Oleh : Kantin Emak Produktif
(1)
Ramadan adalah bulan istimewa karena pahala amal shalih akan dilipatgandakan. Namun, ada kekhawatiran bagi wanita haid atau nifas karena tidak bisa melakukan beberapa ibadah di bulan suci ini.
Padahal ada banyak amalan lain yang bisa dilakukan dan mendatangkan pahala besar, di antaranya adalah bersedekah dengan memberi makan orang yang sahur dan berbuka, serta memfasilitasi kebutuhan i’tikaf.
Selain itu, wanita haid atau nifas, juga bisa memperbanyak dzikir dan doa, mendatangi majelis ilmu dan bersilaturahmi.
Raihlah keutamaan Ramadan dengan amalan sederhana, tetapi berpahala besar.
–Dewi Indrayati
(2)
Berapa banyak amal kita yang dilakukan bukan karena Allah? Astaghfirullah al ‘adziim semoga Allah Al- Ghaffar mengampuni segala amal yang keliru niatnya. Jika “duniawi” yang menjadi destinasi, siap- siaplah menelan kecewa. Mari luruskan niat agar amal baik kita diterima Allah Swt. Allah Ghayatunaa
–Yulia K Rohima
(3)
Salah satu tanda cinta Allah kepada hamba-Nya adalah ujian. Tetaplah bersyukur, hindari mengeluh, ketika hidup terasa sulit dan penuh cobaan. Boleh jadi, itu cara Allah untuk menaikkan level hidup kita.
“Ketahuilah, bahwa kemenangan datang seiring dengan kesabaran, pertolongan datang seiring dengan cobaan, dan kemudahan datang seiring dengan kesulitan.” (H.R. Tirmidzi)
–Junayda
(4)
“Setiap manusia pasti akan mati, kembali kepada pencipta-Nya. Namun, yang membedakan adalah akhir hidupnya. Apakah husnul khotimah ataukah su’ul khotimah? Semoga kita semua berakhir dalam keadaaan husnul khotimah.”
–Meivany Azarini
(5)
Hindarilah mengatakan pasti untuk perkara yang belum terjadi. Sedetik pun kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Semua itu rahasia Illahi. Apa yang akan terjadi tetap kita jalani dengan sepenuh hati hingga akhirnya kita mengerti makna hidup ini.
–Wydiesti
(6)
Nasihat, sejatinya adalah sebuah pengingat yang Allah kirimkan kepada manusia yang dicintai-Nya. Tujuannya agar dengannya ia menyadari, jika telah mulai berbelok arah, hatinya mulai keras, lemah dalam beribadah dan kehilangan makna istiqamah. Maka dari siapa pun kita mendapatkan nasihat, ambil dan bersyukurlah, berarti masih berada dalam rahmatNya.
–Atifah Saleha
(7)
Mereka yang bersyukur adalah mereka yang membuka nikmat-Nya, sehingga bukan hanya dia yang merasakan. Mereka yang di sekelilingnya pun mendapatkan curahan anugerah-Nya.
Orang yang bersyukur itu memaknai sukses dengan mensuksekan orang lain. Jika ia kaya ia ikut mengkayakan orang lain, jika ia cerdas ia pun cerdas bersama sahabat sahabatnya.
Kemampuan bersyukur adalah limpahan dari-Nya yang di mulai dari yang sedikit. Nabi saw. bersabda ” Siapa yang tidak bersyukur atas sedikitnya nikmat maka banyaknya, ia tidak akan bersyukur.“
Siapa yang tidak pandai berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak akan mampu bersyukur kepada-Nya. .
–Nunun_Nurlaila
(8)
“Allahumma inni as-aluka nafsan bika muthma-innah, tu’minu biliqo-ika wa tardho bi qodho-ika wataqna’u bi ‘atho-ika.”
Artinya, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu jiwa yang merasa tenang kepada-Mu yang yakin akan bertemu dengan-Mu, yang ridha dengan ketetapan-Mu dan yang merasa cukup dengan pemberian-Mu.” (HR Thabrani).
–Carolina Destika
(9)
“Terkadang kita suka lupa kodrat kita sebagai manusia. Beribadah hanya untuk sekedar dipuji saja. Kebohongan dan kehaluan seolah menjadi hal yang biasa. Sadarlah, bahwa apapun yang kita lakukan atas nama Allah, maka sejatinya kita harus merendah seperti sujud dan meninggikan pinta seperti langit.”
–Hellen Patraliza
(10)
Lupa adalah sifat manusia hanya Allah Swt. yang tidak pernah lupa. Namun tahukah? terkadang lupa dibutuhkan untuk memperoleh sebuah kebahagiaan.
Percayalah! Lupakan hal-hal buruk yang menimpa diri. Lupakan orang-orang yang telah membuat sakit hati. Lupakan beban hidup yang kian menghimpit setip hari semua itu akan membantu memberikan peluang bahagia sejati.
Ingat, ada Allah tempat tak terbatas harap, Ingat, hidupmu tidak sesempit dunia yang kau ratap. Ingat, dunia hanya sekejap.
–Ifah Latifah

(11)
Nabi Muhammad saw bersabda, “Apabila kamu melewati taman-taman surga, minumlah hingga puas.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud taman-taman surga itu?” Nabi saw menjawab, “Majelis-majelis ilmu.” (HR, attabrani)
Ramadhan saatnya bagi kita untuk menuntut ilmu dan mengikuti banyak majelis ilmu. Semoga setelah Ramadan kita tetap istiqamah menghadirkan majlis-majlis ilmu.
–Nur Pujiasih
(12)
Jadilah sosok pemberani yang berhati teguh dan berjiwa yang kuat. Anda memiliki semangat dan tekad jangan sekali-sekali termakan oleh rumor dan carita-carita yang tidak benar.
Jadilah orang dermawan sembab orang yang dermawan hatinya akan selalu lapang dan jiwanya luas sedangkan orang yang pelit hatinya pengap dan nuraninya kotor. Tersenyum pada siapa saja, niscaya Anda akan mendapatkan cinta kasih mereka, rendahkan hati dan haluskan tutur kata, mereka akan mencintai dan menghormatimu. (La Tahsan 2021)
–Warlinah
(13)
Seseorang yang benar-benar berilmu, akan bersikap rendah hati. Alam selalu menghindari yang namanya kesombongan karena paham bahwa luasnya ilmu ibarat lautan yang berbatas.
“Dan tidaklah kamu sekalian diberi ilmu kecuali hanya sedikit.” (QS. Al-Isra’ :85)
Tauladan rendah hati di antara ulama mengatakan, “Setiap kali waktu bertambah, setiap kali itu pula aku merasa akalku berkurang. Atau aku merasa bertambah ilmuku karena bertambahnya kebodohanku.” (Imam Syafi’i)
–Puspa Mufazam
(14)
Jangan menyimpan kebencian pada orang lain karena sesungguhnya yang sedang kau dzalimi bukanlah orang yang kau benci, melainkan dirimu sendiri.
Rasa benci diibaratkan bau busuk. Apakah kau senang menyimpan bau busuk itu dalam hatimu dan membawanya ke mana pun kau pergi?
–Eli Halimah
(15)
“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap rahmat (Allah) dan (kedatangan hari kiamat dengan banyak mengingat-Nya.” (QS. Al-Ahzab : 21)
Dari arti surah di atas kita sebagai ummat-Nya tentunya harus meyakini betul bahwa satu-satunya jalan untuk selamat dunia dan akhirat, dengan mengikuti sunnah Nabi Muhammad saw.
–Dede Nurjanah
(16)
Hanya para nabi yang terbebas dari kesalahan, kita makhluk lemah yang sangat mudah tergoda oleh bujuk rayu dan bisikan syaitan.
Allah membuka selebar-lebarnya pintu ampunan bagi orang yang menyadari kesalahannya. Ramadan merupakan waktu yang sangat istimewa, karenanya mari kita perbanyak memohon ampunan Allah. Bukankah Allah telah berfirman, “Katakanlah ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar 53)
–Leni Cahya
(17)
Jika kebaikan yang kita berikan tidak mendapat balas, jangan risau karena sekecil apapun kebaikan akan mendapat imbalannya.
Seperti pesan Allah Swt yang artinya, “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah : 7)
(18)
“Harta yang kita miliki hakekatnya milik Allah, hamba-Nya tidaklah memiliki apa-apa. Harta kita yang sesungguhnya adalah yang dibelanjakan di jalan Allah Swt.“
–Dwi Handayanti
(19)
Adakalanya kita enggan ketika gundah meliputi hati.
“Kenapa sih aku harus gundah?”
Bahkan kita menolak dan mengusirnya. Menghindarinya dengan menyibukkan diri melakukan berbagai hal.
Sayang sekali, bisa jadi ketika melakukan demikian, kita gagal belajar. Ada yang penting yang harus kita terima dari rasa yang mewarnai hati.
Jika gundah gulana datang menyapamu, terimalah dengan rela.
Sambut dan tanyalah padanya: Apa pesan cinta dari-Nya yang dia bawa?
Mungkin dia hendak mengingatkan diri yang tergelincir untuk kembali menjemput bening nurani.
–Ida Nur Laila
(20)
Dzikir adalah kebutuhan hidup mukmin yang sangat asasi. Tanpa dzikir sesungguhnya tidak akan ada kehidupan.
Ibnul Qayyim pernah mendengar gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
الذكر للقلب مثل الماء للسمك فكيف يكون حال السمك إذا فارق الماء ؟
“Dzikir pada hati semisal air yang dibutuhkan ikan. Lihatlah apa yang terjadi jika ikan tersebut lepas dari air?”
Jika hidupmu gelisah penuh masalah, jangan-jangan engkau seperti ikan yang lepas dari air. Maka berdzikirlah.
–Cahyadi Takariawan

Terima kasih pesan kebaikannya,makprekeposemua, makbunda Ida dan ustdz Cahyadi Takariawan syukran katsira.