19 September 2026

Oleh : Warlinah

Jika hasrat menulis sudah dimiliki, akan sangat mudah menuangkan segala ide ke dalam tulisan.” (Warlinah)

Pertama

Penulis pemula seringkali merasa kebingungan dengan ide menulis. Ketika sudah menemukan ide, sulit merangkai kata menjadi tulisan yang indah.

Kedua

Telah mengikuti beberapa kelas menulis untuk mengasah kemampuan menulis, tapi masih juga belum menulis, terasa jalan di tempat, saat menghadapi laptop dan ponsel, kerjaan hanya tulis hapus.

Ketiga

Merasa tulisan tidak layak dibaca, tidak memenuhi kaidah, susunan kalimat amburadul, malu dengan teman-teman penulis lainnya akhirnya tulisan tidak ada yang jadi sama sekali.

Ketiga masalah di atas sering kita dengar bahkan mungkin pernah kita rasakan juga ketika memutuskan untuk menjadi penulis.

Jangan khawatir teman-teman!

Pada awal belajar menulis, saya merasakan kemacetan dan galau. Banyak belajar tentang ilmu kepenulisan tapi belum juga ada karya nyata yang bermanfaat untuk orang banyak, malu sama diri sendiri.

Galau semakin menjadi, apa kira-kira yang harus saya lakukan? Saya harus mulai dari mana agar terbiasa menulis setiap hari dan tulisan enak dibaca?

Akhirnya saya mencoba memulai menulis di wall pribadi dan belajar publikasi tulisan di kompasiana.  Tema tulisan yang saya buat seputar pengalaman pribadi yang tidak mengandung unsur SARA dan tidak plagiat.

Selain mulai menulis, saya pun banyak membaca guna menambah kosakata. Membaca tidak hanya buku, tetapi bisa dari hasil karya teman-teman dalam satu komunitas menulis.

Tidak puas dengan hanya menulis di wall dan kompasiana, saya kembali mengikuti kelas menulis yang dibimbing langsung oleh Pak Cahyadi Takariawan. Kelas Emak Punya Karaya (EPK) batch dua, dengan menerapkan ilmu dan metode menulis, perlahan saya rutin menulis.

Bergabung di kelas EPK melahirkan satu buku solo dalam waktu yang relatif singkat, yakni lima belas hari. Dalam waktu satu bulan buku sudah terbit. Terlepas dari semua, tidak dipungkiri ketika telah memiliki tekad menulis apapun pasti bisa.

Menghasilkan buku dengan mudah tidak lepas dari peran seorang mentor dan dukungan teman-teman dalam komunitas. Saya juga menerapkan metode menulis yang Pak Cahyadi ajarkan, yakni menetapkan waktu menulis, baik siang maupun malam dan wajib konsisten.

Satu buku dapat diprediksi selesai jika menetapkan waktu menulis dengan konsisten. Juga dapat mengukur berapa banyak jumlah kata yang dihasilkan dalam satu kali waktu menulis. Misalnya, menetapkan waktu satu jam menulis setiap pagi, setelah subuh, 1000 kata. Dalam kurung waktu tertentu dapat menghasilkan satu naskah buku.

Selain metode, saya juga menerapkan tips mudah menulis yang disampaikan Pak Cahyadi, di antaranya :

1. Tulis apa yang dilihat.

Segala sesuatu yang terekam oleh mata baik di dunia maya maupun di dunia nyata dapat dijadikan bahan tulisan. Contohnya ketika menonton sinetron, drama korea, atau kejadian-kejadian di luar sana, tuliskan seluruh skenarionya hingga akhir.

2. Tulis apa yang didengar

Ketika menghadiri suatu pertemuan, mengikuti webinar, workshop, atau atau majelis ilmu, segala ilmu pengetahuan yang kita dengar, yang bermanfaat dapat di tuliskan kembali.

Mengutip dari menulis.nurdin.id, 2020 yang ditulis oleh Pak Cahyadi Takariwan, bahwa Rasulullah saw bersabda yang artinya :

“Ikatlah ilmu dengan kitab (yaitu : dengan menulisnya)” (Hadits shahih dengan keseluruhan jalannya sebagaimana diterangkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 2026)[i].

 3. Tuliskan apa yang dirasakan

Setiap orang dalam hidupnya melalui fase kehidupan terkadang sedih, galau bahagia, sakit, hal tersebut dapat dijadikan tulisan. Momen bahagia ketika mendapatkan pekerjaan atau sedih ditinggal kerabat, teman, sahabat, pasangan, anak ataupun barang, dapat dijadikan satu tema tulisan.

Ketika ingin memulai menulis fokus pada satu ide tidak berpindah ke lain tema. Tujuannya agar tulisan kita selesai.

Demikian pengalaman saya selama mengikuti kelas menulis, semoga bermanfaat dan memotivasi teman-teman untuk mulai menulis.

Salam Literasi

Biodata penulis :

Penulis bernama Warlinah, S.Ak, lahir di Leppangeng. 10 Oktober 1981 di suatu Desa di Palopo, Kabupaten Luwu Sulawesi Selatan, anak kedua dari tujuh bersaudara. Ibu dari empat orang putra, Domisili di Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, KalTim, sejak tahun 2003

Sebagai tenaga pendidik/guru Produktif Akuntansi di salah satu SMK Islam Swasta di Sangatta, Kutai Timur, Kalimantan Timur Mulai mengenal dunia literasi sejak bulan Mei 2020 hingga kini, suka berpetualang dan telah memiliki satu buku solo dengan judul Jejak Petualang Tak Pernah Hilang yang terbit 1 Oktober 2020. Saat ini penulis telah memiliki 10 buku antologi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *