20 September 2026

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Saya meyakini bahwa Allah memberikan ilmu kepada hambaNya dengan banyak cara. Berbagai kejadian dalam kehidupan, bisa menjadi inspirasi bagi manusia. Satu peristiwa yang menimpa pada seseorang, bisa menjadi pelajaran bagi orang lainnya. Bahkan manusia bisa mendapat pelajaran dari gejala alam, dan dari perilaku binatang.

Dalam kisah anak-anak Nabi Adam, kita mendapat gambaran bahwa Qabil mendapat inspirasi dari burung gagak.

“Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal”. (QS. Al-Maidah : 31).

Qabil akhirnya menguburkan mayat saudaranya, setelah belajar dari perilaku burung gagak. Burung gagak itu menggali-gali tanah, memberikan pelajaran tentang mengubur jenazah. Manusia makhluk yang berakal, bisa mengambil pelajaran dari alam sekitar.

Nabi Saw juga meminta kita untuk belajar dari perilaku burung. ”Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Imam Ahmad)

Manusia bisa belajar dari burung, bagaimana mereka ‘bekerja’ mencari makan. Pagi berangkat dari sarang dalam keadaan perut lapar. Sore hari kembali ke sarang dalam keadaan perut kenyang. Burung saja, bisa menjadi pelajaran bagi manusia tentang usaha. Maka tidak layak bagi manusia untuk malas, tidak mau berusaha, dan hanya berdoa minta rejeki.

Demikian pula peristiwa dalam kehidupan sehari-hari. Kelahiran, perjuangan, kematian, semua adalah pelajaran dalam kehidupan. Bahkan kematian disebut sebagai pelajaran yang terbaik. Sahabat Nabi, ‘Amar bin Yasir mengatakan, “Cukuplah kematian sebagai pemberi nasehat dan pelajaran”.

Menuliskan Kisah dan Peristiwa dalam Kehidupan

Ada banyak orang ragu menulis kisah hidupnya sendiri. Muncul pertanyaan, apakah ada pelajaran yang bisa diambil dari kisah hidupku yang sangat sederhana ini?

Jika burung saja bisa memberi pelajaran bagi manusia, maka manusia yang satu pasti akan bisa memberi pelajaran bagi manusia yang lain. Kisah hidup seseorang bisa memberi manfaat bagi kehidupan orang lain. Kejadian yang menimpa seseorang bisa menjadi inspirasi bagi orang lainnya.

Kisah kehidupan Anda, adalah unik. Ada warna-warni, ada bahagia dan derita, ada suka dan duka, ada tawa dan tangis lara. Semua bisa menjadi pelajaran bagi kehidupan orang lain. Semua bisa menjadi inspirasi untuk menjalani hidup dengan lebih berenergi. Kisah jatuh, gagal, bangkrut, luka, sakit, semua bisa memberi makna ketabahan bagi orang lain. Sebagaimana kisah keberhasilan, kebangkitan, kejayaan, bisa memberi motivasi dan rasa percaya diri.

Jangan ragu menuliskan kisah hidup Anda, untuk menjadi pelajaran bagi orang lain. Hargai diri Anda sendiri, karena perjalanan hidup Anda unik. Berbeda dari orang lain.  Roberta Jean Bryant (1999) menyatakan, “When you think, ‘Oh, I can’t write that part; it’s too petty, too shameful. It’s not respectful. People won’t understand’ — ignore these subversive thoughts. Be willing to say whatever you have to say truthfully (full truth). Trust yourself, and trust your potential reader”.

Singkirkan keraguan tentang nilai dari kisah hidup Anda. Kadang Anda merasa apa yang Anda tulis itu sebagai sesuatu yang sangat kecil dan tak bermakna. Itu bisa jadi karena Anda membandingkan hasil karya tulis Anda dengan para maestro yang telah mendunia. Ini tidak adil, tentu saja. Anda tidak perlu membandingkannya.

“Trust your intuition, your absurdities, your loves, your hates. Most of all, trust your passions, those extra-strong feelings and urges that flow and surge and pulse with aliveness. Passion provides momentum, involvement, commitment, action. Trust passion”, ujar Bryant.

Tulis saja pengalaman Anda, kisah hidup Anda, peristiwa-peristiwa berkesan dalam hidup Anda. Percayai diri Anda sendiri. Bahwa Anda adalah pribadi unik, memiliki pengalaman kehidupan yang unik —berbeda dengan orang lain. Bahwa semua kejadian dan peristiwa dalam kehidupan, bisa menjadi pembelajaran bagi orang lain.

“Aku menulis puisi: karena kesedihan tidak bisa menuliskan dirinya sendiri; karena petaka tidak bisa mengabarkan gaduhnya sendiri” –Lenang Manggala.

Bahan Bacaan

Roberta Jean Bryant, Anybody Can Write, Tips for All Levels of Writers, www.grandtimes.com, 1999

1 thought on “Apakah Kisah Hidup Penting untuk Ditulis?

  1. Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh pak Cah

    Biasanya kalau ada yang ingin bercerita masalah dirinya, seseorang suka buat janji waktu temu terlebih dulu.

    Sampai pada waktu yang disepakati, kami bertemu dengan kesiapan untuk saling berbagi. Saya siap waktu untuk mendengar, seseorang siap untuk bercerita masalah dirinya.

    Hasil dari pertemuan-pertemuan ini, saya tuliskan secara singkat sebagai catatan harian, tapi tidak selalu begitu, intinya mana yang bernilai positif.

    Sekarang jalan itu sudah ada, bagaimana memaksimalkan kerangka yang sudah ada jadi bentuk yang berdaya guna.

    Ilmu yang pak Cah berikan setiap pagi, memberikan energi positif untuk mewujudkan keinginan saya membukukan, cerita-cerita dari siapa saja yang pernah berbagi cerita dengan saya.

    Apakah saya perlu minta izin yang punya cerita dulu dengan menyamarkan namanya?

    Terimakasih pak Cah
    Jazakallahu Khair

    Kamis, 22 Oktober 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *