.
Rumesha / Rutin Menulis Setiap Hari – 14
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Siang ini saya dan istri belanja kebutuhan sehari-hari di sebuah supermarket, tidak terlalu jauh dari rumah. Suasana pandemi membuat kami sangat berhati-hati, dan ingin cepat-cepat selesai.
Belanja sesuai daftar yang sudah kita tetapkan, segera bayar, dan pulang. Prinsip penjagaan diri di masa pandemi, selain memakai dobel masker, menjaga jarak, cuci tangan –adalah mempercepat meninggalkan tempat keramaian.
Rupa-rupanya, psikologi masyarakat yang ingin cepat-cepat ini, harus disertai dengan kecermatan. Jika tidak cermat saat berbelanja, mudah terjadi kesalahan –sengaja ataupun tidak sengaja. Tentu bisa merugikan kita selaku customer, ataupun merugikan warung tempat kita belanja/
Ada barang yang saya beli, tanpa direncanakan. Begitu masuk supermarket, langsung melihat tumpukan buah manggis. Saya langsung mengambil dengan plastik dan menimbang.
Seperti biasa –saya selalu percaya kepada petugas. Tidak pernah melihat label yang tertera di plastik belanjaan setelah ditimbang. Selesai belanja, langsung menuju kasir yang lengang. Tak ada antrean.
Seperti biasa pula –saya selalu percaya kepada petugas kasir. Tidak pernah memeriksa item dan poin harga. Saya selalu percaya mereka. Belanjaan hari ini, ada minyak goreng, sabun cuci, sabun mandi, sayuran, buah-buahan, dan lain-lain, senilai sekitar 600ribu rupiah.
Selesai dibayar semua oleh “kapolda” –kepala pool dapur, istri saya. Kami langsung bergegas pulang.
Di perjalanan pulang, istri saya memeriksa struk belanja. Ia menemukan hal yang janggal.
“Harga manggis mahal banget ya…” ujar kapolda. Saya hanya mengangguk-angguk saja. Karena tidak pernah melihat harga.
“Kok sampai 200ribu ya, emang tadi Abi beli berapa kilo?” tanya kapolda, masih dengan nada keheranan.
“Sekitar dua kiloan, aku ga perhatikan saat ditimbang petugas”, jawab saya.
“Sepertinya telah terjadi kesalahan. Mungkin petugas melakukan dobel klik, di sini tertulis dua kali dengan item yang sama dan kode yang sama persis”, lanjut kapolda.
“Kita balik saja,” balas saya, sambil mutar balik. Kami kembali ke supermarket.
Sesampai di supermarket, Kapolda segera masuk, menuju kasir. Saya menunggu saja di tempat parkir.
“Ada kesalahan Pak ya?” tanya tukang parkir. Dia hafal, karena barusan kami keluar, dan sekarang kembali lagi. Menempati tempat parkir yang sama.
“Iya,” jawab saya.
“Kemaren juga ada pelanggan yang kembali karena salah hitung”, ujar petugas parkir.
Tak lama kapolda kembali ke mobil. “Tidak ada komentar apa-apa dari petugas kasir. Ia hanya bilang maaf dan langsung mengembalikan uang seratus ribu”, ujar kapolda.
“Ya sudahlah, mungkin dia sedang tidak konsentrasi tadi, jadinya dobel klik”, ujar saya sembari meninggalkan supermarket yang sepi karena pandemi.
*****
Kisah nyata saat belanja di atas, saya tulis dalam 382 kata. Sangat mudah menuliskannya, mungkin hanya perlu waktu 10 menit saja, tidak lama-lama. Namun, dengan menuliskan kisah tersebut, bisa menjadi rutinitas menulis setiap hari.
Semua dari Anda pasti pernah punya pengalaman belanja, entah di mall, pasar tradisional, minimarket, supermarket, ataupun belanja online. Berbagai pengalaman saat belanja, bisa Anda tuliskan dengan mudah.
Jika pengalaman belanja Anda menyenangkan, berarti bisa memberikan rekomendasi kepada pembaca untuk berbelanja di tempat yang Anda kunjungi. Atau berbelanja dengan cara seperti yang Anda lakukan.
Jika pengalaman Anda tidak menyenangkan, berarti bisa memberikan aspek kehati-hatian kepada pembaca. Agar ketika berbelanja di tempat itu atau tempat lainnya, bisa berhati-hati. Misalnya kisah saya di atas, membuat pembaca berhati-hati dan tidak tergesa-gesa meninggalkan kasir.
Periksa ulang struk belanja Anda untuk memastikan bahwa item dan harga sudah sesuai, tidak ada kesalahan yang menyebabkan kerugian pada Anda. Jika ada 10 orang seperti saya, yang kedobelan item sehingga harus membayar lebih, betapa banyak ‘keuntungan’ tambahan bagi supermarket tersebut.
Contoh belanjaan saya harusnya seharga 500ribu, namun saya membayar 600ribu. Hal ini disebabkan adanya dobel klik pada satu item buang manggis. Harusnya di-entry satu kali, ternyata ter-entry dua kali. Setelah dikonfirmasi ulang ke pihak kasir, dengan cepat ia mengembalikan 100ribu yang memang harus dikembalikan.
Jadi kalau pada contoh yang saya alami, jika kapolda tidak memeriksa, saya tidak akan tahu bahwa saya membayar lebih. Kelebihan bayaran sampai 100ribu. Jika ada 10 orang yang mengalami peristiwa sama, maka berarti sudah ada uang 1juta rupiah masuk ke supermarket tersebut, dampak dari ‘kesalahan entry’.
Nah, dari kisah nyata yang saya tulis, Anda pasti punya kisah serupa. Tuliskan saja, tanpa menuduh dan mendiskreditkan nama toko tertentu, tapi kita bisa memberikan peringatan kepada pembeli agar selalu berhati-hati.
Selamat menulis, selamat menginspirasi.
.
Ilustrasi : https://theconversation.com/

Betul sekali ustaz Cahyadi Takariawan, saya pun pernah mengalaminya ketika di supermarket. Ternyata susu kaleng yang saya beli itu sudah kadaluarsa alias ekspire date. Syukran katsira