20 September 2026

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

Remind yourself again – just how few great works of art would there be in the world if their creators had quit?” –Laura Tong.

.

Beberapa penulis pemula tergoda untuk menyerah kalah. Saat mereka merasa gagal menciptakan karya berkualitas, saat naskahnya ditolak media cetak, saat naskahnya ditolak penerbit mayor, saat postingan tulisan di platform menulis sepi pengunjung, saat tulisan di media sosial tak ada yang menjempoli –mereka merasa gagal.

Berbagai pikiran buruk berkecamuk dalam jiwa. Antara malu, sedih namun juga marah. Rasa-rasanya sangat berat untuk melanjutkan perjuangan dalam dunia tulis menulis. Dunia seakan telah mencemooh mereka, dan tak ada lagi tempat untuk bersembunyi. Tak sedikit yang memilih mundur dan mengubur keinginan untuk menjadi penulis.

Selesaikan “Perang” dalam Pikiran Anda

If you’re not fighting against the obstacles in your own mind, you’re battling against the endless distractions around you” –Blake Powell, 2017

Blake Powell, penulis buku ‘The Bulletproof Writer’s Handbook’ menyatakan, “Jika Anda tidak berjuang melawan rintangan dalam pikiran Anda sendiri, Anda sedang berjuang melawan gangguan tak berujung”. Maka Anda harus menyelesaikan terlebih dahulu peperangan yang sedang berkecamuk dalam pikiran Anda.

Jangan biarkan pikiran-pikiran buruk dan jahat itu mengganggu mentalitas menulis yang sudah Anda bangun. Jika Anda kalah dalam peperangan tersebut, yang akan Anda dapatkan adalahy sejumlah alasan pembenar untuk tidak menulius. Maka Laura Tong menyarankan, “Berhentilah mencari-cari alasan untuk berhenti menulis”.

Menurut Laura Tong, “Kegagalan hanya memiliki satu sekutu yang kuat, yaitu tindakan menyerah”. Anda dibuat tidak berdaya menghadapi kegagalan. Anda dibuat lemah menghadapi realitas yang membuat Anda terpuruk. “Jangan dengarkan diri Anda atau orang lain yang memberi tahu Anda bahwa tidak apa-apa untuk meninggalkan impian Anda menciptakan karya yang luar biasa”, ujar Tong.

Finding excuses to cut and run is always easier than sticking with whatever the road to success throws your way. Packing it in is way less effort than keeping on keeping on. You will always be able to find justifications to quit if you look hard enough” –Laura Tong.

Ingatkan diri Anda lagi, betapa sedikit karya seni hebat yang akan ada di dunia jika penulisnya menyerah kalah? Orang tidak akan menemukan tulisan Robert Pirsig berjudul “Zen and the Art of Motorcycle Maintenance” jika ia menyerah saat ditolak oleh 121 penerbit. Padahal setelah terbit, berhasil terjual jutaan eksemplar dan diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dunia.

Anda tidak akan menikmati cerita Harry Potter, andai saja JK. Rowling  menyerah kalah. Naskah Harry Potter bisa terbit karena anak dari pemilik Bloomsburry Publishing, penerbit pertama buku berseri Harry Potter, telah membaca draf novel fantasi tersebut. Alice, nama anak tersebut, membaca naskah Harry Potter dan ternyata ia ketagihan, hingga akhirnya buku Harry Potter diterbitkan pada penerbitan Bloomsburry.

As a writer you have a double reason not to quit: not only would it rob you of the fruits of your creative labor, but it would also rob your future readers of the joy of discovering your work” –Laura Tong.

Agatha Christie, penulis yang dijuluki sebagai the best-selling author of all time –juga pernah mengalami penolakan oleh penerbit. Naskah novel ‘The Mysterious Affair at Styles’ ditolak oleh penerbit Hodder and Stoughton dan penerbit Methuen. Empat tahun sejak ditulis, novel itu akhirnya diterbitkan oleh The Bodley Head.

Jadi ditolak dan gagal terbit itu wajar saja. Jangan menjadikan kegagalan sebagai alasan untuk menyerah. “Menemukan alasan untuk menyerah dan kalah selalu lebih mudah daripada bertahan menuju kesuksesan yang Anda harapkan”, ujar Laura Tong. “Anda akan selalu dapat menemukan pembenaran untuk berhenti berkarya ketika Anda tengah merasakan kegagalan”, sambungnya.

Terima Kegagalan Sebagai Pembelajaran

It’s impossible to win every battle in a war. The key to being an effective writing warrior, however, is setting yourself up to win as much as you can” –Blake Powell, 2017

Gagal itu hal yang wajar. “Tidak mungkin Anda bisa memenangkan setiap pertempuran”, ujar Blake Powell. “Kunci untuk menjadi pejuang menulis yang efektif, bagaimanapun, adalah menyiapkan diri Anda untuk menang sebanyak yang Anda bisa”, lanjutnya.

Kegagalan dalam berbagai bentuknya, adalah bagian utuh dari proses pembelajaran. “Penulis sukses adalah mereka yang menolak untuk berhenti, tidak peduli berapa kali mereka gagal di masa lalu”, ujar Laura Tong. Tidak akan ada penulis sukses, jika merekamenyerah di saat menemukan kegagalan.

The most successful writers are those who refuse to quit, no matter how many times they’ve failed in the past” –Laura Tong.

Maka tetaplah menulis, kendati Anda menemukan hari-hari berat setelah mengalami kegagalan. “Jika Anda tidak dapat menulis pada hari-hari yang sulit, maka Anda tidak akan bisa menulis pula pada hari-hari yang baik”, ujar Blake Powell.

Ada dua alasan untuk tidak berhenti menulis, ujar Laura Tong. Yang pertama, jika Anda menyerah dan kalah, berarti keputusan ini akan merampas kerja kreatif Anda. Kedua, berhenti menulis berarti merampas kebahagiaan pembaca masa depan Anda untuk menemukan karya terbaik Anda.

If you can’t write on the hard days, you’ll never write on the good ones” –Blake Powell, 2017

Daripada Anda menelisik dan mencari-cari alasan untuk berhenti menulis, lebih baik Anda gunakan waktu untuk menciptakan karya, atau merevisi naskah yang sudah Anda simpan di file, serta berusaha menemukan cara untuk menciptakan karya yang sukses. Terimalah kegagalan sebagai bagian utuh dari pembelajaran.

Nikmati saja kegagalan sebagai tangga menuju sukses, pada suatu hari nanti. Sudah siap?

Bahan Bacaan

Blake Powell, How to Be Unstoppable and Write Every Day, 26 Mei 2017,  https://writingcooperative.com/

Laura Tong, 10 Ways To Stop Feeling Like A Failure As A Writer, https://writetodone.com, diakses 19 Mei 2022

1 thought on “Menolak Merasa Gagal – 6

  1. Jangan takut dengan kegagalan selama masih hidup di dunia. Terus dan terus saja mencoba, kelak keberhasilan dan kesuksesan milik kita. Syukran katsiran ustadz Cahyadi Takariawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *