19 September 2026

Oleh : Hellen Patraliza

“Hilangkan kebekuan dalam pikiran, cairkan dengan giat latihan, maka akan kau temukan melody yang indah dalam tulisan” (Hellen Patraliza)

Semua orang pasti mengenal dengan kata melody. Melody adalah susunan nada-nada yang diatur dengan indah. Sehingga orang yang mendengarkannya akan menikmati alunan irama dari nada-nada tersebut. Pendengar akan terbuai akan ‘rasa’ yang didapat dari alunan musik yang indah.

Apalagi jika ditambah dengan harmoni. Keselarasan antara nada, ritme dan lirik lagu yang sepadan akan membuat sebuah lagu menjadi enak untuk didengar. Bahkan kita bisa mendengarkannya berulang-ulang. Seakan tidak pernah merasa bosan, karena sesuai dengan selera kita.

Begitu pula dengan menulis. Jika melody berpasangan dengan penikmat atau pendengar musik, maka menulis berpasangan dengan membaca.

Tulisan yang baik adalah tulisan yang memiliki makna, yang mudah dipahami oleh pembaca. Tidak berbelit-belit dan monoton. Bahkan jika tulisan itu bagus, maka pembaca tidak segan untuk membacanya berulang-ulang, agar lebih memahaminya.

Bagaimana menulis dengan ritme yang menarik?

Tulisan yang menarik pembaca, saya akan ibaratkan dengan sebuah melody. Dalam melody ada kalanya bertemu dengan nada yang naik dan juga turun. Kadang nada-nadanya bertempo cepat, sedang dan lambat. Sebuah melody tercipta menjadi sebuah lagu berdasarkan genre atau aliran bagi penikmatnya. Ada lagu khusus untuk genre anak-anak, remaja, dan dewasa.

Sangat tidak pantas apabila lagu dewasa dinyanyikan oleh anak-anak. Atau sebaliknya lagu anak-anak dinyanyikan oleh remaja atau orang dewasa. Jika urusan melody sangat berhubungan dengan usia seseorang, maka sebuah lagu pun tidak bisa sembarangan masuk ke ranah yang tidak sepadan, karena akan menimbulkan kerancuan dalam memilih genre.

Begitu pun dengan tulisan. Sebuah tulisan dikatakan menarik apabila bertemu dengan pembaca sesuai usianya.

Saya membagi jenis tulisan menjadi 3 bagian berdasarkan usia, di antaranya :

  • Usia anak-anak

Jika itu cerita untuk anak-anak, tentu bacaannya yang ringan, penuh dengan warna dan diserta dengan gambar. Biasanya tulisan tidak perlu panjang-panjang, cukup dikuatkan dengan gambar animasi yang membuat dia mengerti. Dalam pengemasan pun dengan cover, layout yang menarik dan warna-warna yang terang.

  • Usia remaja

Ada banyak buku remaja beredar di pasaran, kita bisa membedakan dari pengemasan, isi dan gaya bahasa.

Buku remaja dikemas dengan gaya bahasa yang gaul dan ringan. Tata kalimat yang kekinian lebih disukai oleh usia remaja. Dengan cover yang segar membuat pembaca menjadi tertarik membacanya. Apakah itu tema tentang jatuh cinta pertama, kerinduan orang, ataupun tentang kebebasan dalam berekspresi ala remaja.

  • Usia dewasa

Tulisan yang menarik bagi orang dewasa atau orang tua adalah tulisan yang nyaman dibaca. Kenyamanan bisa diukur dari ukuran font, sebaiknya jangan terlalu kecil, karena akan sulit dan mudah lelah membacanya. Gunakan ukuran font yang sedang dan tidak terlalu rapat spasinya agar pembaca pada genre ini bisa nyaman saat membacanya.

Bagaimana memulai menulis?

Menulis memang bukanlah hal yang gampang. Butuh konsentrasi dan ide yang cemerlang. Walaupun ide telah ada. Namun, butuh kepiawaian dalam mengemas kata-kata menjadi kalimat yang baik dan enak untuk dibaca.

Menyatukan antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lainnya agar bahasanya bisa nyambung dan tidak melebar kemana-mana. Semua butuh proses, tidak sim salabim asal jadi.

Berikut tips memulai menulis yang sudah saya lakukan selama ini

  • Menentukan zona

Untuk membiasakan menulis setiap hari, kita harus punya target, dalam sekian menit bisa menghasilkan berapa ratus kata. Tetapkan Zona Waktu Menulis ( ZWM ). Tidak harus lama, yang penting rutinitas.

