.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“If you wait for inspiration to write you’re not a writer, you’re a waiter” –Dan Poynter.
.
Apakah Anda masih menunggu diingatkan orang lain untuk menulis? Apakah Anda masih menunggu deadline untuk menulis? Apakah Anda masih perlu dipaksa untuk memulai menulis?
Menunggu sesuatu hingga memiliki semangat menulis, bukanlah karakter penulis. Paul J. Silvia (2011) menyarankan agar Anda membangun kebiasaan menulis. Bukan menunggu sesuatu untuk menulis –bahkan deadline. Abaikan saja, fokus pada membangun habit menulis.
Membangun Habit Menulis
“Habits automate behaviors so that we can do them mindlessly without spending time and thought deciding how, when, and why to do them” –Paul J. Silvia, 2011.
Pada awalnya, Silvia menyarankan agar kita menumbuhkan rasa malu dalam diri sendiri. Malu jika tidak menulis. Malu jika tidak produktif. Malu jika harus diingatkan dan dikejar-kejar. Untuk itulah Silvia menyarankan agar kita memasuki grup terbatas atau komunitas agar bisa menumbuhkan nrasa malu.
Namun, jika tidak berhasil menumbuhkan rasa malu, metode terbaik adalah membangun kebiasaan (habit). Kebiasaan mampu mengotomatiskan perilaku sehingga kita dapat melakukannya tanpa berpikir panjang dan tanpa menghabiskan waktu dan pikiran untuk mulai menulis. Bagaimana, kapan, di mana dan mengapa menulis, sudah menjadi jawaban yang spontan.
Paul Silvia menyatakan, “Untuk menjadikan menulis menjadi sebuah kebiasaan, Anda perlu melakukan hal yang tidak terpikirkan. Rencanakan waktu untuk menulis, 4 hingga 6 jam sepekan”.
“To make writing a habit, you need to do the unthinkable: plan time for writing—4 to 6 hours a week works well for most people—and then sit down and write during those times” –Paul J. Silvia, 2011.
Cara ini, menurut Silvia, efektif bagi banyak orang. Mereka membuat rencana, kemudian duduk dan menulis selama waktu yang telah direncanakan. Mungkin ada beberapa kalangan yang tidak bisa melakukan cara ini. Namun, menurut Silvia, “penulis yang produktif biasanya menulis pada waktu yang dijadwalkan”.
Memulai membuat jadwal memang tidak mudah. Sebuah kebiasaan baru yang mulai ditumbuhkan, mungkin memerlukan beberapa pekan untuk terbentuk. Anda akan ‘tersiksa’ karena pengetatan jadwal, “gigi terkatup dan pergelangan kaki terbelenggu”, ujar Silvia, “tetapi itu akan membuat menulis menjadi kebiasaan, semakin biasa, dan biasa”.
Di awal Anda berusaha membangun habit menulis, bersiaplah untuk mendapatkan suasana yang menyakitkan. Pertahankan ritme menulis rutin yang sudah Anda mulai. Jangan kendor. “Tubuh kerja Anda perlahan-lahan akan tumbuh, didorong oleh rasa malu dan kebiasaan dan twinkies goreng”, ujar Silvia.
“To people who write in binges born of deadlines and desperation, the notion of scheduling writing sounds too obvious to work. But productive writers usually write during scheduled times” –Paul J. Silvia, 2011.
Anda harus mengambil keputusan, apakah menulis menjadi salah satu prioritas aktivitas Anda, ataukah tidak masuk prioritas. Jika menulis masuk salah satu dari daftar kegiatan harian, maka Anda harus tabah menghadapi sakitnya pembiasaan. Harus rela berdamai dengan ketidaknyamanan akibat pendisiplinan.
Rutin Menulis Setiap Hari
“Even if you don’t consider yourself much of a writer, you’d be surprised at how much the act of jotting your thoughts down on paper can help you get more done every day” –Gloria Kopp, 2016.
Selain mewujudkan habit menulis, kebiasaan rutin menulis setiap hari, akan memberikan sangat banyak manfaat positif lainnya. Gloria Kopp (2016) menyatakan, “Bahkan jika Anda tidak menganggap diri Anda seorang penulis, Anda akan terkejut melihat betapa tindakan menulis dapat membantu menyelesaikan lebih banyak hal setiap hari”.
Menurut Gloria Kopp, membiasakan diri menulis setiap hari memiliki banyak manfaat dalam kehidupan. “Menuliskan tujuan secara tertulis membuat Anda lebih mungkin untuk mencapainya, meningkatkan kejelasan dan fokus ide Anda, dan membuat pikiran Anda menjadi ‘kosong’ sehingga Anda dapat berpikir dan memecahkan masalah dengan lebih efektif”.
Mengapa dengan menulis membuat pikiran bisa kosong? Karena semua yang memenuhi pikiran telah dituangkan ke dalam tulisan. Dengan demikian, pikiran kita siap menampung hal-hal baru lagi. Lebih jernih berpikir karena tidak dipenuhi oleh sampah-sampah informasi.
“Getting into a daily writing habit has multiple benefits: putting your goals down in writing makes you more likely to achieve them, it improves the clarity and focus of your ideas, and it declutters your mind so you can think and solve problems more effectively” –Gloria Kopp, 2016.
Masih ada lagi manfaat rutin menulis setiap hari. “Kebiasaan menulis setiap hari dapat membantu Anda masuk ke aliran mental yang produktif”, ujar Kopp. Ini berarti hidup Anda secara keseluruhan akan lebih produktif.
Bagaimana dengan Anda? Masih ingin menunggu, atau ingin menulis. Anda ingin menjadi writer atau waiter? Segera putuskan.
Bahan Bacaan
Gloria Kopp, Daily Writing Habits to Boost Productivity—Even If You’re Not a Writer, 18 Agustus 2016, https://www.wrike.com
Paul J. Silvia, Procrastination: On Writing Tomorrow What You Should Have Written Last Year, https://blog.apastyle.org/apastyle, Mei 2011
.
Plus : Quotes of The Day
“A schedule isn’t easy to get started—it might entail a few weeks of clenched teeth and shackled ankles—but it will make writing habitual, mundane, and ordinary” –Paul J. Silvia, 2011.
“Writing will still be painful, but it will be merely one of the many tedious things you habitually do during your day. And your body of work will slowly grow, fueled by shame and habit and deep-fried twinkies” –Paul J. Silvia, 2011.

Ingin menjadi Writer saja, agar sampah informasi dapat di buang pada tempatnya, sehingga plong. Syukran ustaz Cahyadi Takariawan