.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“Every action you take moves you forward, no matter how far backward a failure may seem to have set you” –Laura Tong.
.
Pernah mengalami kegagalan adalah hal yang wajar saja. Bukan hanya dalam dunia menulis. Ini terjadi dalam semua bidang kehidupan, apapun itu. Kegagalan bukanlah akhir dari karier Anda untuk menjadi penulis sukses.
Laura Tong mengingatkan para penulis agar tidak mudah berputus asa dan menyerah. Terutama saat merasakan kegagalan. “Setiap tindakan yang Anda ambil, selalu membuat Anda bergerak maju,” ujarnya. “Tidak peduli seberapa jauh Anda terlempar ke belakang akibat kegagalan”, sambungnya.
Jika naskah novel Anda ditolak oleh banyak penerbit mayor, jutru menjadi kesempatan untuk menerbitkannya sendiri. Jangan berputus asa. Amanda Hocking telah mengalaminya. Naskah novelnya ditolak oleh 50 penerbit selama beberapa tahun,lalu ia terbitkan sendiri. Akhirnya mampu menjual lebih dari 1,5 juta eksemplar buku.
Depresi dan Kegagalan yang Membawa Keberhasilan
“I was seriously depressed for most of my life” –Amanda Hocking.
Amanda Hocking adalah novelis yang hebat. Pada awalnya, ia menyatakan mengalami depresi yang serius. “Saya mengalami depresi serius hampir di sepanjang hidup saya,” katanya. Dia menyalurkan perasaan tertekan itu dengan membaca buku-buku fiksi.
Hocking suka bercerita, sejak berusia 3 atau 4 tahun. “Saya ingat ketika berusia 8 atau 9 tahun, bercerita tentang seorang gadis dan macan tutul yang menyelamatkan orang. Mereka seperti duet,” ujar Hocking.
Pada usia 11 tahun, orang tuanya berpisah. Ini salah satu pemicu depresi bagi dirinya. Sangat bahagia ketika di tahun itu ia mendapat hadiah komputer. “Itu seperti penyelamat terbesar yang pernah ada bagiku,” ujarnya.
Pada saat berusia 17 tahun, Hocking telah menyelesaikan novel pertamanya, “Dreams I Can’t Remember.” Naskah novel ini ia kirim ke berbagai penerbitan yang ditemukan melalui Google dan Writer’s Market. Sekitar 50 penerbit menolak naskah Hocking. Ini merupakan pukulan sangat dahsyat baginya.
Hocking tidak putus asa. Justru ia mulai memperlakukan menulis sebagai pekerjaan. Sebelumnya, menulis adalah ”sesuatu yang selalu saya lakukan, seperti bermain video game.” Menulis sekedar untuk bersenang-senang atau bermain-main. Setelah penolakan itu, Hocking selalu menulis bahkan ketika tidak menyukainya. Pada tahun berikutnya, dia menulis setidaknya lima atau enam novel baru.
Bukan hanya satu naskah yang ditolak penerbit. Bahkan ada ratusan penerbit yang menolak 7 naskah novelnya. Namun sekarang Hocking terbukti benar-benar mengerti peluang lebih baik daripada semua penerbit yang menolak novelnya.
“Ada beberapa hari di mana aku seperti sudah menyerah. Ini mengerikan. Aku tidak akan pernah bisa menerbitkannya,” ujar Hocking. Penolakan terakhirnya terjadi pada Februari 2010.
Hocking menetapkan target harus sudah menerbitkan buku pada saat berusia 26 tahun. Mencontoh Stephen King, Hocking menggunakannya umur 26 tahun sebagai “tenggat waktu” untuk dirinya sendiri.
Jika tidak ada penerbit yang menerima naskahnya, pada usia 26 tahun dia akan menerbitkannya sendiri. Maka akhirnya Hocking menerbitkan sendiri bukunya, dan –luar biasa, ternyata mampu menciptakan gelombang penjualan.
Semua Berubah Semenjak Buku Terbit
“Since uploading her first book on her own last spring, she has become –along with the likes of Nora Roberts, James Patterson and Stieg Larsson –one of the best-selling e-authors on Amazon” –Strawberry Saroyan, 2011.
Hari pertama setelah menerbitkan buku, Amanda Hocking berhasil menjual lima eksemplar. Hari berikutnya, bisa lima eksemplar lagi. Ia menerbitkan novel lainnya, dan menjual total 36 buku dalam satu hari. “Ini menakjubkan. Aku mengambil alih dunia,” ujarnya.
Segera ia mulai menjual ratusan buku sehari. Kadang bisa menjual 6.000 buku dalam sebulan, bertambah lagi terjual 10.000 dalam sebulan. “Dan kemudian mulai meledak. Pada bulan Januari, terjual lebih dari 100.000 buku,” ujarnya. Ia mampu menjual 9.000 buku sehari.
Hocking sendiri merasa heran dan takjub dengan fenomena meledaknya penjualan buku tersebut. “Saya mengerti ada penulis lain melakukan hal sama persis seperti saya, genre yang sama, harga buku yang sama dan mereka memiliki banyak buku. Mereka semua memiliki desain cover yang bagus. Mereka juga menjual dengan cukup baik, tetapi hasilnya tidak sebaik saya,” ujarnya.
Semua benar-benar berubah semenjak bukunya diterbitkan sendiri. Ternyata kegagalan tak selalu menghasilkan penderitaan berkepanjangan. Tergantung apakah kita bersedia bangkit dan memulainya lagi, atau menyerah kalah.
Bagaimana dengan Anda?
Bahan Bacaan
Laura Tong, 10 Ways To Stop Feeling Like A Failure As A Writer, https://writetodone.com, diakses 19 Mei 2022
Strawberry Saroyan, Storyseller, https://www.nytimes.com, 17 Juni 2011
