19 September 2026

 .

Oleh : Cahyadi Takariawan

“One Day in the Life of Ivan Denisovich” adalah novel karya Alexander Solzhenitsyn yang ditulis di dalam penjara. Novel pendek ini dikenal membawa perubahan besar di Soviet.

.

Menciptakan pengalaman spiritual, bisa dilakukan dengan banyak kegiatan. Salah satunya adalah melalui aktivitas menulis. Jordan Brown (2018) merekomendasikan beberapa langkah untuk menghadirkan pengalaman spiritual melalui aktivitas menulis. Langkah pertama, silakan simak pada postingan sebelumnya.

Langkah Kedua: Temukan Tempat yang Tepat dan Nyaman

Sesungguhnya Anda bisa menulis di mana saja dan kapan saja. Namun untuk upaya menulis yang mampu menghadirkan pengalaman spiritual, Anda perlu menemukan tempat yang paling tepat.

Saya tidak membayangkan suasana yang terbentuk jika Anda menulis di tepi pantai, dengan sangat banyak pemandangan bikini di sana. Saya sulit membayangkan, tulisan apa yang akan tercipta jika dibuat di night club dengan –maaf, pertunjukan erotis di hadapannya. Setiap tempat, akan menimbulkan suasana yang berbeda.

Bagaimana pendapat Anda jika sebuah tulisan dibuat dari dalam penjara? Suasana apa yang akan hadir darinya?

Ulama yang Menulis di Dalam Penjara

Ada sangat banyak tokoh dunia yang menulis dan menghasilkan karya monumental dari dalam penjara. Suasana penjara memberikan nuansa spiritualitas yang luar biasa tingginya. Karya tulis yang tercipta, terwarnai oleh spiritualitas yang terbangan dalam penjara.

Imam As-Sarakhsi (wafat 483 H), seorang ulama mazhab Hanafi, sempat menjalani hukuman di dalam penjara. Konon, penjara yang didiami As-Sarakhsi berupa lubang seperti sumur. Para murid datang setiap hari untuk menengok. Saat itulah As-Sarakhsi mendiktekan pelajaran, dan ditulis oleh para murid yang datang. Lahirlah Kitab Al-Mabsuth sebanyak 30 jilid.

Kisah serupa dialami oleh Ibnu Taimiyah (lahir 661 H). Tidak tanggung-tanggung, semasa hidupnya, Ibnu Taimiyah pernah dua belas kali dipenjara. Meski dikurung dalam penjara, namun tidak menyurutkan semangat beliau untuk menyebarkan ilmu. Dari dalam penjara inilah beliau rutin menulis dan menghasilkan kitab-kitab risalah yang ringkas.

Demikian pula Haji Abdul Malik Karim Amrullah alias Buya Hamka. Pada tahun 1964, ulama kharismatik Indonesia ini dipenjara oleh pemerintah Orde Lama selama dua tahun empat bulan. Pemerintah mengizinkan dan Hamka melewati hari-harinya dengan membawa banyak buku. Dari dalam penjara inilah lahir buku Tafsir Al-Azhar sebanyak sembilan jilid.

Para Tokoh Dunia Berkarya Dari Dalam Penjara

Buku “One Day in the Life of Ivan Denisovich” adalah karya Alexander Solzhenitsyn, sastrawan Rusia, yang ditulis di dalam penjara. Novel tersebut mengisahkan kehidupan getir yang harus dijalani tahanan penjara dalam kamp Gulag pada periode pemerintahan Stalin. Novel pendek ini dikenal membawa perubahan besar di Soviet.

Tokoh anti apartheid, Nelson Mandela menulis ratusan surat ketika dipenjara selama 27 tahun lamanya. Dari dalam penjara, ia terus mengeluarkan gagasan untuk menuntut perubahan dan mengakhiri apartheid. Kelak, kumpulan surat-surat berisi pemikiran Mandela dari dalam penjara ini, dibukukan oleh sahabatnya bernama Anthony Sampson.

Francois-Marie Arouet (lahir 1964) atau yang dikenal dengan nama Voltaire, berkali-kali dipenjarakan oleh pemerintah Perancis dan dibuang ke luar negeri. Saat berada di penjara di Bastille pada tahun 1717 hingga 1718, ia menulis naskah “Edipe”.  Penjara tak mampu membungkam dirinya untuk berbicara.

Masih sangat banyak tokoh yang menulis dari dalam penjara. Kita mengenal Bung Karno dan Bung Hatta yang menulis di dalam penjara. Demikian pula Tan Malaka dan Pramoedya Ananta Toer yang menghasilkan karya monumental selama dipenjara. Di masa kini, sekelompok terpidana di Lapas Sukamiskin Bandung, menulis karya berjudul Secercah Cahaya di Langit Sukamiskin.

Tidak Perlu Dipenjara untuk Menghasilkan Karya

Tentu saja, Anda tidak perlu dipenjara untuk bisa menghasilkan karya. Saya hanya ingin memberikan ilustrasi, bahwa suasana penjara memberikan nuansa spiritualitas tertentu bagi penghuninya. Proses menulis di tempat seperti penjara, akan mendorong lahirnya pengalaman spiritualitas.

“Anda pasti ingin menemukan tempat untuk menulis yang tenang, yang memungkinkan Anda merasa nyaman dan aman untuk mencurahkan isi hati Anda ke dalam tulisan”, ujar Jordan Brown. Tempat mana yang tepat dan nyaman, akan berbeda untuk setiap orang.

Sebagian dari Anda mungkin suka memenjara diri di dalam sebuah ruang untuk menulis. Suasana tertutup di dalam ruang, mampu menghadirkan suasana kontemplasi. Namun ada pula yang lebih suka memenjarakan diri di ruang terbuka, di alam  bebas, untuk menghadirkan kedekatan dengan Sang Pencipta alam semesta.

Mungkin Anda suka dipenjara oleh suasana pantai, dengan deburan ombak yang menghanyutkan suasana. Mungkin Anda suka dipenjara oleh sejuknya suasana rimba belantara, sehingga menulis berada dalam kesejukan jiwa. Mungkin Anda memilih masjid, gereja atau pura untuk menghasilkan suasana spiritualitas dalam menulis.

Pilihan manapun, Anda perlu memastikan bahwa Anda akan bisa berkonsentrasi dan berkontemplasi sembari menulis. Sehingga Anda akan menikmati aktivitas menulis sebagai sebuah pengalaman ruhani yang berkesan.

Selamat berkarya. Nikmati prosesnya.

Bahan Bacaan

Ahmad Yazid Fathoni, Ulama yang Menulis Karya di Penjara, www.sanadmedia.com, 18Maret 2022

Jordan Brown, How to Make Your Writing a Spiritual Experience, https://writingcooperative.com, 8 Januari 2018

2 thoughts on “Menulis Sebagai Pengalaman Spiritual – 3

  1. Masya Allah…tulisan yang sangat menginspirasi dan memotivasi. Ringan dan mudah difahami namun sarat dengan pesan dan nasehat.

  2. Terima kasih pak Cah, nikmati prosesnya, lanjut lagi menulisnya di mana saja dan kapan saja. Sesuai jenis tulisannya. Penjara bagi para pecinta sastra sebagai ajang memproduksi karya. Syukran katsiran ustadz Cahyadi Takariawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *