19 September 2026

.

RM 0017-20

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Pertama

Menulis adalah salah satu cara untuk memberikan kemanfaatan yang luas tanpa batas. Nabi saw menyatakan, manusia yang bermanfaat, adalah manusia yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala. Betapa bahagia menjadi manusia yang dicintai Allah.

Nabi saw bersabda,

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعَهُمْ لِلنَّاسِ

“Manusia yang paling dicintai di sisi Allah adalah yang banyak memberikan kemanfaatan bagi orang lain.” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir, 12: 453).

Kedua

Menulis adalah melaksanakan sunnah Nabi saw, karena beliau memerintahkan umatnya untuk mengikat ilmu dengan kitab, yang berarti ilmu harus dituliskan. Betapa bahagia menjadi manusia yang melaksanakan sunnah Nabi saw.

Rasulullah saw bersabda,

قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ

“Ikatlah ilmu dengan kitab (yaitu : dengan menulisnya)” (Hadits shahih dengan keseluruhan jalannya sebagaimana diterangkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 2026)[i].

Dari Abdullah bin Umar ra, dia bertanya: “Ya Rasulullah, apakah ilmu harus diikat?” Rasulullah saw menjawab: “Ya.” Aku berkata: “Apa pengikatnya?” Beliau menjawab: “Buku (tulisan).” (HR. Ath-Thabrani, Al Mu’jam Al-Kabir, No. 936, dan Al-Awsath No. 5056)

Ketiga

Menulis adalah atsar sahabat Nabi saw. Sahabat Anas berpesan kepada anak-anaknya agar mengikat ilmu dengan tulisan. Betapa bahagia hidup dengan atsar para sahabat mulia.

أَخْبَرَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنِي ثُمَامَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَنَسٍ: أَنَّ أَنَسًا رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ يَقُولُ لِبَنِيهِ: ” يَا بَنِيَّ قَيِّدُوا هَذَا الْعِلْمَ “

Anas ra pernah berkata kepada anak-anaknya : “Wahai anak-anakku, ikatlah ilmu ini (dengan tulisan)” (Diriwayatkan oleh Ad-Darimi no. 508; hasan).

Keempat

Menulis adalah tradisi orang-orang salih zaman dulu. Bahkan orang salih zaman dulu sangat bersemangat menulis, meskipun dalam situasi keterbatasan sarana di zamannya. Betapa bahagia bisa meneruskan tradisi orang-orang salih terdahulu.

ثنا وَكِيعٌ، عَنْ أَبِي كِيرَانَ، قَالَ: سَمِعْتُ الشَّعْبِيَّ، قَالَ: ” إِذَا سَمِعْتَ شَيْئًا فَاكْتُبْهُ وَلَوْ فِي الْحَائِطِ “

Asy-Sya’bi berkata, “Apabila engkau mendengar sesuatu (ilmu), maka catatlah meskipun pada dinding” (Diriwayatkan oleh Abu Khaitsamah dalam Al-‘Ilmu no. 146; shahih. Diriwayatkan juga Ad-Dulabi dalam Al-Kuna no. 1632).

Kelima

Menulis berarti mengikat ilmu. Dengan menulis, ilmu akan menetap dalam jiwa kita, tidak hilang dan tidak lepas. Ini adalah kemanfaatan yang kembali kepada diri penulis. Betapa bahagia memiliki banyak ilmu yang terikat dalam jiwa.

Imam Syafi’i rahimahullah berkata,

الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَهْ

فَمِنَ الْحَمَاقَةِ أَنْ تَصِيْدَ غَزَالَةً وَتَتْرُكَهَا بَيْنَ الْخَلاَئِقِ طَالِقَهْ

“Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Maka ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan jika engkau memburu kijang, setelah itu engkau biarkan terlepas begitu saja”. 

Keenam

Menulis adalah obat bagi penyakit lupa. Manusia memang tempatnya lupa dan salah maka harus secara sadar melakukan upaya untuk mengobati lupa tersebut. Salah satu cara mengobati lupa adalah dengan menulis. Betapa bahagia bisa mengobati lupa.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata,

قلنا: نعم له دواء ـ بفضل الله ـ وهي الكتابة، ولهذا امتن الله عز وجل على عباده بها فقال: {اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ * خَلَقَ الإِنسَـنَ مِنْ عَلَقٍ * اقْرَأْ وَرَبُّكَ الاَْكْرَمُ * الَّذِى عَلَّمَ بِالْقَلَمِ}. (العق: 1 ـ 4). فقال (اقرأ) ثم قال: {الَّذِى عَلَّمَ بِالْقَلَمِ } يعني اقرأ من حفظك، فإن لم يكن فمن قلمك، فالله تبارك وتعالى بين لنا كيف نداوي هذه العلة، وهي علة النسيان وذلك بأن نداويها بالكتابة، والان أصبحت الكتابة أدقُّ من الأول، لأنه وجد ـ بحمد الله ـ الان المسجِّل

“Kita katakan, lupa ada obatnya –dengan karunia Allah- yaitu dengan menuliskannya. Karenanya Allah memberi karunia dengan surat Al-Alaq, yaitu iqra’ —bacalah— kemudian dilanjutkan “alladzi ‘allama bil qalam —yang mengajarkan dengan perantara pena”. Maksudnya, bacalah dengan hapalannya, jika tidak hapal maka dengan tulisanmu. Allah telah menjelaskan kepada kita cara mengobati penyakit lupa –yaitu dengan menulis. Dan zaman sekarang menulis lebih mudah dibanding dahulu —segala puji bagi Allah, bahkan sekarang bisa direkam.” Mutshalah Hadits syaikh Al-Utsaimin.

Ketujuh

Menulis berarti melestarikan ilmu. Jika ilmu tidak ditulis, akan hilang ditelan waktu. Maka dengan menuliskan ilmu, akan bisa menjaga dan melestarikan ilmu untuk dipelajari generasi yang akan datang. Betapa bahagia bisa ikut menjaga dan melestarikan ilmu.

أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الْمَجِيدِ، حَدَّثَنَا سَوَادَةُ بْنُ حَيَّانَ، قَالَ: سَمِعْتُ مُعَاوِيَةَ بْنَ قُرَّةَ أَبَا إِيَاسٍ، يَقُولُ: كَانَ يُقَالُ: ” مَنْ لَمْ يَكْتُبْ عِلْمَهُ، لَمْ يَعُدْ عِلْمُهُ عِلْمًا “

Mu’awiyyah bin Qurrah Abu Iyas berkata, “Dahulu dikatakan : ‘Barangsiapa yang tidak menuliskan ilmunya, maka ilmunya itu tidak akan kembali menjadi ilmu”[ii] (Diriwayatkan oleh Ad-Darimi no. 507; shahih. Diriwayatkan juga oleh Ar-Ramahurmuzi dalam Al-Muhaddits Al-Fashil no. 341-342 dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 2/302).

Kedelapan

Menulis artinya mengabadikan kebaikan. Perilaku baik yang patut dijadikan motivasi dan inspirasi bagi orang lain, akan hilang jika tidak pernah dituliskan. Betapa bahagia bisa mengabadikan kebaikan.

وَأُخْبِرْتُ عَنْ عَبْدِ الرَّزَّاقِ، قَالَ: قَالَ: أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، أَخْبَرَنِي صَالِحُ بْنُ كَيْسَانَ، قَالَ: ” اجْتَمَعْتُ أَنَا وَالزُّهْرِيُّ، وَنَحْنُ، نَطْلُبُ الْعِلْمَ فَقُلْنَا نَكْتُبُ السُّنَنَ قَالَ: وَكَتَبْنَا مَا جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ثُمَّ قَالَ نَكْتُبُ مَا جَاءَ عَنِ الصَّحَابَةِ فَإِنَّهُ سَنَّةٌ، قَالَ: قُلْتُ إِنَّهُ لَيْسَ بِسُنَّةٍ فَلا نَكْتُبُهُ، قَالَ: فَكَتَبَ وَلَمْ أَكْتُبْ فَأَنْجَحَ وَضَيَّعْتُ،