Tetapkan juga Zona Tempat Menulis ( ZTM ). Ruang atau tempat mana yang bisa nyaman untuk menulis. Tempat yang bersih dan jauh dari kebisingan, mungkin di outdoor yang asri dan rindang. Bahkan mungkin rempat nongkrong atau angkringan yang bisa lebih luwes dalam menuangkan ide-ide tulisan. Semua baik dilakukan, asalkan sudah berkomitmen dengan ZWM dan ZTM.

  • Komitmen

Ketika zona waktu dan zona tempat telah ditentukan, kita harus berkomitmen untuk terus menulis. Saat kita mengatakan tidak bisa menulis, dan hanya diam saja tanpa berbuat sesuatu, selamanya tidak akan mampu untuk melakukannya. Sebenarnya itu adalah kendala yang selalu menjadi alasan klasik. Keadaan tak akan merubah apapun, jika dari kita sendiri tidak mau mengubahnya.

Cobalah untuk mencari jawaban dari semua kelemahan kita. Hanya kita yang tahu, dan ini harus kita cari solusinya, agar menjadi lebih baih baik lagi dan bisa menjadi produktif dalam menulis.

  • Percaya diri

Terkadang di dalam sebuah melody, intronya sudah enak untuk dinikmati. Namun pada saat pertengahan, nadanya terdengar fals. Kita sebagai penikmat musik atau lagu jadi kurang bersemangat. Akhirnya berhenti mendengarkan dan mengalihkan dengan melody yang lain.

Hal yang sama dengan menulis. Dari awal sudah terasa ada konflik tokoh utama karena cerita dikemas dengan dialog perseteruan yang tegang dan setting pun mendukung. Pembaca dibuat seolah-olah masuk ke dalam karakter tokohnya. Pembaca dibuat tegang dan berdebar, karena sulit untuk menebak bagaimana kisah selanjutnya.

Namun, saat di pertengahan cerita, menjadi sangat ringan dan tidak sinkron dengan cerita awal. Hal ini akan membuat pembaca menjadi malas untuk melanjutkan membaca. Memberikan rasa puas terhadap pembaca adalah tanggung jawab penulis. Dalam hal ini salah satunya adalah rasa percaya diri dalam menulis.

Kepercayaan diri pada setiap kegiatan merupakan suatu hal pokok yang harus dimiliki oleh seseorang. Kepercayaan diri atau sering disebut dengan “Pede” merupakan kekuatan atau ‘ruh’ nya.

Begitupun dengan menulis. Terkadang menulis menjadi sebagai suatu hambatan bagi penulis pemula, karena rasa kurang percaya diri untuk memublikasikan tulisannya ke media. Padahal belum tentu tulisannya tidak bagus atau kurang menarik untuk dibaca.

Seorang penulis memiliki modal rasa ‘pede’, karena semua penulis mengalami namanya pemula. Sama-sama tidak memiliki skill khusus di dalam ilmu kepenulisan. Apa yang ada dalam pikirannya, dia tuangkan ke dalam tulisan. Modalnya hanyalah rasa “percaya diri”.

Bagi yang belum biasa menulis, pasti merasa kebingungan. Ada yang mengganjal di benak, apa yang harus ditulis dan bagaimana cara memulainya. Memulai seperti menjadi ganjalan yang berat. Inspirasi yang beku dan mendapati kebuntuan dalam menulis adalah suatu hal yang harus dilawan, jika tidak, selamanya tidak akan menghasilkan karya.

Bionarasi

Hellen Patraliza, S.Pd, seorang Guru Seni Budaya di SMA Negeri 3 Unggulan Kayuagung Sumatera Selatan. Berawal dari sakit stroke yang mengakibatkan geraknya menjadi terbatas dan kaku, dengan semangat yang ada, dia bergabung di Kelas Menulis Online Batch 33 asuhan Pak Cahyadi Takariawan dan Bunda Ida Nurlaela. Lanjut ke Kelas Emak Punya Karya Batch 2. Dia telah menerbitkan buku solo yang berjudul Self Love, yang telah memasuki cetak ketiga. Di samping itu juga, dia menulis untuk buku-buku antologi cerpen, puisi dan beberapa tulisan artikel  Dia juga merupakan Pencipta lagu dan koreografer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *