.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“The one thing that has kept me true to my path as a writer has been determination to overcome my self-doubt” –Margo Kelly
.
Dalam dunia kepenulisan, seorang penulis senior sekalipun akan pernah mengalami keraguan. Bukan hanya penulis pemula yang baru saja selesai mengikuti kelas menulis dan tengah belajar membuat karya, bahkan para penulis yang sudah memiliki banyak karya bisa terserang rasa ragu.
Keraguan bisa muncul dari banyak kondisi dan situasi. Misalnya, ragu akan validitas data yang didapatkan, ragu akan ketepatan dalam menganalisa suatu peristiwa, ragu dalam mengembangkan konflik padaplot cerita, atau keraguan-keraguan lainnya. Bagi penulis pemula, mungkin mereka akan ragu tentang apakah tulisannya layak dipublikasikan atau tidak.
“Anda tahu Neil Gaiman?” tanya Ruthanne Reid. “Bukankah Gaiman adalah salah satu penulis paling terkenal saat ini? Dia menulis buku untuk orang dewasa, anak-anak, dan untuk semua kalangan. Dia telah membuat novel grafis, skrip untuk film dan televisi, dan memenangkan begitu banyak penghargaan –di antaranya, empat penghargaan Hugo, dua penghargaan Nebula, medali Newberry, enam penghargaan Locus, dan banyak lagi”.
“Seharusnya sangat jelas bahwa dia adalah penulis yang benar-benar baik, bukan? Ternyata keraguan masih menghantuinya”, lanjut Reid. Penulis sekelas Neil Gaiman juga masih mengalami serangan keraguan. Ruthanne Reid ingin menunjukkan kepada kita, tidak perlu khawatir jika merasakan keraguan saat menulis.
Mengatasi Keraguan Menulis
“The question I often ask myself comes from a Tim McGraw song, ‘How Bad Do You Want It?’ I can hear his voice singing the words in my head. Sometimes I play the song before a writing session. If I’m going to achieve my writing goals, my tenacity must be greater than my skepticism” –Margo Kelly
Keraguan adalah hal yang wajar saja dalam proses menulis. Sebagian dari keraguan itu bahkan baik dan positif. Misalnya, karena muncul keraguan maka seorang penulis melakukan validasi terhadap data dan analisa yang telah dilakukan. Dengan cara ini maka tulisannya menjadi lebih berbobot.
Catatan penting terutama bagi penulis pemula, keraguan jangan sampai dijadikan alasan untuk tidak menulis. Sebab tidak mungkin kita meragukan segala sesuatu kecuali para penganut skeptisisme. Dalam hidup ini, pasti ada hal-hal yang kita yakini. Tanpa ada keyakinan sepertinya kita tidak akan bisa menjalani kehidupan.
Mungkin kita ragu apakah air yang kita minum sepenuhnya sehat. Namun kita pasti meyakini dalam kadar tertentu, bahwa air yang kita minum masih aman dikonsumsi, tidak akan sampai level mematikan. Mungkin kita ragu tentang suatu analisa, namun kita bisa melihat sisi lain atau analisa lain yang membuat kita yakin.
Maka cara mengatasi keraguan menulis adalah dengan cara terus menulis. Margo Kelly, penulis buku Unloced menyatakan, “Satu hal yang membuat saya tetap setia pada jalan saya sebagai penulis adalah tekad untuk mengatasi keraguan diri saya”. Jika Anda berhenti menulis karena diserang keraguan, selamanya Anda tidak akan bisa menyelesaikan tulisan.
Kelly tidak membiarkan dirinya terombang-ambing dalam keraguan. “Pertanyaan yang sering saya tanyakan pada diri sendiri berasal dari lagu Tim McGraw, ‘How Bad Do You Want It?’”, ujar Kelly. “Saya dapat mendengar suaranya menyanyikan kata-kata itu di kepala saya. Terkadang saya memutar lagu sebelum sesi menulis,” lanjutnya.
Belajar dari munculnya keraguan yang bisa sewaktu-waktu menyerang dirinya, Kelly bertekad untuk memperbesar keuletan diri. “Jika ingin mencapai tujuan menulis, keuletan saya harus lebih besar dari skeptisisme saya,” ungkap Kelly.
Terus Berjuang Mengatasi Keraguan
“With each novel I’ve written, there’s always a moment when I doubt my ability to finish the story, which is when I remind myself that I’ve been down this odiferous creek many times before and so far have always managed to find a paddle. So I plan to keep on paddling, for as long as I have the desire and strength to write” –Daryl Anderson
Penulis produktif selalu punya cara untuk terus menerus menulis, meskipun mereka juga terkadang mengalami serangan keraguan. Para penulis ini terus berjuang mengatasi keraguan yang muncul dengan cara masing-masing. Hingga mereka mampu menyelesaikan sebuah karya tulis dengan sukses.
Daryl Anderson penulis buku Death at Chine Rose menceritakan pengalamannya menghadapi keraguan. “Dalam setiap novel yang saya tulis”, ujarnya, “selalu ada momen di mana saya meragukan kemampuan saya untuk menyelesaikan cerita”. Rupa-rupanya keraguan adalah hal yang bisa menjumpai siapa saja tanpa terkecuali.
Bagaimana Daryl Anderson mengatasi keraguan yang menyerangnya di tengah proses menulis novel? “Saya mengingatkan diri sendiri bahwa saya sudah berkali-kali menyusuri sungai berbau busuk ini, dan sejauh ini selalu berhasil menemukan dayung”, ujar Daryl. Kendati ia merasakan kesulitan namun selalu ada jalan keluar yang berhasil ditempuh.
”Terus mendayung di tengah sungai keruh dan beraroma busuk”, kira-kira demikian perjuangan yang harus dilakukannya. “Jadi saya berencana untuk terus mendayung, selama saya memiliki keinginan dan kekuatan untuk menulis,” ungkap Daryl. Spirit dan daya tahan untuk terus menciptakan karya, membuat Daryl bisa mencapai tujuan di seberang.
“Dear God, I am so discouraged about my work. I have the feeling of discouragement that is. I realize I don’t know what I realize. Please help me dear God to be a good writer and to get something else accepted” –Flannery O’Connor.
Flannery O’Connor, penulis buku Everything That Rises Must Converge dan puluhan lainnya, mengatasi keraguan menulis dengan berdoa. “Ya Tuhan, saya sangat putus asa dengan pekerjaan saya. Saya memiliki perasaan putus asa itu. Saya sadar saya tidak tahu apa yang saya sadari. Tolong bantu saya Tuhan, untuk menjadi penulis yang baik dan untuk mendapatkan sesuatu yang diterima”.
Bagaimana dengan Anda? Selamat menulis.
Bahan Bacaan
Good Reads, Writing Inspiration Quotes, https://www.goodreads.com, diakses 19 April 2022.
Ruthanne Reid, The Ugly Truth About Self-Doubt as a Writer, https://thewritepractice.com, diakses 19 April 2022.

Hindari keraguan. Raih keuletan dalam menulis kebaikan, sampai jiwa menulis tak bisa diabaikan. Menulis adalah sesuatu yang cukup berat di mulai, namun jika sudah terbangun habitnya menjadi sulit untuk dihentikan. Menulis penuh warna dan cinta. Syukran katsira ustadz Cahyadi Takariawan.