Shalih bin Kaisan berkata : “Aku pernah berkumpul bersama Az-Zuhriy, dan kami sedang mencari ilmu. Kami berkata : ‘Kita akan menulis sunnah-sunnah’. Az-Zuhri berkata : ‘Kita akan menulis apa yang datang dari Nabi saw’. Ia melanjutkan : ‘Dan kita juga akan menulis apa-apa yang datang dari para shahabat, karena ia merupakan sunnah juga’. Aku berkata : ‘Ia bukan merupakan sunnah, maka kita jangan menulisnya’. Az-Zuhri tetap menulisnya, sedangkan aku tidak. Maka ia berhasil (menjaga sunnah para shahabat), sedangkan aku kehilangan (sunnah para shahabat)”[iii] (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d 2/446; shahih. Diriwayatkan juga oleh Abu Zur’ah dalam At-Tarikh no. 966).

Sungguh, menulis telah mengabadikan kebaikan. Betapa bahagia bisa turut serta mengabaikan kebaikan-kebaikan.

Yogyakarta 6 Ramadhan 1441 H

Daftar Bacaan

Abul Jauzaa’, Salaf, Antara Mencatat dan Tak Mencatat Ilmu, www.abul-jauzaa.blogspot.com, 2011

Farid Nu’man Hasan, Ikatlah Ilmu dengan Tulisan, www.channelmuslim.com 14 Juli 2017

Syaikh Shalih ‘Abdil ‘Aziz Sindi, 11 Cara Efektif di Dalam Mencatat Ilmu, Penerjemah  Abu Salma Muhammad Rachdie, Al-Wasathiyah wal I’tidal Digital Publishing, 2017 (Ebook)

Catatan Kaki


[i] Ada catatan terkait ucapan “Ikatlah ilmu dengan tulisan”. Sebagian ulama menganggap ini hadits mauquf, yaitu hadits yang sampai kepada sahabat Nabi, tidak sampai kepada Nabi saw. Hadits diriwayatkan oleh Imam Abu Nu’aim Al-Ashbahani, dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Ikatlah ilmu dengan tulisan.” (HR. Abu Nu’aim, Akhbar Ashbahan, no. 1809, Abu Abdillah Al-Hakim At-Tirmidzi dalam Nawadir Al-Ushul, 1/169. Hadits ini dha’if menurut Syaikh Muhammad bin Darwisy Al-Huut Al-Bairuni, Asnal Mathalib no. 1009).

Adapun ucapan Anas ra, “Ikatlah ilmu dengan tulisan.” (HR. Ath-Thabrani, Al-Mu’jam Al-Kabir No. 700) dinilai shahih. Imam Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid mengomentari ucapan Anas ini, katanya: “Periwayat hadits ini adalah rijal shahih” (Majma’ Az-Zawaid, No. 681). Dengan demikian, ucapan seperti ini yang shahih adalah lebih tepat disebut hadits mauquf (terhenti pada sahabat), yakni ucapan Anas.

Selengkapnya silakan simak ulasan lengkap ustadz Farid Nu’man Hasan, Ikatlah Ilmu dengan Tulisan, www.channelmuslim.com 14 Juli 2017.

[ii] Maksudnya, jika ilmu tidak ditulis, maka ilmu itu hilang dan tidak bisa menjadi ilmu yang dapat dimanfaatkan bagi orang lain lagi. Dengan menuliskan ilmu, maka ilmu bisa lestari yang terus menerus bisa dipelajari oleh generasi-generasi yang akan datang.

[iii] Sunnah para sahabat —artinya : kebaikan para sahabat— akan hilang jika saat itu tidak ada yang menuliskannya. Sangat banyak inspirasi dan motivasi dari para sahabat, generasi tabi’in, tabi’ut tabi’in yang sangat indah untuk dicontoh bagi manusia akhir zaman seperti kita ini. Bersyukur, pada saat itu telah banyak yang menuliskannya. Andai tidak ditulis, tak akan sampai kepada kita berbagai sisi kemuliaan mereka yang bisa kita jadikan teladan dalam kehidupan.

4 thoughts on “Betapa Bahagia Menulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *