Chimes, Authentic Happiness by Martin Seligman, www.positivepsychology.com, 20 November 2019

Leonard Kim, I Think Everyone Should Get Rich And Famous : What Did Jim Carrey Actually Mean? https://medium.com, 3 Juli 2015

Maria Goncalves, Justin Bieber Is Suffering From ‘A Missing Feeling Of Happiness,’ Per ‘People’, www.inquisitr.com 5 November 2018

Rahul Varshneya, Is Mark Zuckerberg Happy? https://www.inc.com, 14 Juni 2016

3 thoughts on “Popularitas dan Kekayaan, Itukah yang Anda Cari Melalui Tulisan?

  1. Alahamdulillah Pak Ustad, sy jadi mengerti tujuan yang benar, yang hakiki sebagai seorang penulis dan kita memang semua adalah manusia biasa, makhluk Allah yang tidak akan pernah puas bila yang di capai adalah materi dan kebahagian di dunia yang hanya sementara in. Sebenarnya sebagai makhluk cipataanNya , yang kita cari adalah Ridho Allah semata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *