.
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Puasa sebulan penuh, bagi umat Islam, adalah sebuah bentuk perjuangan totalitas. Pada siang hari bulan Ramadan, semenjak berkumandang adzan Subuh, hingga sore hari saat berkumandang adzan Maghrib, diwajibkan berpuasa. Menahan diri dari makan, minum dan hal-hal lain yang membatalkan puasa. Pada malam hari, menjalankan shalat tarawih.
Bukan hanya itu. Masih dituntunkan untuk memperbanyak tadarus Al-Qur’an, bertaubat, doa, sedekah dan berbagai amal ibadah lainnya. Bahkan pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan, dianjurkan untuk melakukan i’tikaf. Pada malam-malam yang akhir ini, terdapat lailatul qadar yang sangat ditunggu kehadirannya. Keseluruhannya adalah perjuangan totalitas selama satu bulan. Hasil akhir yang diharapkan adalah peningkatan kualitas.
Berbagai potensi kemanusiaan diharapkan bisa meningkat kualitasnya. Meningkat kualitas imannya, meningkat kualitas takwanya, meningkat kualitas akhlaknya, meningkat kualitas tawakalnya, dan seterusnya. Itulah hasil perjuangan totalitas, akan meningkatkan berbagai sisi kualitas.
Perjuangan untuk Disiplin Menulis
Dalam perjalanan belajar menulis, terjadi pula hal serupa. Seperti dalam menjalankan puasa Ramadan, proses belajar menulis juga memerlukan perjuangan yang totalitas. Harapannya, jika Anda mampu mencurahkan perhatian, waktu dan tenaga untuk bersungguh-sungguh belajar, maka akan meningkat kualitas kepenulisan Anda.
Seperti apa bentuk perjuangan totalitas dalam belajar menulis? Ada banyak cara untuk belajar menulis dengan totalitas, dalam kurun waktu tertentu. Misalnya, Anda mematok waktu satu bulan penuh, untuk bersungguh-sungguh belajar menulis. Dalam waktu satu bulan itu, ada bisa melakukan berbagai kegiatan pembelajaran mandiri.
Berikut adalah contoh PROGRAM HARIAN yang harus Anda lakukan. Setiap hari, Anda harus melakukan hal-hal berikut ini.
- Menulis bebas, minimal 30 menit
Pilih sendiri waktunya, apakah pagi, siang, sore atau malam. Ambil waktu minimal 30 menit untuk menulis bebas. Anda bebas menulis apa saja, fiksi ataupun nonfiksi. Temanya bebas, mau menulis tentang apapun, dengan gaya seperti apapun. Intinya adalah, berlatih kelancaran menulis.
- Menghasilkan karya tulis, minimal 200 kata
Jika Anda sudah mulai lancar menulis, dalam waktu 30 menit tersebut usahakan mampu menghasilkan satu naskah yang ‘selesai’. Jika berbentuk cerita, maka cerita itu sudah selesai. Jika berbentuk artikel, makapembahasannya sudah selesai. Buatlah tulisan yang ‘selesai’ minimal 200 kata setiap hari.
- Memosting karya tulis melalui media sosial
Jika Anda berhasil menulis naskah yang selesai, maka bisa Anda posting di media sosial. Silakan pilih, akan Andaposting melalu instagram, fesbuk, blog ataupun fitur lainnya. Mungkin pula Andaposting di berbagai grup whatsapp yang Anda ikuti.
- Membaca buku
Agar tulisan Anda makin berkualitas, Anda harus banyak membaca buku. Silakan pilih sendiri buku apa yang ingin Anda baca, sesuai minat masing-masing. Manfaat membaca buku adalah untuk belajar cara memilih kosa kata, belajar cara menyusun kalimat, belajar cara mengolah konflik dalam kisah fiksi, dan lain sebagainya.
- Mempelajari PUEBI dan atau KBBI
Meskipun hanya lima menit, Anda perlu membiasakan diri untuk mempelajari Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). PUEBI dan KBBI ada yang berbentuk daring, sehingga dengan mudah Anda akses melalui gadget. Keduanya merupakan ‘buku induk’ kebahasaan yang resmi di Indonesia.
Jika lima aktivitas ini rutin Anda lakukan setiap hari, selama satu bulan, saya sangat yakin bahwa kualitas tulisan Anda akan meningkat. Investasi waktu, perhatian dan tenaga selama satu bulan untuk belajar menulis, hasilnya sudah bisa Anda rasakan saat merayakan “lebaran”.
“Puasa” terlebih dahulu, menunda kesenangan, menunda istirahat, untuk totalitas belajar selama satu bulan. Hasilnya adalah peningkatan kualitas karya tulis. Percayalah, Anda akan bisa melakukannya.

Alhamdulillah. Terima kasih pak Cah, sudah di ingatkan kembali. Harus banyak membaca dan 200 kata perhari, belajar Peubi, puasa melawan malas. Syukran katsiran ustadz Cahyadi Takariawan.