19 September 2026

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

“We write not just to change the world, but to create a new world. And with each new world, new possibilities” –Joe Bunting, 2022.

.

Menulis itu bukanlah sekedar aktivitas menyusun huruf, kata dan kalimat. Bukan sekedar kepandaian menyusun paragraf. Bukan sekedar kepiawaian memilih diksi. Jika menulis hanya untuk hal-hal teknis itu, dipastikan akan sangat membosankan.

Apa yang membuat daya tahan menulis? Mengapa banyak penulis dunia tetap produktif menulis hingga usia tua bahkan hingga akhir hayat mereka? Pasti mereka memiliki alasan “why” –mengapa aku menulis? Untuk apa dan untuk siapa aku menulis?

Menemukan alasan paling dalam –paling hakiki– dari menulis, akan memberikan spirit sangat kuat untuk terus menulis. Itulah mengapa banyak penulis bertahan terus menulis meski tidak bergelimang harta dan popularitas. Itulah mengapa banyakpenulis ntetap berkarya meskipun tak banyak orang mengenal karyanya.

Alasan Subjektif : Untuk Eksistensi Sendiri

George Orwell says one motivation to write is sheer egoism, that we write out of the ‘desire to seem clever, to be talked about, to be remembered after death, to get your own back on the grown-ups who snubbed you in childhood, etc, etc.’” –Joe Bunting, 2022.

Sebagian penulis mengakui bahwa alasan menulis bagi dirinya terkait dengan kebutuhan eksistensi diri. Ada sebagian orang yang merasa tidak pernah didengar, tidak pernah diperhatikan, tidak pernah dihargai, tidak pernah diakui. Dengan menulis, ia mendapatkan hal-hal itu.

Ada sebagian orang yang merasa sering dilecehkan, sering direndahkan, sering diejek. Mereka ini merasa kalah dan terkalahkan. Melalui tulisan, mereka bisa ‘membalas’ rasa sakit hati itu. Mereka bisa merasakan kemenangan. Mereka merasa eksistensi dirinya menjadi hadir dan diakui.

Ini yang diungkapkan oleh George Orwell, penulis buku Why I Write dan puluhan lainnya. Ia pernah menyatakan, salah satu motivasi untuk menulis adalah egoisme belaka. Ia menyebut sebagai “keinginan untuk terlihat pintar, untuk dibicarakan banyak orang, untuk diingat setelah kematian, untuk menunjukkan jatidiri Anda dari terhadap orang yang pernah menghina Anda di masa kanak-kanak, dll dll.”

Motivasi subjektif seperti ini bisa memberikan spirit bagi sebagian penulis yang memiliki latar belakang tertentu. Mereka merasa mendapatkan eksistensi diri yang utuh melalui menulis.

Menulis Untuk Kehidupan

The arts especially address the idea of aesthetic experience. An aesthetic experience is one in which your senses are operating at their peak; when you’re present in the current moment; when you’re resonating with the excitement of this thing that you’re experiencing; when you are fully alive” –Ken Robinson.

Salah satu alasan mendasar mengapa dan untuk apa menulis, adalah untuk kehidupan. “We write to be fully alive”, ujar Joe Bunting (2022). Kita menulis untuk merasakan sepenuhnya hidup, demikian menurut Joe Bunting. Selanjutnya Bunting mengutip pernyataan Ken Robinson, penulis buku Out of Our Minds, Learning to be Creative dan puluhan buku motivasi lainnya.

“Seni, utamanya membahas gagasan dari pengalaman estetis. Pengalaman estetis adalah pengalaman di mana indra Anda bekerja pada puncaknya. Ketika Anda hadir di momen saat ini; ketika Anda beresonansi dengan kegembiraan dari hal yang Anda alami ini; ketika Anda benar-benar hidup”, ujar Ken Robinson.

Penulis sudah menemukan makna terpenting dalam kegiatan menulis. Ia menemukan bahwa menulis memberikan pengalaman estetis yang indah. Dengan pengalaman estetis itulah ia menemukan kebahagiaan yang tak ia temukan kecuali dengan jalan menulis. Spirit menulis yang sangat kuat, ketika kegiatan menulis telah menemukan alasan yang sangat mendalam.

Menulis untuk Perubahan

The psychiatrist Victor Frankl posited that the main search of mankind is not happiness or pleasure but meaning. “Life is never made unbearable by circumstances, but only by lack of meaning and purpose,” he wrote in Man’s Search for Meaning –Joe Bunting, 2022.

Bagi sebagian penulis, alasan yang paling mendasar adalah menciptakan perubahan. Dengan adanya perubahan, akan hadir pula peluang dan harapan baru. “Kita menulis bukan hanya untuk mengubah dunia, tetapi untuk menciptakan dunia baru”, ujar Joe Bunting. Dengan hadirnya dunia baru, akan hadir pula peluang dan kesempatan baru.

Alasan perubahan adalah sangat kuat dan ideologis. Bukan sekedar iseng. Bukan sekedar mengisi waktu luang. Bukan sekedar eksistensi diri. Banyak penulis menanam harapan akan kondisi yang lebih baik di masa yang akan datang. Mereka memiliki spirit untuk menciptakan perubahan melalui tulisan.

Psikiater Victor Frankl mengemukakan bahwa pencarian utama umat manusia bukanlah kebahagiaan atau kesenangan, tetapi makna. “Hidup tidak akan terkalahkan oleh keadaan, tetapi hanya karena kurangnya makna dan tujuan,” ungkap Frankl dalam buku Man’s Search for Meaning.

Makna, inilah yang dimiliki oleh para penulis produktif. Mereka telah sampai kepada puncak makna. Maka mereka tak lelah menulis, meski tidak mendapat sambutan gegap gempita.

Bahan Bacaan

Joe Bunting, Why Do We Write? 4 Key Reasons Why Telling and Sharing Stories Matters, https://thewritepractice.com

1 thought on “Menjaga Spirit Menulis – 12  

  1. Dengan terus menulis membuat kita tenang, dan tumbuh rasa ingin belajar dan belajar. Menghargai karya Penulis siapa pun. Masih banyak lagi kelebihan atau kemanfaatan lainnya. Syukran katsira ustadz Cahyadi Takariawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *