.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“When people write about what’s in their hearts and minds, they feel better and get healthier. And it isn’t just that they’re getting their troubles off their chests. Writing provides a rewarding means of exploring and expressing feelings” — Jeremy Nobel, 2018
.
Menulis adalah media efektif untuk mengekspresikan cita-cita, keinginan dan harapan. Menulis adalah sarana untuk menyatakan kepada dunia, bahwa kita ada. Menulis adalah sarana untuk menghadirkan kebenaran dan kebaikan. Menulis adalah sarana untuk menciptakan lahan ibadah dan amal jariyah.
Kadang kita menemukan kesunyian yang panjang dalam kehidupan kita. Merasa tak berarti, merasa tak dimengerti, merasa tak dipahami. Seakan kita berjalan sendiri dalam kehidupan dunia ini. Maka menulis membuat kesunyian yang kita lalu menjadi terdengar suaranya. Bahkan bisa gegap gempita. Membahana.
Menulis, membuat pikiran dan perasaan kita dibaca, bahkan dimengerti. Jika kita tidak menuliskannya, kesunyian itu akan semakin abadi. Tak ada yang peduli. Maka teriakan Chairil Anwar, “Aku ini binatang jalang”, selalu dikenang orang sepanjang zaman. Teriakannya abadi, karena dituliskan.
Andai Chairil Anwar tak menuliskannya, tak ada yang mendengar suara teriakan itu. Mereka yang terkubur antara Karawang – Bekasi, tak ada yang akan mengerti. “Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi. Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak. Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu”.
Ini adalah kesunyian jalan perjuangan. Mungkin skala pribadi. Mungkin skala keluarga. Mungkin skala bangsa dan negara, bahkan dunia. Sebagian orang yang merasa tidak didengar dan tidak dimengerti, melakukan upaya ‘makar’ terhadap rezim yang dianggap mengkhianati. Lihat yang dilakukan beberapa tentara Amerika yang kecewa, dalam film The Rock.
Kekecewaan Francis Hummel dan beberapa orang marinir membuat mereka menguasai pulau Alcatraz. Mereka melakukan aksi teror yang merugikan warga masyarakat. Mereka berpikir menghancurkan kota dengan serangan senjata jarak jauh. Sebuah peperangan tradisional, anarki, menggunakan hard-power.
Because We Are Very Lonely
Berbeda dengan perang tradisional yang menggunakan persenjataan militer, menulis bisa menjadi perang yang menggunakan smart-power. Peperangan yang lebih beradab, karena menggunakan perasaan dan kecerdasan.
Kadang seseorang merasa cukup untuk mengekspresikan kesunyian dengan cara menulis. Dalam artikel “The Desire to Write”, yang diunggah di web The School of Life dinyatakan, menulis adalah menifestasi dari keterasingan dan kesepian.
“But looked at from another angle, it may also, in private, be the result of something rather more desultory: an epidemic of isolation and loneliness”. Menulis, bisa dimaknai sebagai epidemi isolasi dan kesepian. Tidak masalah, karena ini menandakan, menghendaki eksistensi melalui tulisan.
Anda bisa bayangkan, bagaimana rasanya tidak didengarkan, bagaimana rasanya tidak dipercaya, bagaimana rasanya tidak dipahami. Sangat sakit. Maka menulis adalah pelepasan, menulis adalah upaya menjaga eksistensi —bahwa Anda ada. Anda tidak ingin dilecehkan dan direndahkan.
Anda ingin berbicara, ingin didengarkan, ingin diperhatikan, ingin dipercaya. Namun semua orang sibuk. Semua orang tidak punya waktu untuk mendengarkan pendapat Anda. Sebagian memicingkan mata kepada Anda. Maka Anda menulis, karena Anda merasa sangat kesepian di tengah desing kehidupan yang penuh kebisingan.
“Because we are very lonely”. Kesunyian bisa mematikan. Anda tak ingin mati dicekam kesunyian, maka Anda menuliskannya. Alasan seperti ini bisa menjadi energi yang sangat kuat untuk menulis. Saat keinginan dan harapan Anda tak ada yang memedulikannya. Saat Anda merasa tak ada yang berpihak kepada Anda. Saat Anda merasa tak berarti lagi, saat itu Anda tengah berada di jalan sunyi.
“Writing can be the presenting solution to a more poignant ambition beneath: to be heard, to be held, to be respected, to have our feelings interpreted, and soothed, to be known and appreciated”. Menulis membuat Anda bisa didengar, disentuh, dihormati, dipahami dan dihargai, dan perasaan Anda diakui.
Jeremy Nobel menjelaskan dari sisi akademik. “When people write about what’s in their hearts and minds, they feel better and get healthier. And it isn’t just that they’re getting their troubles off their chests. Writing provides a rewarding means of exploring and expressing feelings”.
Menurut Jeremy, metika orang menulis tentang apa yang ada di hati dan pikiran, mereka akan merasa lebih baik dan menjadi lebih sehat. Ini bukan sekedar karena bisa menyingkirkan masalah dari diri mereka. Menulis telah memberikan cara yang bermanfaat untuk mengeksplorasi dan mengungkapkan perasaan.
Jeremy menyatakan, menulis membuat Anda mampu memahami diri sendiri dan dunia di sekitar Anda. “Dengan menulis, Anda akan memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana Anda berpikir dan merasakan. Anda akan memiliki koneksi yang lebih dalam dengan diri Anda sendiri”, ujarnya.
“It’s that connection that often allows you to move past negative emotions (like guilt and shame) and instead access positive ones (like optimism or empathy), fostering a sense of connection to others in addition to oneself”, sambung Jeremy.
Koneksi seperti ini yang memungkinkan Anda mampu menghindari emosi negatif –seperti rasa bersalah dan malu, dan sebaliknya mudah mengakses emosi positif –seperti optimis dan empati. Menulis juga mampu menumbuhkan koneksi positif dengan orang lain. Ini yang membuat Anda menjadi semakin sehat.
Anda tak lagi sunyi. Kesunyian Anda telah bersuara. Maka Anda menjadi dimengerti dan dipahami. Tulisan membuat Anda menjadi semakin sehat dari hari ke hari.
Bahan Bacaan
Anonim, The Desire to Write, dalam The Achool of Life, www.theschooloflife.com
Jeremy Nobel, Writing as an Antidote to Loneliness, www.health.harvard.edu, 14 September 2018

Bismillaah,
Alhamdulillah.
Andai manusia diciptakan sama, pandai mengatakan apa yang ada di hati dan pikirannya, tentulah akan ramai dunia.
Alhamdulillah, banyak juga yang tak pandai berkata hingga akhirnya memendam rasa.
Namun, tak sehat jadinya.
Alhamdulillah, Allah memberikan cara lainnya, dengan menuliskannya, hingga tampaklah apa yang ada di hati dan pikirannya.
Bahkan, menjadi buah karya yang abadi, dibaca, kadang menjadi rujukan generasi setelahnya.
MaasyaaaAllaah… Maha suci Allah. Tiadalah yang diciptakan oleh-Nya sia-sia.
Terima kasih, jazakallahu khair, Pak Cah.