.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“Failure has bullied you for way too long. It’s left you fearful, dejected, and near-defeated. It’s made you doubt your abilities as a writer. The fear of falling on your face has stopped you making the leap for your dream” –Laura Tong.
.
Mengapa ketika membuat kesalahan atau melihat kemunduran, banyak orang merasa seolah-olah tujuan yang ingin dicapai sekarang menjadi sia-sia atau bahkan dianggap telah gagal total? Apakah yang ingin kita capai sekarang tidak ada harapan dan tidak lagi sepadan dengan waktu kita?
Misalnya, ketika seorang penulis ingin menerbitkan naskah buku, namun mendapat penolakan dari editor atau penerbit. Seakan perjuangan menulis selama berpekan-pekan atau berbulan-bulan menjadi sia-sia. Seakan tujuan menerbitkan buku tidak lagi relevan untuk direalisasikan. Memilih menyerah dan kalah.
“Untuk beberapa keadaan, mungkin mereka memutuskan bahwa tujuan tersebut tidak lagi dapat dicapai”, jawab Dale Schlundt dari Palo Alto College. “Namun untuk sebagian besar kejadian, sebenarnya tujuan masih bisa dicapai, namun tekad telah melemah saat menghadapi kemunduran atau kesalahan”, lanjutnya.
“No matter how many times you’ve failed, you are not a failure. What you are is a successful writer in the making. So go write” –Laura Tong.
Pertanyaan berikutnya, mengapa semangat yang semula demikian besar bisa melemah bahkan akhirnya menyerah kalah? “Ini terjadi karena apa yang para pemimpin, guru, dan orang tua kita tidak ajarkan kepada kita, daripada apa yang telah mereka ajarkan kepada kita”, ungkap Schlundt.
Suatu pagi, Dale Schlundt menunjukkan kepada mahasiswa, salah satu artikel karyanya yang baru saja diterbitkan. Para langsung mahasiswa mengapresiasi dan memuji karya itu. Setelah mereka banyak memuji, Schlundt menunjukkan semua penolakan yang pernah didapatkan dari banyak editor dan penerbit.
Schlundt bukan hanya mengalami sekali atau dua kali penolakan dari editor dan penerbit. Ada 40 hingga 50 editor dan penerbit yang penah menolak karya tulisnya. Mereka tidak bersedia menerbitkan karya tulis Schlundt dengan berbagaimacam alasan. Jelas, itu jumlah penolakan yang tidak sedikit.
“Pesan yang ingin saya sampaikan kepada para mahasiswa adalah, meskipun gagal dalam hal menerbitkan banyak artikel, namun saya juga memiliki keberhasilan”, ungkap Schlundt. Pernah ditolak hingga 50 kali oleh editor atau penerbit, itu adalah proses pembelajaran. “Pesan yang lebih penting lagi adalah, bahwa gagal itu tidak apa-apa,” lanjutnya.
Anda Bisa Membangun Keberhasilan di Tengah Kegagalan
“So celebrate each fail, and be grateful for the lessons they bring. Take each failure in your stride, and march on while knowing that quitting is never an option. Start feeling like a successful writer” –Laura Tong.
Kisah yang disampaikan Dale Schlundt di hadapan para mahasiswa terkait 40 sampai 50 penolakan penerbit yang diterima, menjadi sangat relevan untuk pelajaran. Tidak mengapa artikel yang Anda kirim, ditolak oleh 50 koran. Juga tidak masalah jika penolakan itu datang dari satu koran, bertubi-tubi hingga 50 kali.
Namun toh ada artikel yang dimuat. Bukankah itu kisah keberhasilan? Sesuatu yang tetap bisa dinikmati dan dirayakan. Namun jika setelah penolakan itu membuat Anda berhenti menulis dan berhenti mengirim artikel ke redaksi koral, maka Anda sudah selesai. Peluang keberhasilan sudah Anda tutup sendiri.
Mungkin perasaan kegagalan telah menyandera Anda terlalu lama. Perasaan itu membuat Anda takut, sedih, dan hampir menyerah kalah. Membuat Anda meragukan kemampuan diri sendiri sebagai penulis. Rasa takut gagal telah menghentikan Anda untuk membuat lompatan dalam mencapai kondisi yang lebih baik.
Maka rayakan setiap kegagalan, dan syukuri pelajaran yang Anda dapat dari setiap kegagalan. Ikuti setiap kegagalan dengan langkah nyata, dan terus menulis setiap hari. Anda harus sampai kepada kesimpulan bahwa berhenti menulis bukanlah pilihan. Juga bukan solusi.
“Let go of the past because it is never too late. Go after your own version of success, and then work your tail off until you achieve it” –Laura Tong.
Mulailah merasa dan menempatkan diri sebagai penulis yang sukses. Lepaskan beban kegagalan di masa lalu karena tidak pernah ada kata terlambat untuk sukses. “Raih kesuksesan versi Anda sendiri, dan bekerja keras sampai Anda mampu mencapainya”, ungkap Laura Tong.
“Iingatlah bahwa kegagalan tidak pernah bisa memberi identitas kepada Anda, karena itu hanyalah suatu peristiwa, bukan identitas permanen”, ujar Tong. “Tidak peduli berapa kali Anda mengalami kemunduran, sebenarnya Anda tidak gagal. Anda adalah penulis yang sukses dalam proses penulisan. Jadi teruslah menulis”, sambung Tong.
Bagaimana dengan Anda? Sudah siap?
Bahan Bacaan
Dale Schlundt, Failing Does Not Necessarily Mean Failure, https://www.pickthebrain.com. 8 Desember 2012
Laura Tong, 10 Ways To Stop Feeling Like A Failure As A Writer, https://writetodone.com, diakses 19 Mei 2022

Berani sukses harus berani menghadapi kegagalan. Siap sukses dan siap gagal. Jangan jadi pecundang, jadilah pemenang, minimal menang melawan ego diri sendiri. Terima kasih pak Cah, syukran katsiran ustadz Cahyadi Takariawan.