.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“A good writing day starts at 4 AM. By 11 AM the rest of the world is fully awake and so the day goes downhill from there” –Daniel Gilbert.
.
Pada waktu dan momentum seperti apa spirit menulis Anda bangkit? Apakah pada kesunyian malam, ataukah pada sejuknya udara pagi hari? Atau di tengah keramaian manusia? Coba Anda cermati, suasana seperti apa yang paling memacu spirit menulis Anda. Setiap penulis memiliki kebiasaan yang berbeda.
Novelis Maya Angelou mencintai kesunyian kerja. Untuk menghasilkan novel, ia harus menyepi di kamar hotel. “Saya punya hotel langganan di setiap kota yang pernah jadi rumah saya. Saya menyewa sebuah kamar hotel untuk beberapa bulan, dan setiap hari saya meninggalkan rumah pukul 6 pagi dan mencoba sampai ke ‘kantor’ pukul 6.30,” ujarnya.
“Saat menulis, saya duduk di ranjang, supaya siku saya menekuk dengan tepat. Saya tidak pernah mengizinkan orang hotel mengubah penataan ranjang itu, karena saya tidak pernah tidur di sana. Saya bersikeras supaya temboknya polos. Saya tidak mau melihat apa-apa di tembok. Saya ingin masuk ke kamar itu dan merasa seolah seluruh keyakinan saya ditangguhkan,” lanjut Maya Angelou.
Daniel Gilbert, profesor Psikologi Harvard dan penulis Stumbling on Happiness memilih waktu berpagi-pagi untuk menulis. Ia menceritakan, “Menulis yang baik dimulai pada pukul 4 pagi. Sebab pada pukul 11 nanti, seluruh dunia sudah sepenuhnya bangun, dan hari mulai menurun dari sana.”
“I write in my study at my house in Belgravia in London, starting very early in the morning, usually around 4.30am, dressed in my pajamas, dressing-gown and slippers. That way no-one interrupts you for five hours, in which time you can get a huge amount of work done. I averaged 5,500 words a day for 100 days straight writing Churchill: Walking with Destiny” –Andrew Roberts.
Andrew Roberts, sejarawan dan penulis buku Napoleon: A Life memiliki kebiasaan yang serupa. Ia suka menulis berpagi-pagi buta. Ia menyatakan, “Saya menulis di ruang kerja saya di rumah saya di Belgravia di London, mulai pagi-pagi sekali. Biasanya sekitar pukul 4.30 pagi, mengenakan piyama, gaun ganti, dan sandal”.
“Dengan begitu tidak ada yang mengganggu Anda selama lima jam, di mana Anda bisa menyelesaikan banyak tulisan. Saya rata-rata menulis 5.500 kata sehari selama 100 hari berturut-turut saat menyelesaikan buku Churchill: Walking with Destiny,” ujar Andrew Roberts.
Keisha N. Blain, sejarawan dan penulis buku Set the World on Fire: Black Nationalist Women and the Global Struggle for Freedom menyatakan, “Saya biasanya mulai menulis antara pukul 5:30 pagi dan 6 pagi. Saya telah menemukan bahwa saya paling produktif jika saya mulai lebih awal”.
“I generally start writing sometime between 5:30am and 6am. I have found that I am most productive if I start early. Doing this allows me to stay consistent—even if I have a 9AM meeting or a class to teach later in the day, I always manage to get some writing done. …. If I don’t write early in the morning, I feel unsettled throughout the day, so I try not to veer off schedule even when I don’t feel like writing” –Keisha N. Blain.
“Melakukan kebiasaan ini memungkinkan saya untuk tetap konsisten, bahkan jika saya memiliki agenda pertemuan pada pukul 0.900 pagi, atau kelas untuk mengajar di kemudian hari, saya selalu berhasil menyelesaikan beberapa tulisan”, lanjut Blain. “Jika saya tidak menulis di pagi hari, saya merasa tidak tenang sepanjang hari, jadi saya berusaha untuk tidak menyimpang dari jadwal bahkan ketika saya tidak ingin menulis.”
Rayni N. Massardi –penulis novel ‘Langit Terbuka’, mengaku lebih suka menulis di tempat yang ramai ketimbang tempat sepi. Rayni menulis di keramaian sambil mengenakan headset dan mendengarkan lagu. Dengan cara itu, proses kreatif berjalan dengan lancar. Imajinasi lebih terbuka dan akhirnya lebih mudah menuangkan ide ke dalam tulisan.
Dahlan Iskan menulis di sela-sela kesibukan dirinya yang sangat padat. Ia tidak mensyaratkan suasana tertentu –ramai ataupun sepi. Jika ia naik pesawat terbang, beberapa menit setelah take off, ia mulai menghidupkan smartphone, dan menulis. Demikian pula saat perjalanan dengan kereta api ataupun mobil. Hampir semua tulisan Dahlan Iskan ditulis menggunakan smartphone, hanya satu tulisan lahir dari laptop. Saat menulis di smartphone, ia hanya menggunakan satu jari, yaitu ibu jari kiri.
Bagaimana Dengan Anda?
Anda tidak harus meniru siapapun. Seperti penuturan Nick Greene, “Saya meniru kebiasaan penulis terkenal supaya ikutan sukses, hasilnya ambyar”. Tulisan Greene sangat unik dan menggelitik. Anda harus memiliki kebiasaan sendiri, memiliki ciri sendiri.
Suasana seperti apa yang membangkitkan spirit menulis bagi Anda. Tidak meniru sesiapapun, meskipun boleh mengambil inspirasi dari orang lain yang mirip kondisinya dengan Anda.
Cermati dan kenali suasana yang paling mampumemicu spirit menulis Anda. Setiap kita adalah unik, maka miliki kebiasaan menulis sesuai dengan apa yang paling membangkitkan spirit bagi Anda. Tentu saja dalam konteks dan koridor yang positif.
Bahan Bacaan
Amanda Patterson, Maya Angelou’s Writing Process, https://writerswrite.co.za, 4 April 2018
Nick Greene, Saya Meniru Kebiasaan Penulis Terkenal Supaya Ikutan Sukses, Hasilnya Ambyar, www.vice.com, 22 Januari 2018
Khun, Heartbeat Style, Menulis Patah-patah ala Dahlan Iskan, https://ceritakhun.com, 23 November 2019
Writing Routines, While Everyone Else Is Sleeping: 20 Famous Writers On When They Do Their Best Work, https://www.writingroutines.com

Begitu banyak nasihat kehidupan yang sangqt pentng dan berarti. Jika berbagi maka orang lain pun banyak yang terinspirasi dan termotivasi untuk menuliskannya. Syukron katsiron ustadz Cahyadi Takariawan.