19 September 2026

  .

Oleh : Cahyadi Takariawan

Take a few deep breaths to prime your subconscious for some deep exploration. Then, just start writing” –Jordan Brown, 2018.

.

Menciptakan pengalaman spiritual, bisa dilakukan dengan banyak kegiatan. Salah satunya adalah melalui aktivitas menulis. Jordan Brown (2018) merekomendasikan beberapa langkah untuk menghadirkan pengalaman spiritual melalui aktivitas menulis. Langkah pertama dan kedua , silakan simak pada postingan sebelumnya.

Langkah Tiga: Mulai Menulis dengan Hati dan Jiwa

Mungkin selama ini kita terlalu banyak berpikir dengan otak. Terlalu banyak menggunakan otak untuk bekerja, dan kurang menggunakan potensi hati. Dampaknya, kehidupan menjadi mekanis dan matematis.

Bahkan dalam konteks ibadah. Banyak di antara kita yang sangat detail dengan hitungan-hitungan angka –misalnya jumlah raka’at shalat tarawih, jumlah hari puasa, jumlah ayat atau juz bacaan Qur’an, jumlah khatam, jumlah atau besaran zakat fitrah, jumlah pahala untuk setiap amal kebaikan, dan lain sebagainya. Sayangnya, kurang memperhatikan kualitas dari setiap ibadah tersebut.

Kita sangat menghitung jumlah kalimat tsabih (subhanallah), jumlah kalimat tahmid (alhamdulillah) dan kalimat takbir (Allahu akbar) yang kita lafalkan setiap habis shalat. Bahkan menggunakan alat penghitung agar jumlahnya tidak salah. Namun kurang menghadirkan penghayatan atas lafal-lafal dzikir tersebut.

Rupa-rupanya kita masih sangat senang mengadakan ‘perhitungan’ dengan Tuhan atas setiap amal ibadah yang kita lakukan. Setiap amal kebaikan akan diberikan pahala berlipat sepuluh, atau tujuh puluh atau seratus, atau seribu. Setiap tindakan salah akan diberikan hitungan satu dosa. Lalu dihitung sendiri, apakah hitungan pahala amalnya sudah melebihi hitungan dosanya.

Demikian pula dalam menulis. Kita sangat peduli dengan logika, dan mungkin kurang peka dengan rasa. Saat menulis, kita sering terpaku dengan sistematika, ketentuan baku PUEBI dan KBBI, serta kaidah-kaidah kebahasaan. Kita peduli dengan jumlah kata dalam setiap kalimat dan jumlah kalimat dalam setiap paragraf. Kita peduli dengan jumlah kata atau karakter atas total naskah yang kita hasilkan.

Dampaknya, menulis menjadi sedemikian mekanis. Menjadi tindakan yang sangat teknis, yaitu menuangkan pikiran ke dalam bentuk tulisan. Saat menulis tentang kelangkaan dan mahalnya harga minyak goreng, misalnya, kita banyak fokus kepada sebab-sebab politis dan ekonomis terhadap fenomena tersebut. Demikian pula saat menulis tentang berita musibah, hanya menghitung jumlahkorban dan kerusakan material. Seakan sebuah peristiwa hanya berdimensi tunggal.

Menghadirkan Hati dalam Tulisan

Much like you need to loosen your creaking joints when you get out of bed in the morning, you will need to write a bit to get into a spiritual mode” –Jordan Brown, 2018.

Menghadirkan hati dalam tulisan, artinya kita memasuki wilayah rasa. Kita menggunakan bahasa jiwa yang terdalam. Mempertanyakan diri, sejak dari lintasan motivasi dan dorongan yang membuat kita menulis. Mempertanyakan diri, untuk apa menghadirkan tulisan? Untuk apa menulis dilakukan? Ke arah mana dorongan jiwa menggerakkan jari-jari menuliskan kata-kata?

Dikutip dari kitab Jami’ul Ulum wal Hikam, bahwa Hasan Al-Basri  mengatakan, “Aku tidaklah memandang dengan pandanganku, tidak pula mengucap dengan lisanku, begitu pula tidak menyentuh dengan tanganku, dan tidak bangkit untuk melangkahkan kakiku melainkan aku melihat terlebih dahulu apakah ini semua dilakukan karena ketaatan ataukah maksiat. Jika dalam ketaatan, barulah aku mulai bergerak. Jika dalam maksiat, aku pun enggan melakukan.”

Memasuki wilayah hati, artinya kita mengenali kondisi diri, mengenali motivasi yang membuat kita menulis sebuah kata. “Apakah menuju arah kebaikan, atau menuju kepada keburukan?” Itu metoda Hasan Al-Basri untuk berkegiatan dengan hati, tidak semata-mata dengan anggota badan.

Kenali kondisi jiwa Anda saat mulai menuliskan kata-kata, apakah dorongan cinta, atau dorongan benci? Apakah dorongan meminta, atau dorongan memberi? Apakah dorongan menghina, atau dorongan memperbaiki? Apakah dorongan merusak, atau dorongan membangun? Apakah dorongan menghimpun, atau dorongan memecah belah?

Maka, tenangkan diri sebelum menulis. Hayati, resapi, dan rasakan. Tarik napas dalam-dalam sampai Anda berada dalam kesadaran yang utuh atas setiap kata yang dituliskan. “Ambil napas dalam-dalam guna mempersiapkan alam bawah sadar Anda untuk beberapa eksplorasi mendalam”, ujar Jordan Brown. “Kemudian, mulailah menulis”, lanjutnya.

Menulis dengan menghadirkan jiwa, bukan soal berapa jumlah kata mampu Anda hasilkan dalam setiap menitnya. Bukan hitungan matematis dan mekanis terkait jumlah karakter dalam satu naskah, jumlah hari yang digunakan untuk menyelesaikan tulisan, bukan pula semata ketatabahasaan.

“Cara seperti ini mungkin terasa perlahan dan lambat, tetapi Anda bisa menambah kecepatan saat telah terbiasa”, ujar Brown. “Sama seperti ketika Anda bangun dari tidur di pagi hari, perlu melonggarkan sendi-sendiri terlebih dahulu sebelum memulai beraktivitas. Anda cukup menulis sedikit agar bisa memasuki mode spiritual”, lanjutnya.

“Aku tidaklah memandang dengan pandanganku, tidak pula mengucap dengan lisanku, begitu pula tidak menyentuh dengan tanganku, dan tidak bangkit untuk melangkahkan kakiku melainkan aku melihat terlebih dahulu apakah ini semua dilakukan karena ketaatan ataukah maksiat. Jika dalam ketaatan, barulah aku mulai bergerak. Jika dalam maksiat, aku pun enggan melakukan” –Hasan Al-Basri.

Anda sudah siap menikmati pengalaman spiritual melalui menulis? Segera persiapkan diri.

Bahan Bacaan

Jordan Brown, How to Make Your Writing a Spiritual Experience, https://writingcooperative.com, 8 Januari 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *