Oleh : Atifah Saleha
Kita sudah tidak asing lagi dengan pepatah, “Banyak jalan menuju Roma”, begitu pun halnya dengan kebaikan, “Banyak cara untuk berbagi kebaikan”.
Seseorang bisa berbagi kebaikan melalui harta, kata-kata, waktu, perhatian, dan tulisan. Intinya, setiap manusia pasti memiliki potensi untuk berbagi.
Menurut saya pengaruh tulisan terhadap perubahan karakter dan pemikiran seseorang tak bisa dianggap sepele. Banyak orang yang berubah menjadi lebih baik, secara pemikiran dan sikap, setelah mereka membaca sebuah buku atau tulisan tertentu. Oleh sebab itu, tak heran jika para ulama di zaman dahulu sangat konsen dengan dunia tulis menulis.
Melalui tulisan, mereka menyampaikan ilmu pengetahuan sekaligus menawarkan ide dan gagasan. Keberlangsungan manfaat dari tulisan mereka pun berumur panjang, melampaui umur penulisnya sendiri. Buku-buku tafsir, sejarah Islam dan pergerakan, akhlak, masih dibaca dan dijadikan rujukan bacaan sampai saat ini.
Sudah lama saya terinspirasi dengan cara para ulama berbagi kebaikan melalui tulisan. Hal ini karena saya menyadari kurang begitu lugas menyampaikan sebuah ide atau gagasan kebaikan melalui kata-kata. Selain itu, tulisan umur manfaatnya panjang, sehingga masih bisa dibaca orang lain walaupun saya telah tiada.
Berdasarkan pengalaman, memulai menulis memang tidak mudah, tetapi jika kita tidak memulainya itu akan jauh lebih sulit. Saat kita sering menulis, maka ide-ide akan bermunculan, kemampuan menggunakan kata dan kosa kata akan semakin terlatih, apalagi jika didukung dengan banyak membaca dan mengikuti pelatihan penulisan.
Perlu dipahami bahwa menulis tidak selalu tentang bakat, tetapi tentang keterampilan yang bisa dilatih dan dipelajari. Banyak penulis handal yang tidak memiliki latar belakang pendidikan dunia tulis menulis.
Menulis sebetulnya bukan hal baru, sejak sekolah saya sudah senang menulis walaupun bukan untuk dipublikasikan. Saat pandemi yang membuat banyak waktu di rumah, merupakan awal saya berkenalan dengan dunia menulis secara lebih mendalam.
Dengan mengikuti sebuah kelas menulis, akhirnya keinginan berbagi lewat tulisan perlahan dapat diwujudkan. Sampai hari ini, saya sudah menulis sebuah buku solo dan delapan buku antologi (kumpulan cerpen dan puisi).
Ketika menetapkan tujuan menulis untuk berbagi kebaikan, maka setiap tulisan saya harus mengandung hikmah dan pelajaran sekalipun dalam bentuk cerpen atau tulisan ringan. Saya pun belajar berhati-hati dalam menuliskan kegiatan sehari-hari, nasihat, opini, ide, gagasan, dan pemikiran sebab tak ingin membuat pembaca salah persepsi terhadap apa yang ada dalam tulisan.
Beberapa hal yang saya lakukan ketika menulis dan hal itu sangat membantu ketika mengalami “writing block”.
Pertama, menuliskan tema dan judul tulisan
Dengan menuliskan tema terlebih dahulu, memudahkan saya untuk fokus melanjutkan isi tulisan dan tidak melenceng ke mana-mana. Menulis judul tulisan juga dapat membangkitkan semangat menulis.
Kedua, mencari referensi
Referensi penting ketika menulis, karena saya ingin tulisan dapat diperkuat oleh dalil, pendapat ulama, dan pendapat seseorang. Dengan demikian, tulisan dapat memberi kesan yang mendalam bagi pembaca dan mereka bisa mengambil hikmahnya.
Saya tidak ingin menulis kebaikan, tetapi isinya kontra produktif. Untuk itu, sebelum menulis, saya biasanya mencari dan membaca tulisan-tulisan yang berkaitan dengan tema yang ingin ditulis.
Ketiga, menentukan waktu menulis
Sebenarnya saya lebih suka menulis di pagi hari ketika pikiran masih segar, sehingga memudahkan menuangkan ide dan gagasan. Namun, jika tidak sempat di pagi hari, saya juga menulis di malam hari.
Keempat, menjaga niat
Semangat manusia terkadang dipengaruhi oleh suasana hati. Jika sedang rajin menulis, sekali duduk kadang saya bisa menuliskan satu tema atau cerpen. Namun, jika sedang malas, maka berhari-hari saya kehilangan ide dan gagasan untuk menulis.
Saat terjadi kebuntuan dalam menulis atau serangan rasa malas, saya berusaha meluruskan niat dan menyemangati diri bahwa tulisan itu walaupun tidak dibaca orang lain akan tetap bermanfaat bagi diri sendiri.
Dengan menulis, saya ingin meniru para ulama, di mana umur kebaikannya jauh lebih panjang daripada umur manusianya. Saya juga meyakini, bahwa setiap kebaikan balasannya kebaikan pula.
Semoga bermanfaat.
Tentang Penulis

Penulis memiliki nama lengkap Atifah Saleha, seorang ibu rumah tangga tinggal di Tangerang. Pekerjaan lainnya adalah pengajar tahsin dan koordinator kegiatan Jumat Berkah di sebuah yayasan. Telah menulis sebuah buku solo (Jejak Hikmah dari Negeri der Panzer) dan 8 buku antologi (cerpen dan puisi). Bermanfaat bagi orang lain adalah motto hidupnya
