.
Oleh : Enny Hidajati (Mentor Kelas Antologi “Jejak Cinta Ananda” / JCA)
.
Menulis dan merawat bunga, adakah persamaannya? Rupanya, saya mulai menemukan titik persamaannya.
Saya menemukan pagi ini, ketika menyapa para bunga. Ini sebagian efek positif WFH. Ada jeda buat lebih mempedulikan mereka.
Terlihat sebatang mawar yang rasa-rasanya perlu dibenahi. Beberapa bagian kurang sedap pada pandangan. Batang dan ranting-ranting tampak keluar dari alur utama. Tidak beraturan. Risih juga melihatnya.
Teringat seuntai ilmu dari Gurunda. Jangan segan memangkas tulisan. Jangan ragu memotong bagian naskah di tangan. Demi apa? Tentu saja : keindahan.
Dalam penulisan, proses amputasi naskah itu dinamakan editing. Sungguh, sebuah proses yang tidak mudah. Terkadang, rasa sayang membayang. Sekian waktu, tenaga, pikiran, terasa terbuang. Oleh karena itu, perlu mental dan ilmu untuk melakukannya.
Menyajikan tulisan pendek, bernas, legit, mentes, dan bermakna adalah sebuah tantangan. Begitu pula, ada misi dan value yang kita sematkan. Jangan lupa, ada unsur indah dan pantas yang disajikan.
Nah, kalau soal “indah” ini, semalam diingatkan kembali. Beberapa majas sering dipergunakan dalam tuturan dan tulisan. Meski sering lupa, nama gaya bahasa yang dipakai itu. Ada personifikasi, alegori, metafora, dan banyak lagi yang lainnya. Yakinlah, majas itu akan makin mempercantik penampilan.
Bukankah mata para pembaca dan penikmat bunga adalah sama? Sama-sama ingin dimanjakan.
.
Catatan:
JCA adalah kelas menulis “Jejak Cinta Ananda”. Belajar menuliskan kisah kasih bersama ananda. Diasuh bu Ida Nurlaila.
