19 September 2026

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“For me, writing is like breathing. I could not live without breathing and I could not live without writing” –Pablo Neruda.

.

Pelatihan paling penting untuk mahir menulis adalah menciptakan habit menulis harian. Jika Anda berhasil membiasakan diri menulis setiap hari, Anda akan merasakan keasyikan menulis. Di sisi lain, ketrampilan menulis juga akan meningkat setahap demi setahap. Tanpa terasa, Anda akan sampai di titik mahir.

Apalagi jika Anda telah berhasil menemukan makna terdalam dan terpenting dari aktivitas menulis, Anda akan mencintai menulis. Di titik ini, Anda tak akan bisa dilarang menulis. Demikian pula apabila Anda telah berhasil menemukan tujuan tertinggi dari menulis, Anda akan terus menerus menulis, di manapun Anda berada.

Pada saatnya, Anda akan berhasil menemukan kesejiwaan dalam aktivitas menulis. Pada saat itulah menulis telah menjadi napas hidup Anda. Seperti yang diungkapkan oleh Pablo Neruda, “Bagi saya, menulis itu seperti bernapas.”

“Saya tidak bisa hidup kalau tak bernapas, dan saya tidak bisa hidup kalau tak menulis,” lanjutnya dalam wawancara bersama Jurnal Paris Review yang terbit 1971. Neruda adalah penyair produktif kelahiran Chili. Nama aslinya adalah Ricardo Fliecer Reyes Basoalto. Di antara karya besarnya adalah Veinte Poemas de Amor, Selected Poems of Pablo Neruda, Love Poems, dan Cien Sonetos de Amor.

Produktif Menulis di Tengah Sakit

Menulis sudah menjadi jiwa bagi budayawan Kuntowijoyo (1943 – 2005). Pada awal 1992 dirinya mengalami sakit, terkena meningoencephalitis. Penyakit ini membuatnya tidak bisa beraktivitas. Namun penyakit ganas itu tak membuat Kuntowijoyo berhenti menulis.

Menulis telah menjadi aliran darah dan denyut nadinya. Menulis telah menjadi napas hidupnya, maka penyakit tak bisa menghentikan semangat untuk menulis. Di tengah sakit, Kuntowijoyo justru sangat produktif menulis.

Dalam kondisi sulit bergerak, ia menulis hanya dengan menggunakan satu jari saja, yaitu jari telunjuk kanan. Itupun dilakukan dengan sangat pelan-pelan. Mengetikkan huruf demi huruf dengan satu jari. Ia berhasil menyelesaikan beberapa kisah yang ditulis dimasa sakit. Tak ada yang bisa menghentikannya menulis, bahkan penyakit ganas sekalipun.

Demikian pula, menulis telah menjadi napas bagi Dahlan Iskan. Setiap hari ia selalu menulis –tentang tema apapun. Sejak bercerita pengalaman perjalanan hingga perkembangan dunia paling mutakhir. Ia banyak menulis di blog pribadinya, Di’sway (https://www.disway.id).

Komitmen Dahlan Iskan, sebuah tulisan harus terbit pada jam 05.00 WIB setiap pagi. Alasannya, karena jam 05.00 pagi adalah waktu ideal bagi masyarakat untuk memulai aktivitas di hari baru. Maka Dahlan terus menerus menulis, bahkan saat tengah sakit dan dirawat di rumah sakit.

Dahlan Iskan mampu menginspirasi ribuan orang untuk tegar menghadapi sakit. Ketika dirawat di rumah sakit, ia mengedukasi masyarakat melalui tulisan di twitter. “Kalau ada yang bertanya Dahlan kemana beberapa bulan ini? Saya dirawat di salah satu RS karena menderita Aorta Disssection yang mengancam ke kematian dan sekarang saya menjadi manusia setengah Bionic,” ungkapnya via akun @iskan_dahlan.

Tradisi Ulama Terdahulu

Di masa terdahulu, sangat banyak ulama yang menjadikan aktivitas menulis sebagai ibadah yang menghanyutkan. Imam Al-Khatib Al-Baghdadi meriwayatkan dalam kitab Al-Jami’ li Akhlaqir Rawi bahwa Ubaid bin Yaisy berkata, ”Selama 30 tahun aku makan tidak memakai tangan sendiri. Saudari perempuanku yang menyuapkan makanan ke mulutku sementara aku sibuk menulis hadits.”

Keasyikan menulis, membuatnya tak punya waktu untuk makan. Sayang kalau waktu terbuang untuk makan.

Ibnu Suhnun, ulama hadits, memiliki pengalaman yang sama. Al-Qadhi Iyadh mencatat dalam kitab Tartibul Madarik bahwa setelah selesai menulis hadits menjelang Subuh, Ibnu Suhnun menyuruh pembantunya menyediakan makanan karena ia merasa lapar. “Syeikh, Anda kan sudah makan barusan? Saya tadi menyuapkan makanan saat Anda sedang sibuk menulis”, kata sang pembantu.

Ibnu Suhnun terheran lalu berkata,”Tapi saya tadi tidak merasakannya.” Menulis membuatnya terhanyut, sampai tidak sadar bahwa telah disuap makan oleh pembantunya.

Bahkan, Anda Tak Akan Sanggup Menghentikannya

Jika Anda telah menemukan getaran jiwa dalam setiap aktivitas menulis, artinya Anda telah menjiwainya. Anda telah masuk dalam dunia menulis. Selamat datang di dunia para penulis.

Anda akan terus menerus menulis, tanpa ada yang menyuruh, tanpa ada yang mengharuskan –bahkan oleh diri Anda sendiri. Sampai suatu ketika Anda tidak bisa berhenti menulis. Anda tak bisa menghentikan diri sendiri untuk menulis.

“Kenapa saya menulis? Saya menulis karena saya tidak bisa tidak melakukannya”, ujar Bernard Batubara. “Saya sudah pernah mencoba berhenti menulis. Dengan sangat menyesal saya harus bilang bahwa bahkan untuk yang satu ini pun saya gagal”.

“Setiap kali saya memalingkan wajah ke hal-hal lain yang lebih bikin saya bahagia, lebih tidak bikin saya cemas, setiap kali itu pula saya seperti ditarik kembali ke depan layar laptop, handphone, buku catatan, untuk menulis apa yang saya alami, pikirkan, pertanyakan. Saya ingin tidak menulis, tapi saya tidak bisa,” ungkap Bernard.

Selamat berkarya. Tekunlah menulis, teruslah berkarya. Suatu hari nanti, menulis akan menjadi napas Anda.

Bahan Bacaan

Bernard Batubara, Kenapa Mau Jadi Penulis? www.medium.com, 28 Agustus 2018

Khun, Heartbeat Style, Menulis Patah-patah ala Dahlan Iskan, https://ceritakhun.com, 23 November 2019

Poetry Foundation, Pablo Neruda, https://www.poetryfoundation.org

Wan Anwar, Kuntowijoyo: Karya dan Dunianya, Grasindo, Jakarta, 2007

1 thought on “Menjaga Spirit Menulis – 11

  1. Menulis jika di tekuni dan sudah menjadi habit membuat kita tidak bisa lepas dari kebiasaan baik itu. Sudah mengakar, menyatu masuk ke dalam kalbu. Rohnya menulis sudah muncul. Menulis menjadi nafas hidupnya. Syukran katsira ustadz Cahyadi Takariawan atas motivasi dan inspirasinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *