19 September 2026

.

Oleh : Nyi Ai Tita (Alumni KMO Basic Batch 33)

Terkadang ide-ide tersebut tidak tertampung bahkan meluber karena tidak segera dituliskan” –Nyi Ai Tita, 2022.

.

Betulkah menulis bisa menjadi bahagia? Menurutku, “Yess banget!”

Dari pengalaman mengikuti belajar menulis secara online, pikiranku mulai terbuka. Apalagi dengan adanya ungkapan yang sangat memotivasi dari Pak Cah, “Menulis Semudah Bernapas”.

Motivasi tersebut berdampak pengaruh besar buatku yang mulai belajar menulis. Menulis apa saja yang dirasa, terutama dari pengalaman sendiri.

Insyaallah seterusnya apa yang dialami sendiri, dilihat, didengar akan coba dituliskan. Berlatih menulis, menulis, dan menulis. Semoga lama-lama bisa memberi sebuah arti dan makna. 

Menuangkan Perasaan

Setelah kutulis berbagai rasa, baik bahagia, sedih, pilu, marah, cemburu dan lain-lain, maka tumbuh ide-ide bermunculan” –Nyi Ai Tita, 2022.

Menulis menjadi sebuah kebutuhan buatku, dengan tidak mempertimbangkan dan memikirkan tulisanku bagus atau tidak. Terpenting menulis, dengan catatan tidak merugikan orang lain. Hasil tulisan kebanyakan dipublikasikan di Facebook.

Dengan menulis, bersemi rasa bahagia berhamburan memenuhi jiwa yang gersang. Bagaikan mendapat guyuran  hujan sudah lama tak kunjung datang.

Buatku, betul-betul tak menyangka. Sedikit-sedikit jadi bisa merangkai sebuah kalimat dari kata-kata yang berserakan. Akhirnya menjadi sebuah paragraf yang bisa dimengerti dan dipahami.

Apakah cukup di sana? Ternyata tidak. Setelah kutulis berbagai rasa, baik bahagia, sedih, pilu, marah, cemburu dan lain-lain, maka tumbuh ide-ide bermunculan. Terkadang ide-ide tersebut tidak tertampung bahkan meluber karena tidak segera dituliskan.

Biasanya ide datang,  ketika pagi-pagi berada di perjalanan menuju tempat mengajar. Dalam pikiran terbersit  untuk berhenti dulu. Aku ingat, ini jalan by pass. Kendaraan banyak, takut terjadi apa-apa sedangkan aku membawa sepeda roda dua.

Di sepanjang jalan muncul kata-kata indah menurutku. Entah menurut orang lain. Biarkan saja yang penting aku happy. Mudah-mudahan orang lain juga sama.

Tak terasa bahagia dan semangat menyelimuti jiwa. Hal ini terkadang membuatku senyum sendiri sambil merasakan  suasana yang begitu indah dan sejuk di pagi hari.

Heem, seandainya aku senyum sendiri tak bermasker, bagaimana pendapat orang lain yang memperhatikan. Bisa-bisa dianggap kenapa kenapa… duuuh tak terbayang. Itulah di antara hikmah menggunakan masker saat ini.

Akhirnya aku meneruskan perjalanan menuju sekolah. Dalam pikiranku nanti setelah sampai akan ditulis. Mudah-mudahan tidak lupa.

Sambil senyum-senyum sendiri karena rasa bahagia menyertai. Banyak ide yang akan ditulis. Akhirnya sampai di sekolah. Setelah sampai terkadang ada aja sesuatu yang menarik yang ingin ditulis juga.

Kuambil buku dan pencil untuk menulis ide di jalan. Heeem apa yang terjadi ternyata lupa sama sekali ide tersebut. Yaah sudah, ide yang baru aja aku tulis sambil berpikir positif siapa tahu ide tadi bisa teringat lagi.

Betul sekali apa yang dinasihatkan Ali Bin Abi Thalib, “Ikatlah ilmu dengan menulis.”

Berkomunitas Memberikan Motivasi Luas

Tulisan yang baik bisa menjadi ladang amal jariah yang akan terus mengalir pahalanya” –Nyi Ai Tita, 2022.

Nuansa wabah, memberikan suasana berbeda. Aku merasa bersyukur kepada Allah SWT bisa dipertemukan dengan rekan-rekan di dunia literasi. Awalnya dari grup KMO Batch 33 Alineaku.

Berjalannya waktu di grup KMO aku mencoba mengikuti beberapa kelas untuk terus bisa mengasah berlatih menulis. Sangat perlu ilmu pengetahuan dan ingin belajar mencari pengalaman dari orang-orang hebat mengenai menulis.

Kelas yang pernah diikuti di antaranya Emak-Emak Punya Karya. Di kelas ini luar biasa, salah satunya pengalaman yang didapat bisa kejar-kejaran tapi mengasyikkan. Saling memotivasi untuk menyelesaikan tulisan selain itu bisa menjadi ajang silaturrahmi dan menambah saudara.  

Alhamdulillah sampai saat ini masih belajar terus tentang kepenulisan. Berusaha mengikuti challenge-challenge yang diselenggarakan di grup atau mengikuti nubar (nulis bareng) yang menghasilkan buku antologi.  Ternyata kegiatan ini bisa memotivasi dan menantang diri supaya belajar disiplin menulis.

Teringatkan, bahwa umur tidak akan lama. Aku sadar tak punya harta dan ilmu yang banyak untuk bekal di keabadian hidup. Tapi setelah mengikuti pembelajaran menulis, terbukalah pemahaman. Bahwa tulisan yang baik bisa menjadi ladang amal jariah yang akan terus mengalir pahalanya.

Dari Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda: “Apabila manusia meninggal dunia maka terputuslah  segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak yang salih yang mendoakan oarngtuanya” (HR. Muslim).

“Jika kamu bukan anak raja bukan juga anak seorang ulama besar maka: menulislah” (Imam Al Ghazali).   

.

Nyi Ai Tita, alumni Kelas Menulis Online (KMO) Basic Batch 33. Penulis buku “Kuingin Menjadi Surga Bagimu”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *